Arak Abangan

Mei 29, 2009

Di Sela Pergantian (Hari Bagian III)

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 4:21 am

(Bagian III : Awal Sebuah Permulaan…)

Jarang sekali aku memulai tulisan dengan perana disore hari. Tapi, hei, kali in memang tidak seperti biasanya. Seperti tubuh yang mulai digerogoti insom akut. Belum lagi nikotin yang merasuk lewat asap menthol, seperti salvo meriam Si Jagur.

Belakangan ini, secangkir kopi pahit mulai berkawan karib dengan cacing-cacing dalam perut. Tak heran jika mereka juga mulai hobi begadang. Menemani mata yang sukar terpejam. Seringnya sampai muadzin masjid sebelah rumah mengumandangkan adzan Subuh. Sudahlah, aku sedang tidak berniat bercerita keabsurdan. Kali ini akan kututurkan sebuah dongeng yang bukan fiksi. Sebuah ihwal yang pada akhirnya membuat cacing-cacing perut protes. Tidak jarang mereka berdemonstrasi, menentang kebijakan makan sehari sekali. Yang buntutnya mulai jadi kebiasaan.

Mari kita mulai…..

Orang-orang ramai menapaki tangga. Satu persatu, dua berdua, tiga bertiga, mereka muncul dari belokan yang menyambung anak tangga. Dari yang perlente macam eksekutif muda, sampai yang mirip gelandangan pinggir jalan. Semua komplit. Beragam barang pula yang mereka tenteng di tangan. Dari rokok sebatang yang tinggal separuh, hingga yang membawa buku notes kecil. Malah membuatnya terlihat mirip Doraemon simpan pinjam (dalam bahasa jawa, jamak disebut bank thithil).

Ah, dari bawah sudah kudengar sayup-sayup suara canda tawa . Dan tidak salah lagi, memang itu adalah suaramu. Tidak ada di dunia ini yang bernada seperti itu. Satu-satunya yang memiliki suara beroktaf tinggi di lantai tiga gedung ini. Sesuatu yang semoga bisa kamu banggakan. Selain sebagai yang tercantik di kelas bukan? Aih, sungguh sayang saat dirimu melewatiku. Diriku terlalu takut untuk dapat menyambutmu dengan tatapan mata. Dan ya ampun, betapa tololnya aku melewatkan momen indah itu.

Ada tiga alasan mengapa diriku bersemangat mengikuti kelas Selasa sore ini. Pertama tentunya mudah untuk dipahami, dan tak perlu kuperinci. Karena kamu! Satu-satunya kesempatan dimana diriku bisa berada dekat dengan dirimu lebih dari hitungan menit. Ya, di dalam kelas itu.

Sebelum bicara tentang alasan kedua, ada baiknya kita sedikit bernostalgia. Tentunya kita tahu tentang petasan. Dari berbagai jenisnya, yang unik adalah petasan cina. Yang kalau disulut tali apinya, benda itu meletup tak henti-hentinya. Mirip berondongan mitraliur AK-47. Dan bukan kebetulan, jika petasan ini bentuknya pun mirip pelor senapan serbu kebanggaan si Beruang Merah.

Tidak beda jauh petasan cina itu dengan dosen yang mengajar sore ini. Sedikit dipancing, maka dia akan berbicara tak keruan panjangnya. Tapi dibalik itu, aku bisa menyerap banyak-banyak ilmu dari berondongan kata-katanya yang kadang bikin kewalahan. Walau tak jarang aku harus membuka Tesaurus, mencari banyak arti kata yang tak kupahami. Yah, itulah alasan kedua.

Yang terakhir, juga alasan utama mengapa hari ini sangat distingtif. Sudah tak ada gunanya aku berlama-lama menyimpan kata itu. Tidak perlu seorang pakar semiotika untuk dapat membaca kesempatanku yang teramat tipis. Hei, setidaknya aku sampai juga di titik nadir ini bukan? Titik dimana selama ini aku selalu bergidik, meskipun sekadar membayangkannya.

Maaf, di kelas aku sedikit curi-curi pandang padamu. Karena hanya itulah caraku menumpuk keberanian. Oi, aku tidak mengada-ada. Memang seperti ini kenyataannya. Selalu berkeringat dingin saat berhadap-hadapan denganmu. Tidak jauh beda, saat akhirnya kesempatan itu datang. Ketika aku berdua-duaan denganmu.

Semua kejenakaan yang timbul dari segala kecanggunganku. Membuatku sedikit lega. Setidaknya, benak ini perlahan-lahan memperoleh kesadarannya kembali. Dan perlahan-lahan keringat dingin tersapu angin yang berhembus kencang di tepian pagar beton. Tempat dirimu bersandar, dan saat aku berusaha sekuat tenaga menatapmu. Dan perlahan, terbata-bata, kata itu akhirnya terucap.

Terima kasih, El. Setidaknya kau sedikit mengerti seberapa berartinya dirimu bagiku. Aku bersyukur, awal dari sebuah permulaan ini, kutapaki saat jalanku bertumbukan dengan jalan hidupmu. Saat aku mulai menjauhi masa seperempat abad.

Terima Kasih…..

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: