Arak Abangan

November 15, 2010

Fragmen #2

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 4:26 pm
Tags: ,

Aku masih tetap saja suka menyusuri aspal yang dingin dibalut udara keringnya sore. Saat langit tampak lapang, selapang dinding-dinding tua yang berjajar hampir di sepanjang jalanan kota Yogyakarta. Saat kendaraan bermotor berlalu lalang dan membuat debu beterbangan, berlagak seolah jalan adalah hutan dimana yang cepat dia yang menang.

Langit yang cerah itu masih tetap menjadi kanvasku. Terkadang aku masih suka melukiskan wajahmu di langit senja yang menguning. Menata awan sehingga dia membentuk siluet rambutmu yang panjang sebahu. Menggeser matahari sehingga pipimu nampak seakan merah jambu.

Biar kemarin-kemarin dia sering kubiarkan kosong atau setidaknya mendung mencurinya dariku. Dan kali ini aku lebih mawas diri. Rona langit yang sekuning hamparan gandum, tak akan membuatku terperosok lagi ke dalam selokan.

Ah, aku hampir saja terlupa sudah seberapa jauh roda sepeda menggelinding menyusuri aspal yang dingin, sedingin dedaunan kering yang terkapar lemas. Andai saja aku tak tersipu malu ditatap bayanganmu. Tanpa setau waktu aku tiba-tiba berhenti, duduk kelelahan di pinggir sungai diatas sebuah batu yang dengan congkaknya menahan laju air yang mengalir.

Me, and you.

God only knows it’s noz what we would choose to do.

(Us & Them, Composed by: Roger Waters & Richard Wright, Performed by: Pink Floyd)

Iklan

Mei 29, 2009

Di Sela Pergantian (Hari Bagian III)

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 4:21 am

(Bagian III : Awal Sebuah Permulaan…)

Jarang sekali aku memulai tulisan dengan perana disore hari. Tapi, hei, kali in memang tidak seperti biasanya. Seperti tubuh yang mulai digerogoti insom akut. Belum lagi nikotin yang merasuk lewat asap menthol, seperti salvo meriam Si Jagur.

Belakangan ini, secangkir kopi pahit mulai berkawan karib dengan cacing-cacing dalam perut. Tak heran jika mereka juga mulai hobi begadang. Menemani mata yang sukar terpejam. Seringnya sampai muadzin masjid sebelah rumah mengumandangkan adzan Subuh. Sudahlah, aku sedang tidak berniat bercerita keabsurdan. Kali ini akan kututurkan sebuah dongeng yang bukan fiksi. Sebuah ihwal yang pada akhirnya membuat cacing-cacing perut protes. Tidak jarang mereka berdemonstrasi, menentang kebijakan makan sehari sekali. Yang buntutnya mulai jadi kebiasaan.

Mari kita mulai…..

Orang-orang ramai menapaki tangga. Satu persatu, dua berdua, tiga bertiga, mereka muncul dari belokan yang menyambung anak tangga. Dari yang perlente macam eksekutif muda, sampai yang mirip gelandangan pinggir jalan. Semua komplit. Beragam barang pula yang mereka tenteng di tangan. Dari rokok sebatang yang tinggal separuh, hingga yang membawa buku notes kecil. Malah membuatnya terlihat mirip Doraemon simpan pinjam (dalam bahasa jawa, jamak disebut bank thithil).

Ah, dari bawah sudah kudengar sayup-sayup suara canda tawa . Dan tidak salah lagi, memang itu adalah suaramu. Tidak ada di dunia ini yang bernada seperti itu. Satu-satunya yang memiliki suara beroktaf tinggi di lantai tiga gedung ini. Sesuatu yang semoga bisa kamu banggakan. Selain sebagai yang tercantik di kelas bukan? Aih, sungguh sayang saat dirimu melewatiku. Diriku terlalu takut untuk dapat menyambutmu dengan tatapan mata. Dan ya ampun, betapa tololnya aku melewatkan momen indah itu.

Ada tiga alasan mengapa diriku bersemangat mengikuti kelas Selasa sore ini. Pertama tentunya mudah untuk dipahami, dan tak perlu kuperinci. Karena kamu! Satu-satunya kesempatan dimana diriku bisa berada dekat dengan dirimu lebih dari hitungan menit. Ya, di dalam kelas itu.

Sebelum bicara tentang alasan kedua, ada baiknya kita sedikit bernostalgia. Tentunya kita tahu tentang petasan. Dari berbagai jenisnya, yang unik adalah petasan cina. Yang kalau disulut tali apinya, benda itu meletup tak henti-hentinya. Mirip berondongan mitraliur AK-47. Dan bukan kebetulan, jika petasan ini bentuknya pun mirip pelor senapan serbu kebanggaan si Beruang Merah.

Tidak beda jauh petasan cina itu dengan dosen yang mengajar sore ini. Sedikit dipancing, maka dia akan berbicara tak keruan panjangnya. Tapi dibalik itu, aku bisa menyerap banyak-banyak ilmu dari berondongan kata-katanya yang kadang bikin kewalahan. Walau tak jarang aku harus membuka Tesaurus, mencari banyak arti kata yang tak kupahami. Yah, itulah alasan kedua.

Yang terakhir, juga alasan utama mengapa hari ini sangat distingtif. Sudah tak ada gunanya aku berlama-lama menyimpan kata itu. Tidak perlu seorang pakar semiotika untuk dapat membaca kesempatanku yang teramat tipis. Hei, setidaknya aku sampai juga di titik nadir ini bukan? Titik dimana selama ini aku selalu bergidik, meskipun sekadar membayangkannya.

Maaf, di kelas aku sedikit curi-curi pandang padamu. Karena hanya itulah caraku menumpuk keberanian. Oi, aku tidak mengada-ada. Memang seperti ini kenyataannya. Selalu berkeringat dingin saat berhadap-hadapan denganmu. Tidak jauh beda, saat akhirnya kesempatan itu datang. Ketika aku berdua-duaan denganmu.

Semua kejenakaan yang timbul dari segala kecanggunganku. Membuatku sedikit lega. Setidaknya, benak ini perlahan-lahan memperoleh kesadarannya kembali. Dan perlahan-lahan keringat dingin tersapu angin yang berhembus kencang di tepian pagar beton. Tempat dirimu bersandar, dan saat aku berusaha sekuat tenaga menatapmu. Dan perlahan, terbata-bata, kata itu akhirnya terucap.

Terima kasih, El. Setidaknya kau sedikit mengerti seberapa berartinya dirimu bagiku. Aku bersyukur, awal dari sebuah permulaan ini, kutapaki saat jalanku bertumbukan dengan jalan hidupmu. Saat aku mulai menjauhi masa seperempat abad.

Terima Kasih…..

Mei 12, 2009

Di Sela Pergantian Hari (Bagian II)

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 2:28 pm

(Bagian II : Putaran Waktu)

Sudah dua hari dan dua malam berlalu sejak aku bertemu denganmu. Masih tetap saja sama. Bumi masih terus berputar, walau sedikit merasa lelah. Hujan masih terus mendera permukaan tanah. Angin bertiup kesana-kemari semaunya. Begitu pula manusia di sekitarku. Seorang-seorang mereka datang, lalu pergi sekehendak hati. Beda halnya dengan perasaan rindu ini. Sial! dia tak pernah mau pergi.

Coba ceritakan padaku, El, seperti apa kota mungil tempat asalmu itu? Seperti apa senja disana. Adakah lembayung menghiasi cakrawala senja seperti di pantai waktu dulu itu? Saat pertama kalinya wajahmu selalu menghantui benak kalut ini. Apakah pinus-pinus yang menjulang tinggi itu masih berjajaran di sepanjang tebing di pinggiran kota? Seperti yang aku lihat saat terakhir melintas, membelah kota Magelang.

Apa yang kau lakukan disana? Di sela-sela perputaran waktu. Saat jam berganti jam dan menit berlalu disambung menit berikutnya. Diantara pergantian detik yang ditandai oleh jarum jam panjang itu.

Dan saat kau terlelap di malam hari. Saat cahaya si rembulan menghiasi genting-genting diatas kamar tidurmu. Saat jengkerik-jengkerik malam melantunkan lagu tidur. Saat kunang-kunang menyinari dinding-dinding kamar. Saat ramai jalanan yang tiba-tiba berubah menjadi senyap. Apa dirimu masih merasakan putaran waktu yang semakin menua ini?

Baru sadar, sudah seminggu belakangan ini aku terjangkit insomnia akut. Kadang kala membuatku lupa, berapa bungkus sigaret menthol ini habis kuhisap. Berkilo- kilometer jalanan Yogya yang kutempuh menghabiskan malam.

Dari pagi yang cerah, ke pagi berikutnya. Dari temaram malam, ke malam berikutnya. Entah sampai berapa putaran waktu yang terlewati. Akan kutemukan keberanian itu. Sebelum kau semakin menjauh dari diriku. Sebelum nanti aku akan menyesali ketakutanku.

Secepatnya…..

I guess you’ve heard, I guess you know
In time I’d have told you, but I guess I’m too slow.
It’s overly romantic but I know that it’s real
I hope you don’t you mind if I say what I feel.
It’s like I’m in somebody else’s dream,
This could not be happening to me.

[Chorus:]
But you were there, and you were
everything I’d never seen.
You woke me up from this long and endless sleep.
I was alone.
I opened my eyes and you were there.

Don’t be alarmed, no don’t be concerned.
I don’t want to change things
leave them just as they were.
I mean nothing’s really different
It’s me who feel strange.
I’m always lost for words when
someone mentions your name.
I know that I’ll get over this for sure
I’m not the type who dreams there could be more.

Can I take your smile home with me,
or the magic in your hair?

The rain has stopped, the storm has passed
Look at all the colors now the sun’s here at last.
I suppose that you’ll be leaving but I want you to know
Part of you stays with me even after you go.
Like an actor playing someone else’s scene
This could not be happening to me.

You Were There. Composed & Performed by : Southern Sons

Di Sela Pergantian Hari (Bagian I)

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 2:25 pm

(bagian I : Sisa Kepak Bidadari)

Hari sudah berganti nama lagi. Dan selalu saat semua manusia terlelap dibuai mimpi-mimpinya. Menggantungkan kenyataan, menyerahkan diri pada ilusi kuasi yang ditabur oleh dewa-dewi malam. Mendung tipis sisa hujan menyelimuti langit. Diatas sana, di selatan gugus Perseus dan Auriga, tampak Taurus sedang duduk termenung.

Langit sesorean tadi menangis. Satu bidadari terjatuh ke bumi. Diiringi tetesan air hujan dan gelegar petir. Kupido sudah terlalu dalam menusuk afeksi bidadari malang itu. Serpihan-serpihan sayapnya jatuh berderai dihembus angin kencang. Hatinya yang rapuh itu retak, pendar-pendar sinarnya pun mulai meredup.

Dia tersedu sendirian malam ini. Merajut sisa-sisa kepaknya. Sesekali dia mencoba terbang kembali ke langit. Melompat kesana kemari, merintih lirih menahan sembilu. Tangannya terangkat keatas, berusaha menggapai langit nun jauh disana.

Dia melangkah perlahan. Tatapannya nanar, matanya yang memerah basah mencoba menatap menembus gulita malam. Luh-nya menetes, meninggalkan jejak-jejak di antara genangan air. Kunang-kunang menyala seperti lampion mungil berjajar. Menerangi ayunan layu kakinya yang terbata-bata. Sementara tangannya terus memeluk dada, mencoba memberi kehangatan pada hatinya yang semakin dingin.

Di langit sana, pelan terdengar gelak tawa para dewa. Ketawa-ketiwi renyah sekumpulan bidadari yang genit. Dayang-dayang menari, meliuk menghibur dewa-dewa. Venus si dewi cintapun malam ini hanyut dalam gemerlapnya keramaian. Semua mabuk oleh anggur Dionisius.

Sekali ini dia mencoba untuk terbang lagi. Sekumpulan rama-rama yang iba mencoba mengiring kepakan sayap . Kali ini dia mencoba menggapai bintangnya. Bintang yang sedianya akan dipersembahkan si Kupido padanya. Dan bintang itupun kini tak bernama.

Yes, you know inside
When it’s time to shed a tear
Know in your heart and believe it
Love is standing near

Yes, you know inside
Only time will see ya clear
Know in your heart and believe it
Love is standing near

Love Is Standing Near. Performed & Composed by : Night Ranger

Mei 5, 2009

Seekor Merpati Putih Yang terbang Di Malam Hari

Filed under: Di Sela Pergantian Hari,Uncategorized — by arakabangan @ 1:34 pm

Malam mulai beranjak tua. Tik-tok-tik-tok,bunyi jam dinding itu. Terus berputar tak mengenal henti, seperti kereta tanpa tujuan pasti. Kedai masih setengah penuh, di ujung pintu masuk orang ramai bergerombol bermain kartu, tak lupa menenggak sebotol arak. Dari sepasang speaker di atas kasir sayup-sayup terdengar lantunan “Hysteria” dari Def Leppard. Sesekali suara tawa serak dari pemain-pemain kartu mengganggu irama lagu. Dia menyandarkan kepalanya yang terbungkus kupluk ke ujung atas sofa, sembari menghisap sebatang sigaret tanpa filternya dalam-dalam.

Sepatah-sepatah dia bercerita mengenai putaran kisah asmaranya. Tak lupa, secangkir kopi kental, pekat dan hangat dia teguk, menyempil diantara waktu saat dia bercerita. “Sudah seminggu ini aku sengaja tidak meminum kopi”, begitu katanya. Lagu berganti lagu, orang datang dan pergi, dan waktu tetap saja berjalan dengan asyiknya. Hingga saat tinggal kami berdua dan tiga orang penjaga kedai yang tersisa disitu. Tak terasa sudah sepiring nasi dan mie goreng, segelas es teh pahit, segelas kopi, dua gelas air putih dan empat bungkus kacang bawang kami lahap. Semua habis di sela-sela perbincangan dan gurauan-gurauan ringan namun bermakna malam ini.

Usai dari kedai itu, kami berdua melaju berboncengan diatas motor bebek tua dengan ban belakang yang agak kempis menahan berat badan. Yogyakarta di waktu pertiga malam itu teramat sepi, dan jalananpun lengang. Manusia-manusia malam merangkak ke dalam hangatnya selimut, perempuan-perempuan jalang mulai kembali ke peraduan, sedang si mucikari sedang sibuk menghitung pendapatan hari ini. Kecoak-kecoak, tikus-tikus got, semua berhamburan keluar menggantikan hiruk-pikuk kehidupan manusia. “Dunia mulai dipenuhi hingar-bingar jeritan manusia. Tapi sungguh indah sekali malam ini”, begitu kataku padanya. Dia terdiam di belakang, menahan kantuk.

Roda motor bebek tua itu masih terus berputar, tapi tidak terlalu kencang. Sungguh sayang jika malam ini hanya dilewatkan begitu saja, pikirku. Semua memori akan masa lalu, sekilas berkelebat satu-persatu. Bagaikan sebuah adegan film yang belum usai, mengambang dibuai oleh rapuhnya waktu. “Aku membayangkan, apa yang akan aku ucapkan saat aku berada di Madison Square Garden”, katanya saat kami tengah membelah kesunyian Malioboro.

Tidak usainya kita berdua malam itu menangisi masa lalu, bersama mencoba berdiri untuk hari ini, dan tak lupa sedikit berkhayal tentang masa depan. Dia, ya hanya dia malam ini yang menemaniku. Saat aku mencoba menata serpihan hati yang hancur berkeping dihantam kejamnya dewa-dewi malam. Dia yang keadaan hatinya tidak jauh berbeda dengan hatiku. Meskipun kami tidak pernah berbagi darah dalam sebuah pertarungan. Dia yang orang biasa panggil dengan sebutan Jampest, adalah seorang kompanyon, seorang kawan, juga seorang sahabat.

Seekor burung merpati putih tampak terbang diatas perempatan tugu. Gelapnya malam sudah hampir pudar disingkirkan sinar syamsu. Kami masih terus melaju, memacu motor bebek tua. Menembus nakalnya angin malam yang menusuk menembus tubuh. Terus dan terus berpacu ke arah sinar sang syamsu.

Don’t get too discouraged in this life,
It’s just a game, for now we play.
And soon or later things can work out right
This you must know, just wait and see
And after everything is said and done,
This can be another battle we have won.

Battle We Have Won. Composed & Performed by Eric Johnson

Mei 1, 2009

Malam Pergantian Bulan

Filed under: Di Sela Pergantian Hari,Uncategorized — by arakabangan @ 4:23 am

Malam ini bulan sudah berganti nama. Tepat jam dua belas, saat dentang-dentang lonceng mulai bernada. Tak lupa sekawanan jengkerik ikut bernyanyi berisik, mengkerik-kerik saling menyahut satu dengan lainnya. Si tokek pun seakan tak ingin kalah, dua belas kali dia memanggil-manggil namanya. Sayup-sayup aku mendengar kegaduhan semesta dari atas sini, diantara genting-genting yang ditumbuhi lumut, disini pula aku merebahkan diri mengiringi pergantian bulan.

Hei, tidak biasanya malam secerah sekarang ini. Hanya sedikit awan abu-abu yang menggantung di cakrawala hitam itu. Dan gemintang berkelip lentik, tersipu malu, disapuh awan yang tipis. Tunggu dulu, masih ada gugus bintang utara yang bersinar gagah di atas sana itu. Masing-masing berjajar rapi membentuk suatu pola yang indah. Apakah dari gugus itu juga, dewa-dewi malam turun ke bumi? Membagikan imaji yang tersaji dalam mimpi setiap manusia.

Kemarilah sejenak kalian hai dewa-dewi malam. Genting-genting lapuk masih cukup kuat jika hanya untuk menampung tubuh tak nyata kalian. Berceritalah padaku, bagaimana imaji-imaji mimpi itu tercipta. Maaf, aku tidak bisa menjamu kalian dengan segelas, apalagi sebotol arak. Tapi jika berminat, masih tersisa beberapa tetes air mata untuk kalian jilati. Eh, bukankah itu sajian favorit kalian.

Mimpi, ya terkadang siluetnya sungguh indah, pun menghanyutkan. Tak sungkan untuk membawa harapan kita terbang ke awang-awang. Aih, sungguh kejamnya kalian, hai dewa-dewi malam. Hendak kalian bawa kemana seluruh perasaan ini. Dan jika saja kalian hendak membawanya terbang, kumohon jangan terlalu tinggi. Sakit rasanya jika tiba saatnya untuk terjatuh lalu hancur berkeping-keping. Dan tentunya akan sulit bagiku untuk memungut, mengumpulkan serpihan-serpihan hati ini.

Tunggu sejenak, biarkan aku bertanya sebelum kalian pergi. Apakah yang sedang menjadi mimpinya di malam pergantian bulan ini?

it´s all because I love you
i´ve got so much to prove
it´s all because I love you
no matter what you do
and if we´re not together
well I´ll always be your friend
Uh huh That´s right baby,
cause it´s all about the love
yes it´s all about the love…
that I have for you

Beacuse I Love You. Composed & Performed by : T.N.T

April 29, 2009

Hujan Sehari Kemarin

Filed under: Di Sela Pergantian Hari,Uncategorized — by arakabangan @ 8:51 am

Tidak seperti biasanya, mendung masih menggantung sedari kemarin sore. Pun pagi ini. awan-awan hitam itu masih menggantung diatas sana. Jalanan masih dibasahi sisa air hujan sehari yang lalu. Kerikil-kerikil kecil yang berserakan sepanjang jalan itu warnanya pun masih hitam. Bukan air embun pagi yang menghitamkan warna batu yang biasanya kelabu itu. Tapi masih juga air hujan sehari kemarin. Dan sepeda ini masih kukayuh melaju menelusuri jalanan penuh lubang dan lumpur.

Aku masih teringat kata-kata yang diucapkan dari lidah si orang-orang bijak, kejarlah cita-cita itu setinggi apapun, sejauh apapun dan sesulit apapun. Tidak ada artinya jika dirimu menjadi seorang lelaki jika tidak mampu menuntaskan tekad yang sudah tertanam di hati. Tidak berarti pula jika seorang lelaki hanya mampu menahan pahitnya sebotol arak, tetapi dia tidak berani mencicipi getirnya kenyataan. Dan gigi-gigi yang tanggal karena pertarungan, perkelahian, semua itu tidak berarti apa-apa. Kulit-kulit yang tergores benda-benda tajam, itu hanya luka sementara yang pada akhirnya akan kusesali juga. Semua itu ibarat sebuah khayalan akan keberanian semata.

Oi, sungguh indahnya dirimu sore itu. Seandainya saja langit sore itu tidak digulung oleh mendung gulita. Tentunya cakrawala yang berwarna lazuardi akan merelakan dirinya kujadikan kanvas. Kulukiskan garis-garis siluet keindahan dirimu. Dan tak lupa kutuliskan semua alasan, mengapa diriku begitu inginnya berbagi hati dengan dirimu.

Tapi setidaknya, beri aku sedikit kesempatan untuk dapat menyelesaikan apa yang sudah kumulai ini. Jangan biarkan aku mengayuh langkah ini tanpa arti. Sebelum dirimu melangkah lebih jauh lagi. Sebelum kamu berlari menggapai apa yang sedang kau kejar saat ini. Juga sebelum kamu bahagia bersama dia. Aih, sungguh beruntungnya lelaki yang sedang kau cintai saat ini.

Saving my heart for you – You do what you want to do
There’s a place in my heart for you – This time I’m watching you
Till the blood in my veins run dry – I’ll be there to testify
There’s a place in my heart for you…

Saving My Heart, Composed by: Trevor Rabin, Performed by: YES.

Blog di WordPress.com.