Sudah dua malam terakhir saya terjaga sampai adzan subuh. Mencoba menyusun kata demi kata, sebuah kegiatan yang beberapa tahun terakhir saya tinggalkan. Saya bahkan tidak mampu menyelesaikan lebih dari dua paragraf, biar itu hanya sekadar tafsir sederhana dari hari yang belum sepenuhnya terlampaui. Apalagi menterjemahkan sikapmu yang berbolak-balik, ibarat sedang mencoba membaca arah angin musim kemarau yang naga-naganya mulai datang.
Sudah dua minggu berlalu, sejak terakhir mendung kedapatan rajin mencuri matahari. Salah satu hal yang saya sangat tidak suka sama sekali. Ya, saya terkadang benci ketika terbangun di pagi yang seharusnya secerah suara Sara Bareilles ketika menyanyikan “Uncharted”, alih-alih mendapati jendela berwarna abu-abu. Hei, bahkan saya juga sama sekali tidak menyukai warna abu-abu. Tidak ada satu hal yang bisa saya tafsir, bahkan jika saya harus memandanginya seharian penuh.
Sudah hampir enam bulan berjalan sejak saya menembus batas ketidaktahuan. Sebuah perasaan yang menurut hemat saya sederhana saja. sesederhana ketika angin meniup daun-daun kering, yang memang sudah saatnya berpisah dari tangkai. Sesederhana ketika seseorang bertanya pada diri sendiri, “apakah saya sedang jatuh cinta?”.
Sudah satu tahun lebih tiga bulan dari ingatan saya yang kabur dan susah pulang. Entah siapa yang berani mencurinya. Yang jelas dia lebih berani daripada diri saya, yang sampai saat ini tidak punya nyali untuk mencoba mencuri hatimu. Atau bahkan hanya sekadar melontarkan kata-kata gombal bin gambul seperti (alm.) Benyamin Sueb melontarkan rayuan di lagu “Hujan Gerimis”.
Ya, sudah satu jam belakangan saya kebingungan. Bingung mencari kemana perginya nyali saya.
I’m already out of foolproof ideas, so don’t ask me how to get started, It’s all uncharted, (Uncharted, Sara Bareilles)