Arak Abangan

April 18, 2008

Elegi pinggir kali

Filed under: arak — by arakabangan @ 1:57 pm

Kali itu arusnya tenang, air mengalir dari hulunya di merapi dan berhilir di laut selatan. Batu-batu kali seukuran kebo bertumpukan disana-sini mengiring sepanjang sungai, seakan-akan beranak pinak. Lumut-lumut hijau menempel di kulit batu, indah tapi juga menjijikkan. Ikan-ikan dengan warna yang berkilauan melenggak-lenggok, meloncat-loncat dengan lihainya. Semua terlihat jelas jika kita melihatnya dari atas, seperti melihat ke dalam akuarium yang baru dikuras. Dari sana terdengar suara kecipak-kecipak air, diterjang tubuh-tubuh yang mungil. Sesekali tawa anak-anak kecil menggema memenuhi suasana hening.
Di pinggiran kali itu rimbunan bambu diterpa angin pagi yang semilir, daun-daunnya saling bergesekan menimbulkan suara mendesis. Seorang lelaki berusia tiga puluhan terduduk di tepian kali sambil membasuh sisa-sisa busa sabun di tubuh satu dari tiga anaknya. Tubuh lelaki kurus legam, menghitam di bakar sinar matahari. Titik-titik air yang bergulir di dadanya mengkilat diterpa cerah cahaya pagi. Dia berteriak mengingatkan salah satu anaknya agar tidak berenang terlalu tengah di sungai itu. Selesai dengan si ragil, di panggilnya si anak mbarep yang sedang asyik berenang dan bercanda dengan si nomor dua. Lalu di suruhnya duduk berjongkok.
Dia ambil se-sachet sampo murahan seharga lima ratus rupiah, yang dibeli dengan berhutang, di toko kelontong milik tetangga samping rumah. Ini tanggal tua pikirnya, jadi sah-sah saja untuk menambah panjang baris-baris catatan kecil yang berisi seluruh daftar hutang-nya. Tetangganya cukup baik untuk tidak mengeluarkan gerutuan di depan lelaki itu saat dia datang terbungkuk-bungkuk dan cengar-cengir, hendak menimbun hutang lagi di tokonya. Si tetangga mengerti bahwa dengan keadaan fisik dan ekonomi si lelaki, sangat tidak sopan jika menghardiknya perihal kebiasaannya (yang menurut si tetangga amat sangat tidak menyenangkan) berhutang. Selama ini si tetangga juga bermurah hati hanya menggunjingkan kebiasaan si lelaki itu dengan tetangga-tetangganya yang lain. Toh, akhirnya sampai juga gunjingan tak sedap itu di telinga si lelaki. Dia hanya nyengir. Dilanjutkannya mengusap-usap kepala si mbarep hingga penuh busa sampo, lalu dibasuhnya sampai bersih.
Disudahinya ritual mandi pagi itu. Ritual itu satu-satunya mandi yang mereka jalani selama satu hari. Karena saat sore menjelang, biasanya hujan turun dengan derasnya. Air sungai akan meluap diiringi arus yang tiba-tiba mengganas menggulung benda-benda tak berdaya yang menghalanginya. Disuruh putra-putranya membasuh diri satu-persatu, dengan handuk satu-satunya yang mereka miliki. Lalu dimasukkannya sabun yang sudah setipis lidah, dan sebatang kayu siwak, oleh-oleh pak haji dari Tanah Suci, ke dalam gayung berwarna biru tua.
Handuk itu penuh lubang yang menganga, hingga cukup bagi tangan kita untuk masuk dengan leluasa. Lubang itu juga yang menyebabkan handuk itu cepat basah digunakan putra-putra si lelaki. Hingga saat dia membasuh badan dengan handuk itu, seperti tidak ada artinya. Sekedar formalitas saja, agar melegakan anak-anaknya yang mulai khawatir melihat tubuh bapaknya dipenuhi bercak-bercak putih, panu, bermotifkan gugusan pulau yang menyebar dari ujung kiri ke ujung kanan tubuhnya. Dilipatnya handuk itu dan dia segera berambus dari sungai.
Tubuhnya terserok-serok menyusuri jalan setapak, dia berjalan hanya dibantu kaki dan tangan sebelah kanannya. Yang sebelah lagi, sudah lama hilang diterjang si kuda besi yang sedianya akan mengantarnya ke tanah rantau. Anak-anaknya hanya membantunya saat akan menaiki tangga, tidak berani mereka menolong lebih dari itu. Takut didamprat ayahnya, karena si ayah menganggap hal itu sebagai sebuah tanda ketidakmampuan.
Ya, lelaki itu percaya bahwa manusia adalah mahkluk yang takdirnya untuk berproses dan saling melengkapi. Berproses untuk dirinya sendiri sebagai mahkluk individual yang egoistik dan demi kebaikan dirinya. Saling melengkapi dengan manusia lainnya sebagai mahkluk sosial, dimana semua takkan menjadi mudah jika dia hanya hidup seorang diri. Contohnya adalah berhutang pada si tetangga yang menurutnya baik hati itu tadi.
Di pagi yang perlahan sudah merayap menjadi siang itu. Dia terserok-serok menghantar tubuhnya kembali ke rumah. Ditantangnya terik matahari yang menambah legam kulitnya sekaligus menyuburkan panu-panunya. Seperti kata sang biduan Vince Neill dan band-nya Motley Crue, I`m On My Way… I`m On My Way… Home Sweet Home….. Sejauh apapun manusia itu berjalan atau berproses, pada akhirnya rumah adalah pemberhentian terakhir mereka (atau minimal yang diidam-idamkan). Dan berharap semoga manusia lainnya sudi meneruskan proses itu.

Iklan

September 27, 2007

Si Kambing

Filed under: arak — by arakabangan @ 6:39 pm

Ada sebuah padang yang agak gersang. Rerumputan tumbuh di padang itu, tapi tidak banyak jumlahnya. Angin sesekali bertiup membawa hawa panas. Di salah satu sudut padang itu ada tiga ekor kambing yang sedang bergerombol, berbincang sembari menikmati rumput. Kambing pertama bernama Pesimos, dia tipikal kambing yang suka mengeluh. “Ah, keterlaluan, masa rumputnya cuma segini – gini aja? Bagaimana aku bisa gemuk?” Ujarnya. Di sebelah kirinya, Optimos, si kambing kedua duduk dengan santainya sambil mengunyah rumput. Tubuhnya yang tidak begitu gemuk sedikit melayang ditiup angin “Masih syukur kita bisa menikmati rumput, daripada kita tidak makan apa – apa”. Seakan tidak terima Pesimos menoleh kepada Apatos si kambing ketiga, dia memandang meminta dukungan kepadanya. Sementara yang dipandang masih dengan enaknya menghisap sebatang sigaret, papirnya berwarna kekuningan dan jika dihisap mengeluarkan suara gemeretak renyah “Kenapa kau memandangi aku seperti itu pesimos? Toh pada akhirnya yang akan menikmati semua ini bukan kita.” Lanjutnya “ Apa kalian sudah lupa, dua hari lagi kita akan disembelih?” ujar Apatos mengakhiri pembicaraan. Sesudah itu mereka langsung diam melanjutkan kegiatannya masing – masing untuk kemudian tidak bicara lagi. Di ujung padang itu, Kapaitos si pemilik peternakan itu sedang mengasah sebilah golok yang sudah agak berkarat. Suaranya mendesing – desing seakan mengiris telinga. Sementara komunos si istri petani sedang sibuk mencetak undangan pesta kambing guling untuk para tetangga.

Juli 28, 2007

Mon Bel Ange (An Unfinished Story).

Filed under: arak — by arakabangan @ 8:31 pm

Semalam aku bermimpi buruk. Tapi bukan mimpi buruk yang bertemu setan lalu lari lintang pukang. Juga bukan mimpi dikejar hansip. Tapi mimpi yang jauh lebih menakutkan dari itu semua, aku akan menikah. Perempuan yang akan kunikahi juga bukan orang yang asing bagiku. Dia sudah kukenal sejak aku tinggal kelas waktu SMU dulu. Tidak istimewa, tipikal perempuan pada umumnya. Rambutnya panjang, hitam, agak keriting. Tingginya tidak seberapa, masih lebih tinggi aku daripada dia. Terlalu naif jika membicarakan tentang penampilannya. Tapi dia selalu menjadi yang istimewa bagiku. Aku biasa memanggilnya “Bidadariku“. Di buku telefon hp-ku kutulis namanya, “My Angel“.

Aku punya sopir panggilan yang menjadi langgananku. Badannya tidak begitu tinggi, tapi besar dan agak kekar. Kumisnya yang agak lebat menambah kesan sangar. Aku dan kawan – kawan selalu memakai jasanya jika akan bepergian. Seperti saat aku sedang bepergian ke kota S. Aku sedang ingin mengunjungi “Bidadariku“, semalam dia mengirim pesan pendek padaku yang mengabarkan bahwa dia baru saja kecelakaan. Sebuah mobil sedan menabrak motor yang dikendarai bersama kawannya dari belakang. Saat aku menghubunginya melalui telefon genggam dia menangis. Sesuatu telah terjadi pada dirinya karena kecelakaan itu, dia merasa bersalah dan takut mengatakan hal itu pada orang tuanya. Entah mengapa dia mengatakan hal ini kepadaku? Aku marah! marah! pada semua orang, pada semua hamba bangsat. Dan juga bukan tempatku untuk marah – marah karena hal ini. Dia bukan kekasihku -meskipun selama tujuh tahun belakangan aku berharap begitu-, kami hanya sepasang anak manusia yang disatukan oleh ikatan pertemanan. Aku memanggil dia adik, sedangkan dia memanggil aku “abang”.

Waktu itu, di kota S. Seperti biasa gerah, matahari masih dengan sombongnya memanasi bumi ini. Aku terbangun dari tidur, sopirku yang membangunkan. Temanku masih tertidur pulas di bangku belakang, semalam kami tidak mengistirahatkan tubuh. Jalanan seperti biasa macet, penuh sesak mobil menunggu jalan di depannya lapang. Tidak terlalu lama kami berada dalam keadaan seperti itu, sopirku segera mengambil jalan tikus. Menghindari macet. Sesampainya di pinggir kota kami bertanya – tanya pada orang tentang alamat yang kucari. Tidak begitu susah menemukannya, kompleknya sangat besar. Ada papan billboard besar menggantung di gerbang pintu masuknya. Sesuai dengan namanya, perumahan itu bertemakan suasana pulau Bali, rumah – rumahnya, halaman – halamannya, jalan – jalannya, warna – warnanya, semua tertata rapi menghiasi seluruh komplek. Satpam memberi tahu padaku lokasi rumahnya. Rupanya dia sudah cukup akrab dengan para pegawai kompleks itu.

Rumahnya ada di pojok setelah tikungan, di blok bagian tengah komplek itu. Halamannya tidak begitu luas, tetumbuhan tidak terlalu banyak macamnya, rumputnya hijau terhampar di atas tanah, ada jemuran baju, celana dalam wanita dan juga BH di halaman itu. Pintunya terbuka, dari dalam terdengar ada suara orang berbicara dan juga gelak tawa, ada tamu selain kami. Aku melongokkan kepalaku ke dalam rumah, dia rupanya sedang bersenda gurau dengan kawannya. Dia duduk menghadap pintu, dan langsung mengetahui kedatanganku. Senyumnya menyambut lalu tangannya terulur dan akupun membalas uluran tangan dan senyuman indah itu. Kawan – kawannya tahu diri dan langsung pindah ke kamarnya. Aku dan kawanku segera duduk di sofa-nya yang tidak terlalu besar itu, dia mengambil tempat di depanku. Kami saling bertatap mata, tersenyum, aku tersipu kemerah – merahan. Cukup lama aku hanya bisa melihat wajah bidadariku melalui imaji, dan kini diriku langsung dibius oleh tatapannya. Dia sungguh indah hari itu.

mon bel ange est aussi ma reine sans pitié

Mei 12, 2007

Suatu saat di satu malam

Filed under: arak — by arakabangan @ 8:41 pm

Malam sudah merayap sampai ke tengah – tengah, dingin. Matahari masih menunggu di sisi lain bumi ini. Lama lagi sebelum dia menghangati sisi yang kudiami. Sebotol anggur putih masih belum lagi kuhabiskan. Tommy dan poppy masih bercanda menggigiti jempol kakiku. Dua ekor anjing bayi itu baru dua minggu menjadi anggota keluarga kami. Tapi lansung menjadi primadona di kost. Imut, kata kawan – kawan. Lebih lucu lagi jika mereka mulai iseng ikut merasakan anggur putih yang kusodorkan. Mereka mulai bertingkah aneh. Lumayan untuk teman minum malam ini.

Minggu ini hari – hari penuh diisi alkohol. Kata kawan itu dosa. Tapi bukan hak diriku untuk menganiaya dia dengan kata – kata pedas yang berujung perkelahian. Dia masih terlalu dini mengkuliahiku tentang dosa. Terlalu hijau untuk berbicara dosa denganku. Terlalu…. entah terlalu apalagi, kata nuraniku. Sudah terlalu lama aku tidak takut dengan dosa. Juga sudah sejak lama aku mencari kecintaan pada kepercayaan yang diturunkan padaku. Diturunkan entah sejak nenek moyangku yang keberapa?.

Kata orang cinta itu ada karena biasa. Dan kurasa sudah sejak lama istilah itu kadaluarsa. Seperti kayu yang mulai lapuk tak kuat dimakan usia……

Malam itu rasanya damai. Ditemani sebotol anggur putih dan dua ekor anjing. Aku merayakan hari – hari sebagai orang yang merdeka. Tanpa pernah takut diperbudak dosa ataupun agama….

“At That Time Of The Night”
(FISH & Marillion)

At that time of the night
When streetlights throw crosses through window frames
Paranoia roams where the shadows reign
Oh, at that time of the night
At that time of the night
Your senses tangled in some new perfume
Criticism triggers of a loaded room
Oh, at that time of the night

So if you ask me
How do I fell inside
I could honestly tell you
We’ve been taken on a very long ride
And if my owners let me
Have some free time some day
With all good intention
I would probably run away
Clutching the short straw

April 30, 2007

Sepenggalan kisah dari rumah

Filed under: arak — by arakabangan @ 6:59 pm

Hari masih siang bolong, udara agak panas, kering dan gerah. Ruangan itu sempit dan pengap, penuh peluh di tubuh. Gitar elektrik warna putih merk ibanez itu rasanya semakin berat. Tapi untung hanya dua lagu saja yang aku rekam hari ini. Satu sangat terinspirasi oleh UDO Dirckschneider, satu lagi terinspirasi oleh Motorhead. Agak kencang. Adikku tampak bersemangat menggempur drum set-nya mengikuti iringan gitar yang kumainkan. Meskipun kami berbeda, dia relijius & aku sama sekali tidak, toh musik tetaplah agama kami yang sesungguhnya. Mungkin kalau diibaratkan seperti Idris Muhammad berkolaborasi dengan Kerry King memainkan musik Heavy Metal. Agak aneh mungkin, kami sama – sama menggilai YES, ASIA & Marillion tapi memainkan musik Heavy Metal.

