Di tepi trotoar, di tengah malam….

Semalam aku bertemu dengannya. Entah sudah berapa purnama, sejak aku terakhir bertukar sapa dengannya. Dia masih tetap seperti itu. Belum berubah. Mungkin hanya selembar baju “baby doll” yang disambung dengan celana jeans berwarna biru muda itu yang baru kali ini kulihat. Alkohol yang ditenggak sama seperti terakhir aku bertemu, Absolut Vodka. Minuman keras favoritnya. Yang dari awal menggemari arak hingga sekarang pensiun menenggaknya, belum pernah sekalipun aku mencicipi. Mahal!

Di selasar swalayan mini itu dia duduk di lantai. Masih tergelak bersama karibnya sebelum mendatangi aku. Genggaman jabatan tangannya masih juga ringan, seringan bulu angsa yang tanggal sehelai. Tangannya yang putih ditumbuhi bulu-bulu hitam. Bibirnya yang tak bergincu itu belum berubah warnanya, merah jambu. Hanya sedikit menghitam, terlalu banyak menghisap sigaret. Bulu mata yang terjajar rapi, memayungi tatapannya yang sayu dan mulai memerah. Berdirinya sedikit sempoyongan, kakinya yang jenjang tidak jejak menghujam lantai selasar. Tubuhnya yang mungil itu seakan ingin terbang ditiup si angin malam.

Ada ruang kosong di tepi trotoar, di depan angkringan itu, agak jauh dari kebisingan. Kami duduk disana. Sementara dia langsung menyandarkan punggungnya di tiang listrik. Di tangannya sebotol vodka mahal yang tersisa seperempat penuh. Di teguknya sedikit-sedikit, hingga menyisakan tetesan-tetesan tak berarti. Dia lalu menyulut sebatang sigaret. Tak berapa lama terbatuk-batuk. Batuk yang ringan dan halus.

“Masih saja seperti ini, selalu aku yang memecah kebisuan”, dia berkata dengan nada sedikit kesal. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

Di jalan raya ini, sesekali pengendara motor melaju kencang menembus angin malam. Pengonthel sepeda berjalan perlahan, pedalnya berdecit tiap habis satu putaran. Lama, sebelum akhirnya dia menghilang di telan gelap malam.

“Kau masih ingat, rahasia-rahasia kecil yang selalu aku bisikkan perlahan di telingamu?”, dia berkata pelan. Aku menjawab, “Masih. Ada beberapa yang aku ingat”. Terdiam sejenak,“Lainnya, kurasa aku perlu membuka lembaran-lembaran ingatan lagi”.

“Baguslah kalau begitu. Masih ada ruang untuk kujejali dengan rahasia”, dihisap dalam-dalam sigaretnya. Lalu dilempar dan diinjak di aspal. Lalu menyulut sebatang yang masih baru. Dia selalu seperti ini saat bercengkerama. Membicarakan sesuatu yang akan selalu menjadi rahasia-rahasia. Yang pada akhirnya akan tuntas ditelan waktu.

“Sudah berapa lama kau berganti merk sigaret?”, aku bertanya. Kuambil sebatang sigaret yang masih terjepit oleh bibirnya. Lalu aku menghisapnya dalam-dalam. Tercium aroma alkohol. Rasanya dingin, seperti balsam. Sedikit pahit tercampur vodka yang menempel. Direbutnya kembali seigaret itu dari jemariku.

Sambil bersandar dia memandangku lama. Aku melihat tatapannya dari sudut mataku yang sebelah kanan. Dihembuskannya asap rokok ke arahku. Dia tertawa, lalu terdiam kembali.

“Apa menurutmu aku pantas untuk jatuh cinta?”, dia bertanya.

“Menurutmu sendiri macam mana?”, aku menimpali sekenanya.

“Entah, aku hanya merasa diriku tidak berhak untuk mencintai”

“Apa MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk itu?”, dia hanya terdiam. Tatapannya masih tertuju padaku. Kali ini aku balas memandangnya. Kulihat butiran-butiran air kecil menetes satu-persatu dari pelupuk mata.

“Tolong hapus air mataku ini, tanganku kotor”, dia memohon.

Air matanya masih saja meleleh. Beberapa sudah jatuh ke aspal, membentuk bercak-bercak hitam. Aku menyeka jejak-jejak air yang masih basah dan membekas dari mata hingga ke batas dagunya. Matanya terpejam, nafasnya yang dingin menyapu telapak tanganku.

“Sebuah pemikiran yang bodoh”, kataku.

Dia menangis tersedu kali ini. Orang-orang di angkringan melihat kami. Aku jadi agak rikuh juga, salah-salah bisa dikira yang tidak-tidak.

“Apa nasibku memang sesial ini?”, katanya lirih dan terbata-bata.

“Nasib bukan milik siapa-siapa, nasib hanya milikmu sendiri”.

“Sombong sekali dirimu berkata seperti itu”, nadanya sedikit meninggi.

“Tidak! aku hanya mencoba menjadi seorang realis”.

“Apa menurutmu diriku selama ini mencoba berlari dari kenyataan?”

Aku tidak menjawab, hanya membakar sebatang rokok menthol miliknya. Tatapannya semakin berkaca-kaca. Sejurus kemudian dia mencoba berdiri untuk kemudian terjatuh lagi.

“Duduklah dulu. Malam masih panjang. Burung-burung malam belum lagi pulang ke sarangnya”, aku menenangkannya. Dia terdiam kali ini, lama. Kusodorkan rokokku yang baru separuh terbakar itu padanya. Dia menggeleng.

“Tidak, tenggorokanku sudah mengering”, ujarnya.

“Semoga tidak dengan hatimu”.

“Masih belum akan mengering hatiku. Selama masih akan tercipta peristiwa-peristiwa yang akan menjadi rahasia antara aku dan kamu”, dia memaksa berdiri kali ini, sambil tangannya berpegangan pada tiang listrik. Perlahan tertatih-tatih dia berjalan ke arahku. Lalu menaruh kening di pundak kiriku dan berbisik lirih.

“Satu pertanyaan terakhir sebelum kau beranjak dari sini”,

Aku terdiam…..

“Sudah sekotor inikah diriku di mata orang?”.

Aku masih saja diam. Hanya kuraih kedua lengannya, dan kutegakkan berdirinya. Kuseka lagi bercak-bercak air matanya yang basah sebelum aku berhenti membantunya berdiri.

“Kurasa kotoran itu ibaratnya debu. Hanya sepintas lalu. Datang dan pergi, berganti-ganti. Dan semua orang pasti akan dihinggapi oleh si debu”, jawabku.

Kujabat tangannya dan kami berambus, melanjutkan sisa malam. Telepon bimbitku bergetar tanpa nada. Ada pesan singkat yang masuk. Terbaca di layar itu “Terima Kasih”.

4 – 7 – 2009

Di Sela Pergantian (Hari Bagian III)

(Bagian III : Awal Sebuah Permulaan…)

Jarang sekali aku memulai tulisan dengan perana disore hari. Tapi, hei, kali in memang tidak seperti biasanya. Seperti tubuh yang mulai digerogoti insom akut. Belum lagi nikotin yang merasuk lewat asap menthol, seperti salvo meriam Si Jagur.

Belakangan ini, secangkir kopi pahit mulai berkawan karib dengan cacing-cacing dalam perut. Tak heran jika mereka juga mulai hobi begadang. Menemani mata yang sukar terpejam. Seringnya sampai muadzin masjid sebelah rumah mengumandangkan adzan Subuh. Sudahlah, aku sedang tidak berniat bercerita keabsurdan. Kali ini akan kututurkan sebuah dongeng yang bukan fiksi. Sebuah ihwal yang pada akhirnya membuat cacing-cacing perut protes. Tidak jarang mereka berdemonstrasi, menentang kebijakan makan sehari sekali. Yang buntutnya mulai jadi kebiasaan.

Mari kita mulai…..

Orang-orang ramai menapaki tangga. Satu persatu, dua berdua, tiga bertiga, mereka muncul dari belokan yang menyambung anak tangga. Dari yang perlente macam eksekutif muda, sampai yang mirip gelandangan pinggir jalan. Semua komplit. Beragam barang pula yang mereka tenteng di tangan. Dari rokok sebatang yang tinggal separuh, hingga yang membawa buku notes kecil. Malah membuatnya terlihat mirip Doraemon simpan pinjam (dalam bahasa jawa, jamak disebut bank thithil).

Ah, dari bawah sudah kudengar sayup-sayup suara canda tawa . Dan tidak salah lagi, memang itu adalah suaramu. Tidak ada di dunia ini yang bernada seperti itu. Satu-satunya yang memiliki suara beroktaf tinggi di lantai tiga gedung ini. Sesuatu yang semoga bisa kamu banggakan. Selain sebagai yang tercantik di kelas bukan? Aih, sungguh sayang saat dirimu melewatiku. Diriku terlalu takut untuk dapat menyambutmu dengan tatapan mata. Dan ya ampun, betapa tololnya aku melewatkan momen indah itu.

Ada tiga alasan mengapa diriku bersemangat mengikuti kelas Selasa sore ini. Pertama tentunya mudah untuk dipahami, dan tak perlu kuperinci. Karena kamu! Satu-satunya kesempatan dimana diriku bisa berada dekat dengan dirimu lebih dari hitungan menit. Ya, di dalam kelas itu.

Sebelum bicara tentang alasan kedua, ada baiknya kita sedikit bernostalgia. Tentunya kita tahu tentang petasan. Dari berbagai jenisnya, yang unik adalah petasan cina. Yang kalau disulut tali apinya, benda itu meletup tak henti-hentinya. Mirip berondongan mitraliur AK-47. Dan bukan kebetulan, jika petasan ini bentuknya pun mirip pelor senapan serbu kebanggaan si Beruang Merah.

Tidak beda jauh petasan cina itu dengan dosen yang mengajar sore ini. Sedikit dipancing, maka dia akan berbicara tak keruan panjangnya. Tapi dibalik itu, aku bisa menyerap banyak-banyak ilmu dari berondongan kata-katanya yang kadang bikin kewalahan. Walau tak jarang aku harus membuka Tesaurus, mencari banyak arti kata yang tak kupahami. Yah, itulah alasan kedua.

Yang terakhir, juga alasan utama mengapa hari ini sangat distingtif. Sudah tak ada gunanya aku berlama-lama menyimpan kata itu. Tidak perlu seorang pakar semiotika untuk dapat membaca kesempatanku yang teramat tipis. Hei, setidaknya aku sampai juga di titik nadir ini bukan? Titik dimana selama ini aku selalu bergidik, meskipun sekadar membayangkannya.

Maaf, di kelas aku sedikit curi-curi pandang padamu. Karena hanya itulah caraku menumpuk keberanian. Oi, aku tidak mengada-ada. Memang seperti ini kenyataannya. Selalu berkeringat dingin saat berhadap-hadapan denganmu. Tidak jauh beda, saat akhirnya kesempatan itu datang. Ketika aku berdua-duaan denganmu.

Semua kejenakaan yang timbul dari segala kecanggunganku. Membuatku sedikit lega. Setidaknya, benak ini perlahan-lahan memperoleh kesadarannya kembali. Dan perlahan-lahan keringat dingin tersapu angin yang berhembus kencang di tepian pagar beton. Tempat dirimu bersandar, dan saat aku berusaha sekuat tenaga menatapmu. Dan perlahan, terbata-bata, kata itu akhirnya terucap.

Terima kasih, El. Setidaknya kau sedikit mengerti seberapa berartinya dirimu bagiku. Aku bersyukur, awal dari sebuah permulaan ini, kutapaki saat jalanku bertumbukan dengan jalan hidupmu. Saat aku mulai menjauhi masa seperempat abad.

Terima Kasih…..

Di Sela Pergantian Hari (Bagian II)

(Bagian II : Putaran Waktu)

Sudah dua hari dan dua malam berlalu sejak aku bertemu denganmu. Masih tetap saja sama. Bumi masih terus berputar, walau sedikit merasa lelah. Hujan masih terus mendera permukaan tanah. Angin bertiup kesana-kemari semaunya. Begitu pula manusia di sekitarku. Seorang-seorang mereka datang, lalu pergi sekehendak hati. Beda halnya dengan perasaan rindu ini. Sial! dia tak pernah mau pergi.

Coba ceritakan padaku, El, seperti apa kota mungil tempat asalmu itu? Seperti apa senja disana. Adakah lembayung menghiasi cakrawala senja seperti di pantai waktu dulu itu? Saat pertama kalinya wajahmu selalu menghantui benak kalut ini. Apakah pinus-pinus yang menjulang tinggi itu masih berjajaran di sepanjang tebing di pinggiran kota? Seperti yang aku lihat saat terakhir melintas, membelah kota Magelang.

Apa yang kau lakukan disana? Di sela-sela perputaran waktu. Saat jam berganti jam dan menit berlalu disambung menit berikutnya. Diantara pergantian detik yang ditandai oleh jarum jam panjang itu.

Dan saat kau terlelap di malam hari. Saat cahaya si rembulan menghiasi genting-genting diatas kamar tidurmu. Saat jengkerik-jengkerik malam melantunkan lagu tidur. Saat kunang-kunang menyinari dinding-dinding kamar. Saat ramai jalanan yang tiba-tiba berubah menjadi senyap. Apa dirimu masih merasakan putaran waktu yang semakin menua ini?

Baru sadar, sudah seminggu belakangan ini aku terjangkit insomnia akut. Kadang kala membuatku lupa, berapa bungkus sigaret menthol ini habis kuhisap. Berkilo- kilometer jalanan Yogya yang kutempuh menghabiskan malam.

Dari pagi yang cerah, ke pagi berikutnya. Dari temaram malam, ke malam berikutnya. Entah sampai berapa putaran waktu yang terlewati. Akan kutemukan keberanian itu. Sebelum kau semakin menjauh dari diriku. Sebelum nanti aku akan menyesali ketakutanku.

Secepatnya…..

I guess you’ve heard, I guess you know
In time I’d have told you, but I guess I’m too slow.
It’s overly romantic but I know that it’s real
I hope you don’t you mind if I say what I feel.
It’s like I’m in somebody else’s dream,
This could not be happening to me.

[Chorus:]
But you were there, and you were
everything I’d never seen.
You woke me up from this long and endless sleep.
I was alone.
I opened my eyes and you were there.

Don’t be alarmed, no don’t be concerned.
I don’t want to change things
leave them just as they were.
I mean nothing’s really different
It’s me who feel strange.
I’m always lost for words when
someone mentions your name.
I know that I’ll get over this for sure
I’m not the type who dreams there could be more.

Can I take your smile home with me,
or the magic in your hair?

The rain has stopped, the storm has passed
Look at all the colors now the sun’s here at last.
I suppose that you’ll be leaving but I want you to know
Part of you stays with me even after you go.
Like an actor playing someone else’s scene
This could not be happening to me.

You Were There. Composed & Performed by : Southern Sons

Di Sela Pergantian Hari (Bagian I)

(bagian I : Sisa Kepak Bidadari)

Hari sudah berganti nama lagi. Dan selalu saat semua manusia terlelap dibuai mimpi-mimpinya. Menggantungkan kenyataan, menyerahkan diri pada ilusi kuasi yang ditabur oleh dewa-dewi malam. Mendung tipis sisa hujan menyelimuti langit. Diatas sana, di selatan gugus Perseus dan Auriga, tampak Taurus sedang duduk termenung.

Langit sesorean tadi menangis. Satu bidadari terjatuh ke bumi. Diiringi tetesan air hujan dan gelegar petir. Kupido sudah terlalu dalam menusuk afeksi bidadari malang itu. Serpihan-serpihan sayapnya jatuh berderai dihembus angin kencang. Hatinya yang rapuh itu retak, pendar-pendar sinarnya pun mulai meredup.

Dia tersedu sendirian malam ini. Merajut sisa-sisa kepaknya. Sesekali dia mencoba terbang kembali ke langit. Melompat kesana kemari, merintih lirih menahan sembilu. Tangannya terangkat keatas, berusaha menggapai langit nun jauh disana.

Dia melangkah perlahan. Tatapannya nanar, matanya yang memerah basah mencoba menatap menembus gulita malam. Luh-nya menetes, meninggalkan jejak-jejak di antara genangan air. Kunang-kunang menyala seperti lampion mungil berjajar. Menerangi ayunan layu kakinya yang terbata-bata. Sementara tangannya terus memeluk dada, mencoba memberi kehangatan pada hatinya yang semakin dingin.

Di langit sana, pelan terdengar gelak tawa para dewa. Ketawa-ketiwi renyah sekumpulan bidadari yang genit. Dayang-dayang menari, meliuk menghibur dewa-dewa. Venus si dewi cintapun malam ini hanyut dalam gemerlapnya keramaian. Semua mabuk oleh anggur Dionisius.

Sekali ini dia mencoba untuk terbang lagi. Sekumpulan rama-rama yang iba mencoba mengiring kepakan sayap . Kali ini dia mencoba menggapai bintangnya. Bintang yang sedianya akan dipersembahkan si Kupido padanya. Dan bintang itupun kini tak bernama.

Yes, you know inside
When it’s time to shed a tear
Know in your heart and believe it
Love is standing near

Yes, you know inside
Only time will see ya clear
Know in your heart and believe it
Love is standing near

Love Is Standing Near. Performed & Composed by : Night Ranger

Seekor Merpati Putih Yang terbang Di Malam Hari

Malam mulai beranjak tua. Tik-tok-tik-tok,bunyi jam dinding itu. Terus berputar tak mengenal henti, seperti kereta tanpa tujuan pasti. Kedai masih setengah penuh, di ujung pintu masuk orang ramai bergerombol bermain kartu, tak lupa menenggak sebotol arak. Dari sepasang speaker di atas kasir sayup-sayup terdengar lantunan “Hysteria” dari Def Leppard. Sesekali suara tawa serak dari pemain-pemain kartu mengganggu irama lagu. Dia menyandarkan kepalanya yang terbungkus kupluk ke ujung atas sofa, sembari menghisap sebatang sigaret tanpa filternya dalam-dalam.

Sepatah-sepatah dia bercerita mengenai putaran kisah asmaranya. Tak lupa, secangkir kopi kental, pekat dan hangat dia teguk, menyempil diantara waktu saat dia bercerita. “Sudah seminggu ini aku sengaja tidak meminum kopi”, begitu katanya. Lagu berganti lagu, orang datang dan pergi, dan waktu tetap saja berjalan dengan asyiknya. Hingga saat tinggal kami berdua dan tiga orang penjaga kedai yang tersisa disitu. Tak terasa sudah sepiring nasi dan mie goreng, segelas es teh pahit, segelas kopi, dua gelas air putih dan empat bungkus kacang bawang kami lahap. Semua habis di sela-sela perbincangan dan gurauan-gurauan ringan namun bermakna malam ini.

Usai dari kedai itu, kami berdua melaju berboncengan diatas motor bebek tua dengan ban belakang yang agak kempis menahan berat badan. Yogyakarta di waktu pertiga malam itu teramat sepi, dan jalananpun lengang. Manusia-manusia malam merangkak ke dalam hangatnya selimut, perempuan-perempuan jalang mulai kembali ke peraduan, sedang si mucikari sedang sibuk menghitung pendapatan hari ini. Kecoak-kecoak, tikus-tikus got, semua berhamburan keluar menggantikan hiruk-pikuk kehidupan manusia. “Dunia mulai dipenuhi hingar-bingar jeritan manusia. Tapi sungguh indah sekali malam ini”, begitu kataku padanya. Dia terdiam di belakang, menahan kantuk.

Roda motor bebek tua itu masih terus berputar, tapi tidak terlalu kencang. Sungguh sayang jika malam ini hanya dilewatkan begitu saja, pikirku. Semua memori akan masa lalu, sekilas berkelebat satu-persatu. Bagaikan sebuah adegan film yang belum usai, mengambang dibuai oleh rapuhnya waktu. “Aku membayangkan, apa yang akan aku ucapkan saat aku berada di Madison Square Garden”, katanya saat kami tengah membelah kesunyian Malioboro.

Tidak usainya kita berdua malam itu menangisi masa lalu, bersama mencoba berdiri untuk hari ini, dan tak lupa sedikit berkhayal tentang masa depan. Dia, ya hanya dia malam ini yang menemaniku. Saat aku mencoba menata serpihan hati yang hancur berkeping dihantam kejamnya dewa-dewi malam. Dia yang keadaan hatinya tidak jauh berbeda dengan hatiku. Meskipun kami tidak pernah berbagi darah dalam sebuah pertarungan. Dia yang orang biasa panggil dengan sebutan Jampest, adalah seorang kompanyon, seorang kawan, juga seorang sahabat.

Seekor burung merpati putih tampak terbang diatas perempatan tugu. Gelapnya malam sudah hampir pudar disingkirkan sinar syamsu. Kami masih terus melaju, memacu motor bebek tua. Menembus nakalnya angin malam yang menusuk menembus tubuh. Terus dan terus berpacu ke arah sinar sang syamsu.

Don’t get too discouraged in this life,
It’s just a game, for now we play.
And soon or later things can work out right
This you must know, just wait and see
And after everything is said and done,
This can be another battle we have won.

Battle We Have Won. Composed & Performed by Eric Johnson

Malam Pergantian Bulan

Malam ini bulan sudah berganti nama. Tepat jam dua belas, saat dentang-dentang lonceng mulai bernada. Tak lupa sekawanan jengkerik ikut bernyanyi berisik, mengkerik-kerik saling menyahut satu dengan lainnya. Si tokek pun seakan tak ingin kalah, dua belas kali dia memanggil-manggil namanya. Sayup-sayup aku mendengar kegaduhan semesta dari atas sini, diantara genting-genting yang ditumbuhi lumut, disini pula aku merebahkan diri mengiringi pergantian bulan.

Hei, tidak biasanya malam secerah sekarang ini. Hanya sedikit awan abu-abu yang menggantung di cakrawala hitam itu. Dan gemintang berkelip lentik, tersipu malu, disapuh awan yang tipis. Tunggu dulu, masih ada gugus bintang utara yang bersinar gagah di atas sana itu. Masing-masing berjajar rapi membentuk suatu pola yang indah. Apakah dari gugus itu juga, dewa-dewi malam turun ke bumi? Membagikan imaji yang tersaji dalam mimpi setiap manusia.

Kemarilah sejenak kalian hai dewa-dewi malam. Genting-genting lapuk masih cukup kuat jika hanya untuk menampung tubuh tak nyata kalian. Berceritalah padaku, bagaimana imaji-imaji mimpi itu tercipta. Maaf, aku tidak bisa menjamu kalian dengan segelas, apalagi sebotol arak. Tapi jika berminat, masih tersisa beberapa tetes air mata untuk kalian jilati. Eh, bukankah itu sajian favorit kalian.

Mimpi, ya terkadang siluetnya sungguh indah, pun menghanyutkan. Tak sungkan untuk membawa harapan kita terbang ke awang-awang. Aih, sungguh kejamnya kalian, hai dewa-dewi malam. Hendak kalian bawa kemana seluruh perasaan ini. Dan jika saja kalian hendak membawanya terbang, kumohon jangan terlalu tinggi. Sakit rasanya jika tiba saatnya untuk terjatuh lalu hancur berkeping-keping. Dan tentunya akan sulit bagiku untuk memungut, mengumpulkan serpihan-serpihan hati ini.

Tunggu sejenak, biarkan aku bertanya sebelum kalian pergi. Apakah yang sedang menjadi mimpinya di malam pergantian bulan ini?

it´s all because I love you
i´ve got so much to prove
it´s all because I love you
no matter what you do
and if we´re not together
well I´ll always be your friend
Uh huh That´s right baby,
cause it´s all about the love
yes it´s all about the love…
that I have for you

Beacuse I Love You. Composed & Performed by : T.N.T

Hujan Sehari Kemarin

Tidak seperti biasanya, mendung masih menggantung sedari kemarin sore. Pun pagi ini. awan-awan hitam itu masih menggantung diatas sana. Jalanan masih dibasahi sisa air hujan sehari yang lalu. Kerikil-kerikil kecil yang berserakan sepanjang jalan itu warnanya pun masih hitam. Bukan air embun pagi yang menghitamkan warna batu yang biasanya kelabu itu. Tapi masih juga air hujan sehari kemarin. Dan sepeda ini masih kukayuh melaju menelusuri jalanan penuh lubang dan lumpur.

Aku masih teringat kata-kata yang diucapkan dari lidah si orang-orang bijak, kejarlah cita-cita itu setinggi apapun, sejauh apapun dan sesulit apapun. Tidak ada artinya jika dirimu menjadi seorang lelaki jika tidak mampu menuntaskan tekad yang sudah tertanam di hati. Tidak berarti pula jika seorang lelaki hanya mampu menahan pahitnya sebotol arak, tetapi dia tidak berani mencicipi getirnya kenyataan. Dan gigi-gigi yang tanggal karena pertarungan, perkelahian, semua itu tidak berarti apa-apa. Kulit-kulit yang tergores benda-benda tajam, itu hanya luka sementara yang pada akhirnya akan kusesali juga. Semua itu ibarat sebuah khayalan akan keberanian semata.

Oi, sungguh indahnya dirimu sore itu. Seandainya saja langit sore itu tidak digulung oleh mendung gulita. Tentunya cakrawala yang berwarna lazuardi akan merelakan dirinya kujadikan kanvas. Kulukiskan garis-garis siluet keindahan dirimu. Dan tak lupa kutuliskan semua alasan, mengapa diriku begitu inginnya berbagi hati dengan dirimu.

Tapi setidaknya, beri aku sedikit kesempatan untuk dapat menyelesaikan apa yang sudah kumulai ini. Jangan biarkan aku mengayuh langkah ini tanpa arti. Sebelum dirimu melangkah lebih jauh lagi. Sebelum kamu berlari menggapai apa yang sedang kau kejar saat ini. Juga sebelum kamu bahagia bersama dia. Aih, sungguh beruntungnya lelaki yang sedang kau cintai saat ini.

Saving my heart for you – You do what you want to do
There’s a place in my heart for you – This time I’m watching you
Till the blood in my veins run dry – I’ll be there to testify
There’s a place in my heart for you…

Saving My Heart, Composed by: Trevor Rabin, Performed by: YES.

Surat Untuk Mama

Aku duduk di pelataran boardes kereta kelas bisnis itu. Suara gemeretak roda-roda baja sepur tidak pernah berhenti bersahutan sebelum masinis mengurangi kecepatan laju si kuda besi penenggak solar ini. Sebatang sigaret dengan filter masih menyempil di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah. Langit masih cerah sore itu, merahnya lembayung masih belum membahana di cakrawala sebelah barat.

Mama, aku masih ingat percakapan kita berbulan-bulan lalu. Kau meminta aku untuk pulang ke rumah. Katamu Kau sudah rindu dengan semua anak-anakmu. Maaf ma, aku baru bisa memenuhi permintaan mu sekarang ini. Kau tahu Ma, seperti kata orang, seorang lelaki sudah sepantasnya didewasakan di tengah liarnya kehidupan. Konon itulah yang membuat seorang Lelaki menjadi bijaksana.

Sejauh kaki ini melangkah, Ma, setiap jejak yang dibuatnya, setiap waktu yang hilang di injak kaki ini, setiap masa pula diriku melangkah semakin jauh darimu. Semua ibarat remedi untuk kerinduanku pada hangat pangkuan dan pelukanmu. Kau tahu Ma, detak jantung ini berdebar semakin kencang setiap saat diriku melangkah jauh meninggalkan ribaanmu.

Selama ini terlampau banyak perbedaan pandangan antara kita Ma. Tapi entah mengapa kau selalu berusaha untuk mengerti jalan pikiranku yang sudah terlampau rumit, bahkan untuk kupahami sendiri. Aku bisa saja salah Ma, tapi juga kadang aku bisa benar. Semua itu sangat nisbi untuk dapat kita mengerti. Dan tetap saja aku selalu menjadi penyebab dirimu menitikkan air mata. Tapi Ma, kau juga terkadang membuatku menangis. Berada jauh dari hangatnya hatimu Ma, ternyata sungguh sakit rasanya. Dan ini sudah terlampau lama.

Waktu terus berubah, dan waktu sungguh aneh Ma. Terus berputar, sementara manusia kelelahan mengikuti laju langkahnya. Setiap saat aku menjadi dewasa. Sudah ratusan bahkan ribuan kali pula kulihat wajahmu Mama. Semua menjadi semakin nyata di mataku.

Tanpa terasa langit di ujung barat mulai berubah menjadi merah jingga. Suara Adzan Maghrib mulai bersahutan dari setiap langgar di sepanjang jalur kereta ini. Kubayangkan dirimu saat ini sedang membasuh diri dengan air wudhu lalu sibuk membuka lipatan-lipatan rukuh putih berorak kembang-kembang kesayanganmu. Apa yang sedang kau doakan kali ini Ma?

Kereta masih melaju perlahan. Aku pulang Ma.

Hard To Find The Words

Mama sometimes I feel inside
There’s nothing I can say
Nothing I can do
Could ever match the love you gave
You taught me how to live
Told me walk before you run
And you were always there to pick me up
Everytime I’d have a fall

And mama I know there’s been times
When I didn’t always understrand
By and by we do some growing up
And it makes just a little more sense
But sometimes it’s hard to find the words
But I’ll do the best that I can
Thank you for the love mama
It’s what made this boy a man

I know the road’s been long
And I know you’ve seen some rain
Making the best of what we had
I never heard you complain
When I look in the mirror today
Wondering could I be as strong
Could I give as much to someone else
As you gave to your son

Composed & Performed by: Cinderella

Catatan kecil untuk Dee

Guratan-guratan karat menghiasi hampir seluruh permukaan mesin-mesin di pabrik gula itu. Sudut-sudut tembok kusamnya mulai di tumbuhi rumput benggala, tak luput pula pagar yang hampir roboh dirambatinya. Semua tampak rapuh dimakan umur yang semakin hari semakin menipis. Hanya sebuah cerobong yang menjulang diterpa cahaya lembayung senja tampak kokoh, seakan menolak mengikuti waktu.

Kau ingat Dee, setiap saat diriku dulu beranjangsana ke kediamanmu, bersenda gurau bertukar senyuman. Berdua duduk di teras menanti datangnya malam, menyambut bintang gemintang tanpa mencoba untuk menghitung jumlahnya. Sejauh mata kita memandang, hanya cerobong tua itu yang menghalangi pandangan. Dan baru kali ini aku kesampaian memandang dan menjamah dindingya yang retak dan lusuh.

Seandainya aku mampu, akan kuabadikan semua di waktu itu. Kurangkum menjadi sebuah reminisensi, tentang satu episode kecil dalam hidupku yang dapat terselesaikan. Walaupun hingga sekarang aku tidak mengerti apakah itu sebuah akhir yang menyenangkan? Apakah menyedihkan? Atau bahkan malah terlalu biasa untuk dapat menghantui ingatanku dan ingatanmu.

Lembayung mulai meredup dan hampir berubah menjadi kelam. Kurasa sudah saatnya aku beranjak dari tempat yang semakin hari semakin menua ini.

We’ve been apart a long time, it feels like years
the memories bring tears
good times, I think of all the good times
to keep my sanity ’til I get home
I know it’s not how we planned it, it’s crazy world out there
just hold on to the words we share
I’ll only be lonely for you
I’ll only be lonely for you
remember as life goes by, what we have will never die
I’ll always be waiting there for you
how long, it doesn’t matter how long
cause time can never take you from my soul – no

(Only Be Lonely: Composed by : Jeff Waters, Performed by: Annihilator)

Epilog Sebuah Episode Kecil

Hai, selamat pagi. Indah bukan hari ini? Syamsu masih bersinar gagah, walau kadang di selimuti mendung perubahan musim. Tapi bukan wajahmu kan, yang dilukiskan awan putih di langit itu? tentu bukan. Tidak mungkin rasanya mega mampu melukiskan parasmu. Terlalu indah, atau bahkan mungkin terlampau tidak jelas. Hilang ingatankah aku, Rie? kurang mengerti diriku. Tapi satu yang kupahami, aku tidak pernah lupa.
Ingatanku ini bukan sesuatu yang sudah arkaik. Tapi sudah terlampau banyak hal yang menumpuk dan tak terselesaikan di dalamnya. Sampai-sampai mulai usang, atau bahkan berkarat. Semua peristiwa terjajar tak teratur, bagaikan fragmen-fragmen dalam suatu telenovela murahan yang tak ber-epilog. Karena siapa semua ini terjadi? tentu saja diriku. Dan belakangan aku mahfum, bukan hal yang mudah untuk men-defragmentasi ulang ingatan ini.
Pernah kucoba untuk memangkas saja semua penggalan-penggalan ingatan itu. Kubuang jauh-jauh dari petak-petak memori. Tapi perlahan aku mulai merasa hampa. Dunia seperti suatu bilangan yang tak bernilai. Dan ternyata aku merindukan semuanya yang selalu membebani. Apakah diriku tidak pernah menyukai suatu kehampaan? Mungkin diriku terlalu takut? Bukankah kehidupan ini dimulai dan diakhiri dengan kehampaan? Apa bukan diriku sendiri yang menciptakan suatu kehampaan?
Dan bagaimana kebodohan-kebodohan macam itu bisa tumbuh? Tentunya karena kehampaan itu tadi, rie. Dan kurasa bukan diriku saja yang mencintai kehampaan. Semua manusia menggemarinya,rie. Manusia memuja kehampaan seperti mereka memuja keburukannya masing-masing. Semuanya takut untuk mencari kebenaran, karena terlalu berat untuk ditanggung resikonya. Kebenaran itu selalu menggoda, rie. Tapi tak jarang, kebenaran juga yang mengembalikan manusia pada kehampaan.
Itulah mengapa tidak ada seorang pun di dunia ini, yang berani menyatakan dirinya sebagai manusia super sang pembela kebenaran. Mengapa justru yang muncul hanyalah pembela kebetulan. Dan seandainyapun mereka membela kebenaran, mengapa mereka tidak memilih untuk membela yang tidak benar? Mengapa mereka tidak memilih suatu ketidakpastian untuk dibela? Mengapa mereka tidak mencoba mempertemukan pertanyaan dengan tanda tanya?
Seorang pemikir hebat pernah berkata, kita tidak berkeberatan terhadap suatu penilaian karena penilaian itu salah. Memang benar seperti itulah kenyataan di dunia ini. Seandainyapun salah tentunya akan banyak manusia yang kaya-raya dan berkecukupan hidupnya akan membunuh dirinya sendiri. Lagi-lagi kita terbentur pada kenyataan bahwa kita hidup dalam dunia fiksi yang logis.
Dunia ini adalah sebuah kisah yang sudah berumur jutaan tahun. Begitu panjang rentang yang di lalui seluruh penghuninya. Tapi tidak ada satupun yang mampu memahami seluruh kisah yang terguritkan oleh pena sejarah. Bagaimanapun indahnya prosa-prosa yang tercipta dari logika manusia itu. Karena setiap manusia-manusia muda akan selalu merasa bahwa dunia ini adalah hal baru baginya.
Entah aku menyadarinya atau tidak, sepotong-sepotong fundamen dari pikiran ini mulai tumbang. Beriring dengan tumbuhnya ion-ion dari fondasi haluan yang aktual. Tapi tidak seperti itu dengan sebuah afeksi. Karena hingga saat ini belum kutemukan sesuatu yang mampu membunuh afeksi, yang belakangan mulai terasa berkarat. Dewa-dewa pun, kurasa tidak memiliki kepiawaian untuk menyingkirkan suatu afeksi hanya dengan sekejapan mata saja.
Kurasa hati membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan suatu keadaan. Dan andai saja manusia tidak memiliki ego, tentunya akan menjadi mudah baginya untuk beradaptasi. Dan andai saja manusia tidak menghamba pada ego, tentu saja proses evolusi di dunia ini akan berjalan dengan singkat. Tapi tentu saja manusia tidak akan lengkap jika tidak memiliki ego bukan?
Tanpa itu semua, tentunya aku tidak akan pernah berani untuk mencoba mengakhiri sepenggal episode kecil ini. Sebelum terjebak dalam suatu labirin tanpa akhir. Hingga akhirnya diriku diperbudak oleh kehampaan yang diciptakan oleh diriku sendiri. Dan bukan seperti ini sebenarnya epilog yang kuimpikan, rie. Tapi rupanya ego juga yang menghalangi langkah itu kan, rie? Dan untuk fragmen berikutnya, rie, Semoga masih ada nukilan yang tersedia untuk membenahi jalan cerita ini.

I’ve been waiting, goin’ crazy
I can’t sleep when I know you’re not around
I’ve been saving what you’re cravin’
Look at my face I’m about to replace
Every hurt, every tear that you cry

Cause when you feel this strong and you can’t go on
There’s nothing wrong, just try to realize

You won’t ever have to say goodbye
You won’t ever have to say “I’ve wasted all my time”
If the dream you dream ain’t what it seems
Just look into my eyes
You won’t ever have to say goodbye

(Goodbye; Composed & Performed By Def Leppard)