Arak Abangan

April 30, 2007

Sepenggalan kisah dari rumah

Filed under: arak — by arakabangan @ 6:59 pm

Hari masih siang bolong, udara agak panas, kering dan gerah. Ruangan itu sempit dan pengap, penuh peluh di tubuh. Gitar elektrik warna putih merk ibanez itu rasanya semakin berat. Tapi untung hanya dua lagu saja yang aku rekam hari ini. Satu sangat terinspirasi oleh UDO Dirckschneider, satu lagi terinspirasi oleh Motorhead. Agak kencang. Adikku tampak bersemangat menggempur drum set-nya mengikuti iringan gitar yang kumainkan. Meskipun kami berbeda, dia relijius & aku sama sekali tidak, toh musik tetaplah agama kami yang sesungguhnya. Mungkin kalau diibaratkan seperti Idris Muhammad berkolaborasi dengan Kerry King memainkan musik Heavy Metal. Agak aneh mungkin, kami sama – sama menggilai YES, ASIA & Marillion tapi memainkan musik Heavy Metal.

Sesi rekaman hampir selesai, hanya tersisa track bass guitar yang belum kami isi. Aku mengaso sambil mengipasi muka dengan selembar karton bekas. Sebatang rokok kubakar. Selesai shalat adikku duduk di samping. Dia mengutak – atik double bass pedal-nya, sambil sesekali mengusir asap rokokku yang dibawa angin ke wajahnya. Dia tidak suka merokok dan membenci asap rokok. Kami sesekali berbicara, mendiskusikan tentang lagu yang akan direkam kemudian. Sampai akhirnya ada sedikit perdebatan tentang siapa yang akan mengisi vokal di lagu – lagu kami. Belum lagi lirik yang aku tulis, semua selalu bertentangan dengan nuraninya. Mungkin kami sama – sama dapat warisan sifat keras dari bapak, sehingga sering berdebat berseberangan pendapat. Akhirnya semua berhenti saat operator rekaman yang juga kawan dekat, memberi tahu bahwa semua sudah siap untuk merekam. Kami semua masuk.

Matahari sudah miring ke barat saat kami menyelesaikan sesi rekaman kali ini. Udara sudah tidak sepanas siang tadi. Agak sejuk. Kami mengepak semua peralatan dan kutaruh di jok motor. Selesai membayar uang rekaman kami berlalu meninggalkan studio itu. Di rumah selesai mandi kami berkumpul bersama keluarga. Kami berbincang dan ada sedikit tawa yang keluar, meskipun Bapak masih marah padaku. Selepas adzan maghrib mereka shalat berjamaah. Aku keluar memacu motor menuju depan kantor telkom bersama kawan – kawan menikmati berliter – liter arak abangan. Merayakan malam….

Rebel In The F.D.G.
(W.A.S.P.)

I live my life like
A shot in the wind
If tomorrow don’t come I know
I stole me share of fun for me
Cause I’m too fast, too rad
I’m going wasted when I go
The cost of freedom’s never free
It’s the deep six it’s my fix
It’s my best friend
Cause it’s my way, or the highway
I tell ya it’s the living end

I’m a rebel in the F.D.G……..

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: