Arak Abangan

Maret 14, 2009

Surat Untuk Mama

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 5:20 am

Aku duduk di pelataran boardes kereta kelas bisnis itu. Suara gemeretak roda-roda baja sepur tidak pernah berhenti bersahutan sebelum masinis mengurangi kecepatan laju si kuda besi penenggak solar ini. Sebatang sigaret dengan filter masih menyempil di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah. Langit masih cerah sore itu, merahnya lembayung masih belum membahana di cakrawala sebelah barat.

Mama, aku masih ingat percakapan kita berbulan-bulan lalu. Kau meminta aku untuk pulang ke rumah. Katamu Kau sudah rindu dengan semua anak-anakmu. Maaf ma, aku baru bisa memenuhi permintaan mu sekarang ini. Kau tahu Ma, seperti kata orang, seorang lelaki sudah sepantasnya didewasakan di tengah liarnya kehidupan. Konon itulah yang membuat seorang Lelaki menjadi bijaksana.

Sejauh kaki ini melangkah, Ma, setiap jejak yang dibuatnya, setiap waktu yang hilang di injak kaki ini, setiap masa pula diriku melangkah semakin jauh darimu. Semua ibarat remedi untuk kerinduanku pada hangat pangkuan dan pelukanmu. Kau tahu Ma, detak jantung ini berdebar semakin kencang setiap saat diriku melangkah jauh meninggalkan ribaanmu.

Selama ini terlampau banyak perbedaan pandangan antara kita Ma. Tapi entah mengapa kau selalu berusaha untuk mengerti jalan pikiranku yang sudah terlampau rumit, bahkan untuk kupahami sendiri. Aku bisa saja salah Ma, tapi juga kadang aku bisa benar. Semua itu sangat nisbi untuk dapat kita mengerti. Dan tetap saja aku selalu menjadi penyebab dirimu menitikkan air mata. Tapi Ma, kau juga terkadang membuatku menangis. Berada jauh dari hangatnya hatimu Ma, ternyata sungguh sakit rasanya. Dan ini sudah terlampau lama.

Waktu terus berubah, dan waktu sungguh aneh Ma. Terus berputar, sementara manusia kelelahan mengikuti laju langkahnya. Setiap saat aku menjadi dewasa. Sudah ratusan bahkan ribuan kali pula kulihat wajahmu Mama. Semua menjadi semakin nyata di mataku.

Tanpa terasa langit di ujung barat mulai berubah menjadi merah jingga. Suara Adzan Maghrib mulai bersahutan dari setiap langgar di sepanjang jalur kereta ini. Kubayangkan dirimu saat ini sedang membasuh diri dengan air wudhu lalu sibuk membuka lipatan-lipatan rukuh putih berorak kembang-kembang kesayanganmu. Apa yang sedang kau doakan kali ini Ma?

Kereta masih melaju perlahan. Aku pulang Ma.

Hard To Find The Words

Mama sometimes I feel inside
There’s nothing I can say
Nothing I can do
Could ever match the love you gave
You taught me how to live
Told me walk before you run
And you were always there to pick me up
Everytime I’d have a fall

And mama I know there’s been times
When I didn’t always understrand
By and by we do some growing up
And it makes just a little more sense
But sometimes it’s hard to find the words
But I’ll do the best that I can
Thank you for the love mama
It’s what made this boy a man

I know the road’s been long
And I know you’ve seen some rain
Making the best of what we had
I never heard you complain
When I look in the mirror today
Wondering could I be as strong
Could I give as much to someone else
As you gave to your son

Composed & Performed by: Cinderella

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: