Arak Abangan

Juli 20, 2009

Di tepi trotoar, di tengah malam….

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 10:10 pm

Semalam aku bertemu dengannya. Entah sudah berapa purnama, sejak aku terakhir bertukar sapa dengannya. Dia masih tetap seperti itu. Belum berubah. Mungkin hanya selembar baju “baby doll” yang disambung dengan celana jeans berwarna biru muda itu yang baru kali ini kulihat. Alkohol yang ditenggak sama seperti terakhir aku bertemu, Absolut Vodka. Minuman keras favoritnya. Yang dari awal menggemari arak hingga sekarang pensiun menenggaknya, belum pernah sekalipun aku mencicipi. Mahal!

Di selasar swalayan mini itu dia duduk di lantai. Masih tergelak bersama karibnya sebelum mendatangi aku. Genggaman jabatan tangannya masih juga ringan, seringan bulu angsa yang tanggal sehelai. Tangannya yang putih ditumbuhi bulu-bulu hitam. Bibirnya yang tak bergincu itu belum berubah warnanya, merah jambu. Hanya sedikit menghitam, terlalu banyak menghisap sigaret. Bulu mata yang terjajar rapi, memayungi tatapannya yang sayu dan mulai memerah. Berdirinya sedikit sempoyongan, kakinya yang jenjang tidak jejak menghujam lantai selasar. Tubuhnya yang mungil itu seakan ingin terbang ditiup si angin malam.

Ada ruang kosong di tepi trotoar, di depan angkringan itu, agak jauh dari kebisingan. Kami duduk disana. Sementara dia langsung menyandarkan punggungnya di tiang listrik. Di tangannya sebotol vodka mahal yang tersisa seperempat penuh. Di teguknya sedikit-sedikit, hingga menyisakan tetesan-tetesan tak berarti. Dia lalu menyulut sebatang sigaret. Tak berapa lama terbatuk-batuk. Batuk yang ringan dan halus.

“Masih saja seperti ini, selalu aku yang memecah kebisuan”, dia berkata dengan nada sedikit kesal. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

Di jalan raya ini, sesekali pengendara motor melaju kencang menembus angin malam. Pengonthel sepeda berjalan perlahan, pedalnya berdecit tiap habis satu putaran. Lama, sebelum akhirnya dia menghilang di telan gelap malam.

“Kau masih ingat, rahasia-rahasia kecil yang selalu aku bisikkan perlahan di telingamu?”, dia berkata pelan. Aku menjawab, “Masih. Ada beberapa yang aku ingat”. Terdiam sejenak,“Lainnya, kurasa aku perlu membuka lembaran-lembaran ingatan lagi”.

“Baguslah kalau begitu. Masih ada ruang untuk kujejali dengan rahasia”, dihisap dalam-dalam sigaretnya. Lalu dilempar dan diinjak di aspal. Lalu menyulut sebatang yang masih baru. Dia selalu seperti ini saat bercengkerama. Membicarakan sesuatu yang akan selalu menjadi rahasia-rahasia. Yang pada akhirnya akan tuntas ditelan waktu.

“Sudah berapa lama kau berganti merk sigaret?”, aku bertanya. Kuambil sebatang sigaret yang masih terjepit oleh bibirnya. Lalu aku menghisapnya dalam-dalam. Tercium aroma alkohol. Rasanya dingin, seperti balsam. Sedikit pahit tercampur vodka yang menempel. Direbutnya kembali seigaret itu dari jemariku.

Sambil bersandar dia memandangku lama. Aku melihat tatapannya dari sudut mataku yang sebelah kanan. Dihembuskannya asap rokok ke arahku. Dia tertawa, lalu terdiam kembali.

“Apa menurutmu aku pantas untuk jatuh cinta?”, dia bertanya.

“Menurutmu sendiri macam mana?”, aku menimpali sekenanya.

“Entah, aku hanya merasa diriku tidak berhak untuk mencintai”

“Apa MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk itu?”, dia hanya terdiam. Tatapannya masih tertuju padaku. Kali ini aku balas memandangnya. Kulihat butiran-butiran air kecil menetes satu-persatu dari pelupuk mata.

“Tolong hapus air mataku ini, tanganku kotor”, dia memohon.

Air matanya masih saja meleleh. Beberapa sudah jatuh ke aspal, membentuk bercak-bercak hitam. Aku menyeka jejak-jejak air yang masih basah dan membekas dari mata hingga ke batas dagunya. Matanya terpejam, nafasnya yang dingin menyapu telapak tanganku.

“Sebuah pemikiran yang bodoh”, kataku.

Dia menangis tersedu kali ini. Orang-orang di angkringan melihat kami. Aku jadi agak rikuh juga, salah-salah bisa dikira yang tidak-tidak.

“Apa nasibku memang sesial ini?”, katanya lirih dan terbata-bata.

“Nasib bukan milik siapa-siapa, nasib hanya milikmu sendiri”.

“Sombong sekali dirimu berkata seperti itu”, nadanya sedikit meninggi.

“Tidak! aku hanya mencoba menjadi seorang realis”.

“Apa menurutmu diriku selama ini mencoba berlari dari kenyataan?”

Aku tidak menjawab, hanya membakar sebatang rokok menthol miliknya. Tatapannya semakin berkaca-kaca. Sejurus kemudian dia mencoba berdiri untuk kemudian terjatuh lagi.

“Duduklah dulu. Malam masih panjang. Burung-burung malam belum lagi pulang ke sarangnya”, aku menenangkannya. Dia terdiam kali ini, lama. Kusodorkan rokokku yang baru separuh terbakar itu padanya. Dia menggeleng.

“Tidak, tenggorokanku sudah mengering”, ujarnya.

“Semoga tidak dengan hatimu”.

“Masih belum akan mengering hatiku. Selama masih akan tercipta peristiwa-peristiwa yang akan menjadi rahasia antara aku dan kamu”, dia memaksa berdiri kali ini, sambil tangannya berpegangan pada tiang listrik. Perlahan tertatih-tatih dia berjalan ke arahku. Lalu menaruh kening di pundak kiriku dan berbisik lirih.

“Satu pertanyaan terakhir sebelum kau beranjak dari sini”,

Aku terdiam…..

“Sudah sekotor inikah diriku di mata orang?”.

Aku masih saja diam. Hanya kuraih kedua lengannya, dan kutegakkan berdirinya. Kuseka lagi bercak-bercak air matanya yang basah sebelum aku berhenti membantunya berdiri.

“Kurasa kotoran itu ibaratnya debu. Hanya sepintas lalu. Datang dan pergi, berganti-ganti. Dan semua orang pasti akan dihinggapi oleh si debu”, jawabku.

Kujabat tangannya dan kami berambus, melanjutkan sisa malam. Telepon bimbitku bergetar tanpa nada. Ada pesan singkat yang masuk. Terbaca di layar itu “Terima Kasih”.

4 – 7 – 2009

Iklan

2 Komentar »

  1. bagus buat cerpen ini,, bagus,,
    sayang endingnya tidak singkron,, masak dari awal mempertahankan bahasa indonesia,,
    mendadak muncul bahasa melayu, “telpon bimbit”, agak aneh,,,

    Komentar oleh chubby — Januari 7, 2010 @ 7:31 am |Balas

  2. bebas pop…. sek nulis sopo jeee..??? ra tak balekke mengko tripod mu…hahaha

    Komentar oleh arakabangan — Maret 25, 2010 @ 11:19 am |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: