Arak Abangan

Februari 27, 2007

Bapak

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 5:35 pm

Bapak adalah tipe seorang pekerja keras. Penuh ambisi. Mungkin itu sudah keturunan dari keluarganya di Banjarmasin sana. Konon dulu, katanya bapakku yang merupakan anak pertama, sering diajak oleh ayahnya yang seorang polisi untuk berburu macan. Biasanya mereka suka masuk kampung dan meninggalkan habitat aslinya untuk mencari makan. Pernah juga diajak memburu seorang residivis yang melarikan diri ke hutan belakang kampung Bapak. Pertama kali itu pula Bapakku merasakan memegang bedil karbin warisan sekutu. Entah bagaimana kelanjutannya aku tidak tahu, dia tidak pernah melanjutkan ceritanya. Dan yang jelas dia adalah seorang islam yang puritan. Sampai sekarangpun dia masih rajin ke masjid kampung kami yang berada di tengah kota. Kota yang terkenal dengan pabrik rokoknya. Pabrik yang menghidupi sebagian besar pekerja di kota ini. Saat sore jam pulang kerja, jalan-jalan di kota ini selalu dipenuhi oleh ibu-ibu yang menaiki sepeda jengki merk phoenix yang rata – rata berwarna biru tua. Bisa dipastikan mereka adalah pekerja di pabrik rokok tersebut. Tapi pertama kali aku merasakan nikmatnya rokok justru bukan produk dari pabrik tersebut. Terlalu mahal untuk anak kelas tiga SD yang sedang ingin mencicipi rokok untuk pertama kalinya.

Sore itu aku lihat Bapak & Ibu sedang berbicara di depan toko. Aku menghampiri mereka dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Ibu. Dari pembicaraan mereka aku tahu bahwa besok Bapak akan pergi ke Surabaya untuk kulakan. Memang biasanya saat akan menjelang bulan puasa toko kami banyak diserbu pelanggan yang ingin membeli peralatan muslim baru untuk dipakai saat lebaran nanti. Pernah sekali aku diajak oleh Bapak kulakan di Surabaya. Dan untuk pertama kalinya aku melihat sebuah pasar yang sangat besar dan penuh sesak. Orang – orang yang berlalu – lalang, kuli – kuli yang sedang mengangkut beban sebesar lemari, pedagang – pedagang yang berebut pelanggan, dan juga para koki sedang memasak masakan di warung – warung yang terletak di pinggiran sebelah luar pasar itu. Selesai kulakan Bapak biasanya membeli oleh – oleh lumpia basah khas pasar tersebut. Tapi karena itu adalah pertama kalinya aku ikut Bapak kulakan, dia mengajakku ke sebuah toko yang penuh berisi mainan dan menyuruhku untuk memilih salah satu. Aku memilih salah satu mainan berupa miniatur G.I Joe yang bisa digerakkan seluruh bagian tubuhnya. Entah berapa uang yang dikeluarkan Bapak untuk membeli mainan itu, yang jelas aku senang sekali. Selesai membeli mainan kami menuju ke depan pasar ke tempat mangkal angguna. Begitu banyak angguna yang mangkal di tempat itu, sampai jalan dibuat macet karena tidak teraturnya penataan parkir di tempat itu. Setelah mendapat harga yang cocok kami bergegas ke terminal. Selama perjalanan aku melihat berbagai macam gedung tinggi yang menghiasi pusat kota tersebut. Di perempatan angguna berhenti karena lampu merah, dan setelah lampu hijau kami masih belum bisa beranjak dari tempat itu karena jalanan penuh dengan kendaraan. Entah darimana datangnya, tiba – tiba ada sebuah mobil sedan warna hitam mengkilap berhenti di sebelah kiri angguna kami. Aku melihat ke dalam mobil tersebut, disana ada seorang pengemudi bertampang sangar. Di kursi belakang duduk seorang gadis berparas ayu yang kira – kira sebaya denganku sedang memeluk tas ransel yang berwarna biru muda. Aku terus memandanginya sampai akhirnya angguna mulai berjalan dan dia melaju dengan mobilnya lalu hilang ditelan kerumunan kendaraan. Tatapannya yang tadi diarahkan sekejap padaku sampai saat ini tak pernah aku lupa. Sampai di terminal setelah bapak membayar ongkos angguna, kami segera mencari tempat duduk kosong yang cukup untuk menampung kami berdua dan barang belanjaan Bapak. Karena kota kami tidak dilewati jalur utama yang membelah pulau jawa bagian timur, kami terpaksa menunggu. Bis yang langsung menuju kesana tidak banyak jumlahnya. Sambil menunggu bapak berkata dia ingin membelikanku benda yang sering dibicarakan oleh teman – temanku di sekolah. Benda yang kata mereka bisa membuat kamar menjadi sejuk atau bahkan sampai kedinginan. Teman – teman menyebutnya AC, begitu juga bapak. Setelah itu bapak menyuruh aku tinggal dan menunggu barang – barang hasil kulakan sementara dia pergi mencari AC tadi. Aku duduk di bangku kayu berwarna coklat kusam yang besinya sudah berkarat sambil memegangi barang belanjaan. Melihat orang – orang yang berlalu – lalang didepanku, segerombolan orang berwajah sangar dengan tangan yang dihiasi gambar dan tulisan yang tidak jelas. Aku cemas. Tapi agak lega juga setelah lima menit kemudian aku melihat bapak datang dari kejauhan sambil membawa tas kresek warna hitam. Aku senang. Bapak langsung duduk di sebelah kananku dan menyerahkan tas kresek berwarna hitam berisi bungkusan koran. Aku membukanya setelah meminta ijin pada Bapak. Setelah terbuka aku melihat benda berbentuk oval terbuat dari anyaman bambu dengan lukisan bunga terpampang di tengah – tengahnya dan di bawahnya ada pegangan dari kayu. Aku bertanya pada bapak, apakah benar ini mirip kipas hadiah dari pernikahan yang dia hadiri bersama ibu. Dia tersenyum, dan hanya berkata “mungkin hari ini bapak baru bisa membelikan ini, tapi kalau ada rejeki akan bapak belikan yang aslinya”. Dia mengusap rambutku lalu memelukku, hangat. Bis yang kami nanti akhirnya menampakkan wujudnya yang kumuh itu. Kami bergegas menaikinya, dan langsung menuju ke bagian sebelah belakang bis itu. Aku takut duduk di bagian depan bis yang gemar melaju kencang seperti alap – alap itu. Saat bis melewati daerah mojokerto Bapak sempat membeli onde – onde ceplus untuk Ibu di rumah. Ibu sangat menyukai makanan berbentuk bulat kecil seperti bola dengan wijen tertempel di sekelilingnya itu. Selebihnya selama perjalanan aku banyak tidur di pangkuan Bapak. Kadang sedikit terkejut karena bis suka mengerem secara mendadak. Tapi aku tetap merasa aman karena berada di pelukan bapak membuat aku nyaman.

Sesampainya bis di terminal aku dan Bapak menuju ke tempat penitipan sepeda. Di sana sepeda gunung warna hitam yang sudah agak berdebu karena seharian ditinggal tak terawat menanti dengan setia. Bapak duduk diatas sadel sambil mengayuh sepeda, sedangkan aku duduk di atas setang-nya. Barang belanjaan kami taruh di antara aku dan Bapak. Aku dan Bapak sangat menyayangi sepeda itu, karena satu – satunya alat transportasi yang kami punyai saat itu hanyalah sepeda warna hitam itu. Sepanjang perjalanan, di atas setang sepeda aku menceritakan pengalaman selama di Surabaya tadi kepada Bapak sampai akhirnya kami tiba di depan rumah. Malam itu Bapak langsung mendata barang belanjaan tadi dibantu oleh Ibu, biasanya sampai subuh datang. Aku di kamar langsung tertidur pulas karena terlalu capek untuk menemani mereka. Aku tak sabar untuk menceritakan pada kawan – kawan di sekolah tentang pengalamanku hari ini, dan juga tak sabar untuk memamerkan mainan baruku pada mereka. Dan bayangan gadis dalam mobil hitam tadi tetap tak bisa hilang, meskipun kesadaranku sudah hilang ditelan mimpi.

Iklan

2 Komentar »

  1. ayu suka ceritanya .bagus

    Komentar oleh ayu — September 24, 2007 @ 2:23 pm |Balas

  2. Buat ayu` yang sudah komentar di tulisan saya ini, saya mengucapkan terima kasih sebanyak – banyaknya….. Anda adalah orang selain teman saya yang mengomentari tulisan saya….hehehehe Thanks banyak…

    Ditunggu saran & kritikan selanjutnya…

    Komentar oleh arakabangan — September 27, 2007 @ 5:54 pm |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: