Aku masih tetap saja suka menyusuri aspal yang dingin dibalut udara keringnya sore. Saat langit tampak lapang, selapang dinding-dinding tua yang berjajar hampir di sepanjang jalanan kota Yogyakarta. Saat kendaraan bermotor berlalu lalang dan membuat debu beterbangan, berlagak seolah jalan adalah hutan dimana yang cepat dia yang menang.
Langit yang cerah itu masih tetap menjadi kanvasku. Terkadang aku masih suka melukiskan wajahmu di langit senja yang menguning. Menata awan sehingga dia membentuk siluet rambutmu yang panjang sebahu. Menggeser matahari sehingga pipimu nampak seakan merah jambu.
Biar kemarin-kemarin dia sering kubiarkan kosong atau setidaknya mendung mencurinya dariku. Dan kali ini aku lebih mawas diri. Rona langit yang sekuning hamparan gandum, tak akan membuatku terperosok lagi ke dalam selokan.
Ah, aku hampir saja terlupa sudah seberapa jauh roda sepeda menggelinding menyusuri aspal yang dingin, sedingin dedaunan kering yang terkapar lemas. Andai saja aku tak tersipu malu ditatap bayanganmu. Tanpa setau waktu aku tiba-tiba berhenti, duduk kelelahan di pinggir sungai diatas sebuah batu yang dengan congkaknya menahan laju air yang mengalir.
Me, and you.
God only knows it’s noz what we would choose to do.
(Us & Them, Composed by: Roger Waters & Richard Wright, Performed by: Pink Floyd)