Sesi rekaman hampir selesai, hanya tersisa track bass guitar yang belum kami isi. Aku mengaso sambil mengipasi muka dengan selembar karton bekas. Sebatang rokok kubakar. Selesai shalat adikku duduk di samping. Dia mengutak – atik double bass pedal-nya, sambil sesekali mengusir asap rokokku yang dibawa angin ke wajahnya. Dia tidak suka merokok dan membenci asap rokok. Kami sesekali berbicara, mendiskusikan tentang lagu yang akan direkam kemudian. Sampai akhirnya ada sedikit perdebatan tentang siapa yang akan mengisi vokal di lagu – lagu kami. Belum lagi lirik yang aku tulis, semua selalu bertentangan dengan nuraninya. Mungkin kami sama – sama dapat warisan sifat keras dari bapak, sehingga sering berdebat berseberangan pendapat. Akhirnya semua berhenti saat operator rekaman yang juga kawan dekat, memberi tahu bahwa semua sudah siap untuk merekam. Kami semua masuk.

Matahari sudah miring ke barat saat kami menyelesaikan sesi rekaman kali ini. Udara sudah tidak sepanas siang tadi. Agak sejuk. Kami mengepak semua peralatan dan kutaruh di jok motor. Selesai membayar uang rekaman kami berlalu meninggalkan studio itu. Di rumah selesai mandi kami berkumpul bersama keluarga. Kami berbincang dan ada sedikit tawa yang keluar, meskipun Bapak masih marah padaku. Selepas adzan maghrib mereka shalat berjamaah. Aku keluar memacu motor menuju depan kantor telkom bersama kawan – kawan menikmati berliter – liter arak abangan. Merayakan malam….

Rebel In The F.D.G.
(W.A.S.P.)

I live my life like
A shot in the wind
If tomorrow don’t come I know
I stole me share of fun for me
Cause I’m too fast, too rad
I’m going wasted when I go
The cost of freedom’s never free
It’s the deep six it’s my fix
It’s my best friend
Cause it’s my way, or the highway
I tell ya it’s the living end

I’m a rebel in the F.D.G……..

Maret 14, 2007

Dua Puluh Dua

Filed under: arak — by arakabangan @ 2:14 am

Hari ini dia genap berusia dua puluh dua tahun. Dia sudah menikah lebih dulu daripada aku. Bukan aku yang dinikahinya, meskipun aku berharap begitu. Dan tujuh tahun adalah rentang waktu yang sangat singkat untuk mengenang dia. Sejak dari pertama aku mengenal dan memaki dirinya hingga tiga tahun belakangan saat aku hanya bisa membayangkan dirinya. Entah berapa kali aku menyusuri rel kereta antara jogjakarta – surabaya hanya untuk melihat rumah kontrakannya. Untuk melihat dia bersama seorang hamba bangsat dengan roda empat-nya yang mengkilap. Toh sisi – sisi trotoar, masjid – masjid dan pos – pos satpam yang aku tiduri di malam yang busuk masih menyapaku dengan hangat.

Hari ini aku hanya bisa menapak tilasi jalan – jalan yang aku lalui bersamanya. Mengangkat tujuh botol arak bukan abangan untuk memperingati tujuh tahun perjalananku mengagumi dia. Dan dua puluh dua teguk pertama kupersembahkan untuk ulang tahunnya.

Selamat Ulang Tahun, istri orang.

Maret 12, 2007

Seorang anak manusia

Filed under: arak — by arakabangan @ 7:01 pm

Dia duduk sendirian di depan kamarnya sambil mencekik sebotol vodka ukuran jumbo. Bukan cairan merah beraroma busuk yang ditaruh dalam botol aqua seperti biasanya. Mungkin dia sedang banyak duit hasil korupsi uang kuliah. Tapi saat seperti ini aku paling senang, karena dia biasanya membagi keripik cakar ayam kesukaannya denganku. Kadang aku disuruh mencicipi cairan merah beraroma busuk kesukaannya, dan sampai pagi keempat kaki mungilku tak bisa berlari dengan benar. Untung saja tidak setiap hari aku disuruh mencicipi. Hanya pada waktu tertentu dia melakukan ritualnya. Dia bilang besok lusa adalah hari ulang tahun salah seorang kawannya. Kawan yang hampir tujuh tahun ini selalu diracaukan namanya saat dia sedang mabuk berat. Sering juga dia mengigau sambil menyebut namanya saat tergeletak di depan kamar tak sadarkan diri. Aneh juga orang ini, setelah menenggak habis tiga botol berisi cairan merah beraroma busuk itu dia malah tertidur. Toh aku senang juga saat dia tak sadarkan diri di depan kamarnya, aku bisa tidur di pinggir tubuhnya yang besar dan hangat itu. Dan sebagai tanda terima kasihku, setiap ayam jantan tetangga berkokok kujilati mukanya agar dia terbangun sebelum di marahi oleh ibu kost yang juga majikanku.

Memang susah memahami anak manusia. Yang terkadang menyesal dilahirkan ke dunia. Yang terkadang menyesali nuraninya. Menertawakan hidupnya. Membunuh kawannya. Tapi terkadang masih bisa mencintai.

Maret 5, 2007

Kamar Terakhir

Filed under: arak — by arakabangan @ 10:11 am

Dia tipe pemalas. Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjanya hanya tidur. Toh itu tidak membuat aku ataupun kedua adikku membencinya. Bahkan kalau malam kami berebut untuk mengajaknya tidur di kamar kami masing – masing. Kecuali untuk kamarku, aku sekarang tidur menumpang di kamar adikku yang paling bungsu. Sejak merantau ke jogja kamarku sudah berubah fungsi menjadi gudang, dan sekarang sudah penuh dengan debu, sarang laba – laba dan juga nyamuk – nyamuk balita yang berkeliaran ke ujung – ujung sudut – sudut ruangan berbau agak apak itu. Aku ingat saat dia baru berumur tiga bulan, dia sering tidur di atas perutku yang agak buncit ini. Kadang dia sering menciumi wajahku & menjilatinya penuh dengan rasa keingintahuan. Mungkin karena itu juga yang membuat dia menjadi pemalas yang kerjanya hanya makan, tidur dan cari betina saja. Pernah juga aku tertawa melihat dia berlari ketakutan saat ada sejenisnya tapi yang liar memasuki kediaman kami dan bersembunyi di kolong sofa hijau kesayangan ibu. Biarpun badannya termasuk besar untuk seumurannya, dia adalah penakut.  Dan hal itu akhirnya membuat dia celaka juga. Sebuah luka yang sudah membusuk menganga di kaki belakang sebelah kirinya karena berkelahi dengan sesama pejantan liar dari luar kediaman kami. Seminggu dia mencoba bertahan, dan kami sudah membawanya ke seorang dokter hewan langganan kami. Tapi sehari sebelum dioperasi, luka itu akhirnya membunuhnya. Siang hari kami menemukannya tergeletak kaku tak bernyawa dan adikku menangis melihatnya.

Sore itu di bawah hujan yang turun tidak begitu deras kami menguburkannya di pekarangan belakang kediaman kami. Dan jasad kucing kesayangan kami itu tependam disana di kamar terakhirnya

Maret 1, 2007

Ode untuk si pemimpi yang semakin tua

Filed under: arak — by arakabangan @ 5:40 pm

Terakhir kita berbicara tentang “dirinya” kita mengatakan hal – hal yang indah, elok, merangsang fantasi. Dan aku tersenyum oleh puja – puji kita pada dirinya. Tapi hari ini tampaknya seorang Hamba bangsat sudah merusak semuanya. Hanya sekejapan mata & empat kecapan kata. Toh tidak sekejam petir & aku tidak tersambar. Aku tetap ingin memilikinya. Dan aku selalu beruntung memiliki kamu sebagai kawan. Walaupun tidak melalui sumpah darah layaknya winnetou & old shatterhand. Karena sumpah kita adalah sumpah onani. Onani sambil menertawakan dunia. Menyirami dunia dengan mani – mani kita. Dan anak – anak cucu kita tak akan pernah mengerti.

Bahwa hidup adalah lelucon.

(Sebuah ode untuk seorang karibku di Ibukota. Kita tidak disatukan oleh darah, tapi oleh lelucon & gelak tawa.)

Blog di WordPress.com.