Arak Abangan

Desember 20, 2007

Surat untuk Rie

Filed under: Surat Untuk Rie — by arakabangan @ 8:57 pm

9 – 12 – 2007

Rie, Aku tadi siang melancong ke pantai pelelangan ikan, bersama kawan kawan. Ramai orang disana, berlalulalang, bersenda gurau dan bercengkerama. Pasar ikan penuh sesak orang tawar menawar mencari harga yang tepat. Sementara yang ditawar terbujur kaku, dengan mata melotot, dingin. Hanya bau amisnya yang tertinggal. Entah berapa kilo ikan yang kuhabiskan sore itu bersama para kompanyonku.

Eh, lucu juga kalau kupikir, pak nelayan bersusah – payah semalam suntuk begadang mencari ikan di laut lepas. Sementara angin selatan bertiup dengan kejinya menembusi tubuh tubuh rapuh dan legam itu. Kita hanya tinggal menikmati hasil tangkapan jala mereka sambil duduk dan bersenda gurau. Kalau saja aku bisa ikut merasakan ikhtiar mereka di laut, mungkin nikmatnya akan menjadi berlipat lipat tak terbayangkan. Seperti saat aku mengumpulkan keberanian untuk mengajakmu keluar hari sabtu kemarin. Hei, aku bisa bangun pagi hari itu…..

Setelah perutku ini kenyang penuh ikan aku mengimbit ke pinggir pantai. Aku rebahkan diriku di buritan sampan nelayan yang asak bau amis ikan dan keringat. Tahu tidak Rie, matahari sedang tersipu malu di balik awan tebal yang menggulung di langit. Siang itu hanya tersisa angin laut yang dingin, walau tidak sedingin di waktu malam. Mataku terpejam, sementara imajiku mendendangkan lagu “Babe” dari STYX yang kau putar sore itu di kamarku. Seolah – olah lirik lagu itu mengangankan ada dirimu disini. Egoiskah kalau seandainya aku berharap dirimu seperti itu juga?…

Kau masih ingat si Angga, Rie?. Dia sedang berlarian bertelanjang kaki kesana kemari. Dia melompati sampan sampan nelayan yang berjajar tidak begitu rapi dengan lincahnya. Kakinya meninggalkan jejak jejak mungil di pasir pantai yang penuh tebaran sampah dengan berbagai macam warna – warninya. Kuamati terus dirinya. Senyumnya tidak pernah berhenti mengembang seperti langkah kecil kakinya yang seperti melaju tanpa akhir. Dia bebas, Rie.

Aku beranjak dari sampan itu, lalu berdiri diatas pasir yang lembut dan rapuh ditimpa tubuhku. Aku ratakan pasir yang bergelombang tak teratur di bawah kakiku, hingga berbentuk persegi empat. Setelah kurasa cukup, aku mengambil setangkai ranting kering dan kuruncingkan ujungnya. Di ujung sebelah atas pasir yang aku ratakan tadi, aku mengukir namamu. Sedang di ujung sebelah bawahnya kuukir namaku sendiri. Di antara ukiran ukiran tadi kubuat sebuah gambar. Tidak begitu simetris memang, gambar itu. Tapi kurasa cukup jelas bagi siapa saja yang melihatnya, bahwa gambar itu berbentuk hati. Tak terasa sesimpul senyum mengembang dari bibirku.

Aku merasa seperti seorang anak kecil yang baru mengalami afeksi untuk pertama kalinya. Aku sendiri bingung, apa aku ini masih kanak kanak di dalam hatiku? Tapi kukira, bukankah kita semua anak atau budak dari kehidupan? Kita semua budak Rie, tapi budak yang merdeka. Budak yang bebas untuk menentukan hidup seperti apa yang akan kita hambakan. Jangan sampai kita menjadi munafik yang hanya bisa menjiplak, layaknya seonggok tubuh tak berjiwa.

Langit sudah beranjak gelap, lembayung perlahan lahan mulai surut di ufuk barat. Sang mega meneteskan air setitik demi setitik. Kami berlalu dari pesisir menuju lereng merapi. Holden merah tua itu melaju tersendat sendat didera hujan.

Air hujan merembes sedikit sedikit masuk ke dalam mobil. Aku mulai lukiskan lagi apa yang tadi kuukir di pasir pantai, tapi kali ini di batinku. Karena aku yakin, entah air hujan atau ombak pasang pasti telah mengikis habis ukiran yang kubuat tadi. Sambil kucoba pelan pelan membunuh hasrat untuk meminta imbalan, kalaupun bisa.
Di luar hujan masih saja deras. Orang – orang menepi, berlindung di bawah atap di pinggir jalan. Dari radio sayup sayup mengalun lagu dari YES, kusulut sebatang sigaret lalu kuhisap dan kuhembus asapnya pelan. Datar. Kering…….. (9.0.1.2.5)

If ever I needed someone,
You were there when I needed you.
You save me from falling,
Save me from falling.
I`m so in love with you…..
(Final Eyes, written by: Trevor Rabin, Tony Kaye, Jon Anderson & Chris Squire. Performed by:YES)

*Inspired by Pramoedya Ananta Toer Novel

PS: #Tulisan ini cocok dinikmati sambil mendengarkan beberapa rekomendasi lagu dibawah ini :
1.    YES – Final Eyes
2.    Marillion – No One Can
3.    Van Halen – Love Walks In
4.    STYX – Babe
5.    Slaughter – You Are The One
6.    Skid Row – I Remember You
7.    Journey – It`s Just The Rain
8.    Bad English – When I See You Smile
9.    Soendari Soekotjo – Nandang Wuyung
10.    Chrisye  – Seperti yang Kau Minta

Iklan

3 Komentar »

  1. dhani wrote:”Setelah perutku ini kenyang penuh ikan aku mengimbit ke pinggir pantai…”

    rosyd:”berati perut anda itu apakah aquarium tho ternyata?”

    memang begitu adanya teman q yg satu ini………tp q jga ckup sallout trhdp dirinya……..qta semua akan menjdadi suatu budak “rie”(sprti yg anda katakan)>>>”masak sih”……….tapi klo dari sisi seorang luchab(me) qta akan dipaksakan untuk mengeluarkan rasa,asa,prakata,tndkn yg aq blng itu mrupakan timbl balik dri hati kecil yg ingin menerobos kluar untuk mendapatkan apa yg dicari……………………usaha anda sudah bagus bung untuk itu…….q sendiri jga pernah mengalaminya………bak sebuah barang lelangan yg dilelang dengan mencari harga tertinggi maka dia yang mendapatkannya………tapi apakah harus seperti itu ya bung(q kadang jga bingung)…….ato mungkin layaknya memanah sang matahari yg sdng gerhana,walaupun bisa dipanah pasti yng kena bulannya dulu(nyambung ra,ra ngerti)…….cinta itu kadang gak da habisnya dikejar bung…tapi cinta itu memang harus didapat walaupun dia lari secepat kilat ato mungkin dia sembunyi di dalam kabut yg gelap di malam hari………menurut Q”cintailah cinta KaReNA CinTA ITu tidak MUdAH UNtuK DiDApaT kan tapi BisA Saja HIlANG tanPA KitA SadaRI”betul tidak bung..??

    Komentar oleh ochid — Januari 4, 2008 @ 6:52 pm |Balas

  2. seneng baca surat2 buat rie……. rasanya ada semangat baru dari abangku tersayang nie……
    don’t forget, action figure!

    Komentar oleh diski — April 20, 2009 @ 12:47 pm |Balas

    • Siaaap…. ni lagi mencar-cari… Coba anda baca hingga episode terakhir Surat Untuk Rie ini..hehehe

      Thanks

      Komentar oleh arakabangan — April 20, 2009 @ 12:49 pm |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: