Arak Abangan

September 26, 2012

Maaf, saya sedang jatuh cinta

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 6:28 pm
Tags: , ,

Ramai orang lalu lalang,

Di jejak waktu yang melintas dalam benak

Sambil duduk,

Satu persatu, aku menghitung kenangan tentang kamu.

Pertama,

Entah kenapa, aku selalu mencintai kamu.

Kedua,

Waktu bibirmu yang mungil mengecap marah.

Aku masih mencintai kamu.

Aku berhenti menghitung sebentar,

Membenahi duduk yang mulai ditiup angin.

Angin malam yang semacam lisoi-lisoi.

Lanjut.

Ketiga,

Waktu kamu menyuruh aku menjauh,

Aku masih mencintai kamu.

Keempat,

Waktu kita benar-benar jauh,

Aku masih mencintai kamu.

Kelima, keenam, ketujuh…. ke-entah sampai berapa

Aku masih mencintai kamu.

Ya, rupanya saya sedang jatuh cinta.

Sedjak 25 Maret 2010.

Iklan

September 24, 2012

Laki, Perempuan dan Senja

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 7:31 pm
Tags: ,

Ada seorang laki, dia selalu sendirian.

Menantang dunia, katanya.

Demi seorang perempuan, katanya

Yang dikasihi setengah mati, katanya.

 

Tapi si laki tak sadar,

 si perempuan juga sendirian

Si perempuan juga menantang dunia

 

Asal kau tahu, si laki pantang pergi

Sebelum mimpi terbenahi di ujung hari

Sebelum si laki lihat si perempuan menari-nari

Dan akhirnya selembar puisi mengantar si laki pergi dalam sunyi

 

Si laki masih bertahan dari pagi

Tak tahu sampai berapa waktu yang berlalu

Mungkin sampai senja menuntun mimpi pulang

Kedalam rahim yang jadi pintu masuk ke dunia

 

April 6, 2012

Lampu Kamar #2

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 8:27 pm
Tags: ,

Malam ini tidak sedingin kemarin, setidaknya di dalam kamarku. Tapi sedari jam duabelas tadi lampu kamar sudah kumatikan. Berharap agar hantu-hantu malam datang membawa sejumput mimpi. Aku tak ingin dia ketakutan mendekati kamar jika lampu masih menyala terang. Kau tahu kan, bagaimana hantu selalu ketakutan melihat cahaya.

Aku mencari-cari dari ingatan masa kecilku, yang semakin lama semakin diburamkan oleh usia. Tentang dongeng-dongeng menjelang subuh. Tentang waktu yang terus berlari mengejar akhir. Tentang masa yang terkikis sedikit demi sedikit dari genggaman.

Tapi dalam kesendirian di kamar ini, dalam dekapan malam dan gelap yang pekat. Waktu berjalan teramat lambat, tidak lebih cepat dari detak jam dinding kayu hitam yang aku titip darimu lebaran silam. Tidak ada nada staccato degup jantung yang biasa menemani mimipi menjelang subuh yang masih bayi.

Aku masih mencari kemana perginya angin malam yang kemarin mengantarkan dingin kedalam kamar. Menanti dia mengetuk pintu kamar yang kubiarkan terbuka lebar. Dan tiba-tiba aku dikejutkan oleh segala sesuatu yang menautkanku dengan dirimu. Mulai dari rindu, musim hujan hingga gelap malam.

Setidaknya aku sempat melihat nyala matamu yang teduh itu sore ini. Berpendar-pendar dari balik tawamu yang sederhana. Dan malam ini aku menyadari, perjalananku tersimpan didalam setangkup senyum yang kau lempar sore ini.

April 5, 2012

Lampu Kamar

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 9:33 pm
Tags:

Sudah dua gelas kopi kuhabiskan sampai jarum jam akan masuk ke bilangan dua ini. Aku tahu malam ini dingin menusuk tubuh-tubuh yang terlelap dalam kesunyian mimpi. Tapi sengaja kubiarkan dia membuatku menggigil, agar aku tak terlelap. Agar aku tetap terjaga sampai bis mengantarmu sampai perempatan itu. Agar nanti kau tak perlu menunggu terlalu lama, agar kau bisa segera jatuh kedalam pelukan peraduan.

Sedari pagi lagu “Take Away My Pain” masih menemani benakku yang selalu diganggu prasangka. Kali ini dia masih setia menunggu, melihatku yang tak bisa tenang. Berbaring, lalu terduduk, sampai berbaring lagi tanpa berani mematikan lampu kamar. Sebelum aku sadari musik sudah menyelamatkanku dari celaka prasangka. Puji Tuhan!

Tetiba aku teringat Marquez, si penulis dari Kolombia itu. Dia sering mengungkapkan kecintaannya pada musik. “Kutemukan mujizat bahwa segala sesuatu yang berbunyi adalah musik, mobil-mobil di jalan, klakson, suara-suara, segalanya”, begitu ujarnya. Aku merasakan kata-kata itu begitu dekat dengaku, aku hampir tak bisa melakukan apapun tanpa candu musik. Bahkan ketika aku merindukanmu. Merindukan dirimu yang sederhana itu. Yang selalu menghantui benakku, seperti segala musik yang aku candu.

Aku ingin mengabadikan nostalgia hari-hari kemarin dan sekarang, besok setelah aku pergi. Membekukannya, dan menaruh semua itu di ingatanku yang selalu kutata rapi. Agar nanti jadi mudah ketika aku ingin mengingat semua ini, terutama mengingatmu. Ketika kau mulai lupa untuk berkunjung pada mimpi-mimpi malamku.

Take away my pain
Let the cold inside
It’s time to let it rain
There’s nothing left to hide
Take away my pain
I’m not frightened anymore
I’m learning to survive
Without you in my life
Til you come knocking at my door

(Take Away My Pain – Dream Theater)

Februari 5, 2012

Rindu Yang Sederhana

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 7:09 pm
Tags:

Buat aku jadi tidak ada,

seperti peri-peri malam yang menjaga dalam sunyi.

Membentangkan perasaan dalam batas ketidakpastian,

seperti saat kita sedang menghayati senarai yang bernama rindu.

 

Aku takkan biarkan dia membuncah,

Seperti vesuvius yang marah di tahun-tahun beribu-ribu lalu.

Semoga dia selalu disapuh hujan deras di bulan Januari,

Selalu berlarian seperti mimpi yang dengan gampangnya berpindah tempat.

 

Dan semoga rindu menemukan tempatnya disisimu,

Seperti aku yang akan selalu diam dan sesekali tersenyum jika kurasa perlu.

Aku tak berharap pada keajaiban-keajaiban,

Karena setiap aku hancur aku masih bisa berdiri sekuat batu gibraltar.

 

Semua ini sederhana saja,

sesederhana aku ingin selalu bersama kamu, walau sulit……

Gambar

Mei 31, 2011

Episode Tengah Malam #1

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 7:50 pm

Sudah dua malam terakhir saya terjaga sampai adzan subuh. Mencoba menyusun kata demi kata, sebuah kegiatan yang beberapa tahun terakhir saya tinggalkan. Saya bahkan tidak mampu menyelesaikan lebih dari dua paragraf, biar itu hanya sekadar tafsir sederhana dari hari yang belum sepenuhnya terlampaui. Apalagi menterjemahkan sikapmu yang berbolak-balik, ibarat sedang mencoba membaca arah angin musim kemarau yang naga-naganya mulai datang.

Sudah dua minggu berlalu, sejak terakhir mendung kedapatan rajin mencuri matahari. Salah satu hal yang saya sangat tidak suka sama sekali. Ya, saya terkadang benci ketika terbangun di pagi yang seharusnya secerah suara Sara Bareilles ketika menyanyikan “Uncharted”, alih-alih mendapati jendela berwarna abu-abu. Hei, bahkan saya juga sama sekali tidak menyukai warna abu-abu. Tidak ada satu hal yang bisa saya tafsir, bahkan jika saya harus memandanginya seharian penuh.

Sudah hampir enam bulan berjalan sejak saya menembus batas ketidaktahuan. Sebuah perasaan yang menurut hemat saya sederhana saja. sesederhana ketika angin meniup daun-daun kering, yang memang sudah saatnya berpisah dari tangkai. Sesederhana ketika seseorang bertanya pada diri sendiri, “apakah saya sedang jatuh cinta?”.

Sudah satu tahun lebih tiga bulan dari ingatan saya yang kabur dan susah pulang. Entah siapa yang berani mencurinya. Yang jelas dia lebih berani daripada diri saya, yang sampai saat ini tidak punya nyali untuk mencoba mencuri hatimu. Atau bahkan hanya sekadar melontarkan kata-kata gombal bin gambul seperti (alm.) Benyamin Sueb melontarkan rayuan di lagu “Hujan Gerimis”.

Ya, sudah satu jam belakangan saya kebingungan. Bingung mencari kemana perginya nyali saya.

I’m already out of foolproof ideas, so don’t ask me how to get started, It’s all uncharted, (Uncharted, Sara Bareilles)

November 16, 2010

“Aku Merasa Liar di hadapan Bocah-Bocah Kecil”

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 7:45 am
Tags: , ,

SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan mendadak ramai. Sejak diliburkan, kompleks sekolah ini menjadi barak pengungsian bagi penduduk sekitar Muntilan yang terkena dampak erupsi gunung Merapi. Ada lebih dari 1,500-an pengungsi, rata-rata dari daerah Sumber, yang eksodus sementara ke sekolah ini. Tak terkecuali bocah-bocah kecil, sekira 100-an anak di satu ruang kelas lantai dua, pada Rabu siang, 10 November 2010.

Bocah-bocah itu bernyanyi riang. Di tengah mereka tampak seorang perempuan, mengenakan kaos putih – ada coretan pensil warna bertuliskan public relation pada bagian punggung kaos – yang memberi komando. Sepasang matanya, tersembunyi di balik kacamata, memancarkan semangat. Cicilia Graita Purwa Amarta, atau akrab dipanggil Tata, perempuan kelahiran 28 Desember 1990 ini sudah lebih dari seminggu menjadi relawan. “Kebetulan aku alumni SMA Van Lith, jadi milih relawan di sini,” ujarnya.

Siang itu, dengan cuaca mendung dan hujan abu tipis, ada hiburan “Puppet Show” di posko SMA Van Lith. Ia dibawakan oleh sekumpulan pemuda kreatif yang biasa mangkal di daerah Sendowo, belakang Sekip Universitas Gadjah Mada. Bentuknya, sebuah pertunjukan drama boneka berwujud hewan yang cukup mengocok perut. Tata menjadi pembawa acara dadakan ini. Dia tampak berhasil membawa keceriaan pada bocah-bocah pengungsi. Sejak menempuh sekolah menengah pertama, Tata sudah aktif dalam kegiatan gereja yang berhubungan dengan pendampingan iman anak. “Dari situ aku jadi terbiasa berbaur dengan anak kecil. Selain itu, di depan bocah-bocah ini aku bisa menjadi liar mengekspresikan diriku.”

Terkadang, menurut Tata, menjadi relawan bukan hal mudah, “Terkadang capek dan jenuh menjadi relawan.” Di posko ini, ada sekira 50-an relawan. Ini jumlah yang masih terbilang kecil guna membawahi 1,500-an pengungsi. Namun Tata meyikapinya dengan bijak. ”Aku bisa jadi lebih peka terhadap keadaan. Selain itu bisa kumpul lagi dengan kawan-kawan waktu SMA dulu,” katanya.

Sekurangnya dua minggu sesudah letusan Merapi pada 26 Oktober lalu, saat erupsi besar kedua, semua kegiatan pendidikan di Yogyakarta diliburkan. Tata, sekarang mahasiswi Universitas Atmajaya jurusan komunikasi, juga ikut libur. Saat sebagian besar kawannya mengungsi ketakutan, atau memilih pulang kampung karena keluarga mereka juga cemas, Tata memilih untuk bantu pengungsi yang notabene kehilangan rumah dan mata pencaharian.

Di bekas sekolahnya ini, berjarak sekitar tujuhbelas kilometer dari puncak Merapi, dia masih bertahan layaknya relawan lain dari kalangan mahasiswa. Mereka saling berjibaku membantu kebutuhan pengungsi setiap hari. Tata berharap keadaan kembali normal dan pengungsi kembali pulang ke rumah.

“Harapanku sih, pengungsi bisa pulih secara psikologis,” tuturnya. (Ridhani Agustama)

Maret 25, 2010

14 Maret

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 11:55 am

Sore itu langit menguning. Dari ujung cakrawala timur sampai ke barat, menguning semua-muanya. Jajaran lansekap sawah pun ikut jadi kuning warnanya. Tidak seperti kemarin-kemarin, saat halilintar menggelegar menjajah angkasa yang gelap. Sekarang semua jadi sunyi ditelan heningnya langit. Hanya suara segerombolan tumbuhan padi yang berdesir ditiup angin sepoi-sepoi.

Sungguh, ini adalah keadaan yang membuatku jadi tenang. Tidak hanya sekadar tenang, terkadang sampai membawa pikiran melayang. Ibaratnya ekstasi yang menstimulasi semua bulu kuduk hingga merinding. Membuka semua pori-pori dan membiarkan angin sore yang hangat itu merasuk ke dalam aliran syaraf.

Dan kurasa keadaan itu pula yang membawaku kembali pada sepuluh tahun silam. Di sekitaran tanggal dan bulan yang sama. Kira-kira tiga atau empat hari sebelum tanggal empat belas Maret. Selalu dalam keadaan panik. Kebingungan kesana-kemari, bertanya pada siapa saja. “Apa yang sebaiknya kuberikan pada dia di hari ulang tahunnya ini?”

Yap, besok adalah hari jadimu. Hari yang selalu berulang sekali setiap tahunnya. Hanya sekadar menandakan perputaran umur, yang semakin hari semakin banyak jumlahnya.

Sebenarnya aku ingin membunuh semua kenangan (yang kurasa)memalukan tentang tanggal 14 Maret itu. Atau setidaknya kubuang jauh-jauh, biar dia mencair seperti perasaan yang kadangkala berubah seenak udelnya sendiri.

Reflections in my mind, thoughts I can’t define
My heart is racing and the night goes on
I can almost hear a laugh, coming from your photograph
Funny how a look can share a thousand meanings
Well-intended lies, contemplating alibies
Is it really you, or is it me I’m blaming
A distant memory flashes over me
Even though you’re gone, I feel you deep inside

Dance beneath the light with that look in your eyes

I can’t stop loving you, time passes quickly and chances are few
I won’t stop till I’m through loving you, girl

Toto – Stop Loving You

Juli 20, 2009

Di tepi trotoar, di tengah malam….

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 10:10 pm

Semalam aku bertemu dengannya. Entah sudah berapa purnama, sejak aku terakhir bertukar sapa dengannya. Dia masih tetap seperti itu. Belum berubah. Mungkin hanya selembar baju “baby doll” yang disambung dengan celana jeans berwarna biru muda itu yang baru kali ini kulihat. Alkohol yang ditenggak sama seperti terakhir aku bertemu, Absolut Vodka. Minuman keras favoritnya. Yang dari awal menggemari arak hingga sekarang pensiun menenggaknya, belum pernah sekalipun aku mencicipi. Mahal!

Di selasar swalayan mini itu dia duduk di lantai. Masih tergelak bersama karibnya sebelum mendatangi aku. Genggaman jabatan tangannya masih juga ringan, seringan bulu angsa yang tanggal sehelai. Tangannya yang putih ditumbuhi bulu-bulu hitam. Bibirnya yang tak bergincu itu belum berubah warnanya, merah jambu. Hanya sedikit menghitam, terlalu banyak menghisap sigaret. Bulu mata yang terjajar rapi, memayungi tatapannya yang sayu dan mulai memerah. Berdirinya sedikit sempoyongan, kakinya yang jenjang tidak jejak menghujam lantai selasar. Tubuhnya yang mungil itu seakan ingin terbang ditiup si angin malam.

Ada ruang kosong di tepi trotoar, di depan angkringan itu, agak jauh dari kebisingan. Kami duduk disana. Sementara dia langsung menyandarkan punggungnya di tiang listrik. Di tangannya sebotol vodka mahal yang tersisa seperempat penuh. Di teguknya sedikit-sedikit, hingga menyisakan tetesan-tetesan tak berarti. Dia lalu menyulut sebatang sigaret. Tak berapa lama terbatuk-batuk. Batuk yang ringan dan halus.

“Masih saja seperti ini, selalu aku yang memecah kebisuan”, dia berkata dengan nada sedikit kesal. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

Di jalan raya ini, sesekali pengendara motor melaju kencang menembus angin malam. Pengonthel sepeda berjalan perlahan, pedalnya berdecit tiap habis satu putaran. Lama, sebelum akhirnya dia menghilang di telan gelap malam.

“Kau masih ingat, rahasia-rahasia kecil yang selalu aku bisikkan perlahan di telingamu?”, dia berkata pelan. Aku menjawab, “Masih. Ada beberapa yang aku ingat”. Terdiam sejenak,“Lainnya, kurasa aku perlu membuka lembaran-lembaran ingatan lagi”.

“Baguslah kalau begitu. Masih ada ruang untuk kujejali dengan rahasia”, dihisap dalam-dalam sigaretnya. Lalu dilempar dan diinjak di aspal. Lalu menyulut sebatang yang masih baru. Dia selalu seperti ini saat bercengkerama. Membicarakan sesuatu yang akan selalu menjadi rahasia-rahasia. Yang pada akhirnya akan tuntas ditelan waktu.

“Sudah berapa lama kau berganti merk sigaret?”, aku bertanya. Kuambil sebatang sigaret yang masih terjepit oleh bibirnya. Lalu aku menghisapnya dalam-dalam. Tercium aroma alkohol. Rasanya dingin, seperti balsam. Sedikit pahit tercampur vodka yang menempel. Direbutnya kembali seigaret itu dari jemariku.

Sambil bersandar dia memandangku lama. Aku melihat tatapannya dari sudut mataku yang sebelah kanan. Dihembuskannya asap rokok ke arahku. Dia tertawa, lalu terdiam kembali.

“Apa menurutmu aku pantas untuk jatuh cinta?”, dia bertanya.

“Menurutmu sendiri macam mana?”, aku menimpali sekenanya.

“Entah, aku hanya merasa diriku tidak berhak untuk mencintai”

“Apa MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk itu?”, dia hanya terdiam. Tatapannya masih tertuju padaku. Kali ini aku balas memandangnya. Kulihat butiran-butiran air kecil menetes satu-persatu dari pelupuk mata.

“Tolong hapus air mataku ini, tanganku kotor”, dia memohon.

Air matanya masih saja meleleh. Beberapa sudah jatuh ke aspal, membentuk bercak-bercak hitam. Aku menyeka jejak-jejak air yang masih basah dan membekas dari mata hingga ke batas dagunya. Matanya terpejam, nafasnya yang dingin menyapu telapak tanganku.

“Sebuah pemikiran yang bodoh”, kataku.

Dia menangis tersedu kali ini. Orang-orang di angkringan melihat kami. Aku jadi agak rikuh juga, salah-salah bisa dikira yang tidak-tidak.

“Apa nasibku memang sesial ini?”, katanya lirih dan terbata-bata.

“Nasib bukan milik siapa-siapa, nasib hanya milikmu sendiri”.

“Sombong sekali dirimu berkata seperti itu”, nadanya sedikit meninggi.

“Tidak! aku hanya mencoba menjadi seorang realis”.

“Apa menurutmu diriku selama ini mencoba berlari dari kenyataan?”

Aku tidak menjawab, hanya membakar sebatang rokok menthol miliknya. Tatapannya semakin berkaca-kaca. Sejurus kemudian dia mencoba berdiri untuk kemudian terjatuh lagi.

“Duduklah dulu. Malam masih panjang. Burung-burung malam belum lagi pulang ke sarangnya”, aku menenangkannya. Dia terdiam kali ini, lama. Kusodorkan rokokku yang baru separuh terbakar itu padanya. Dia menggeleng.

“Tidak, tenggorokanku sudah mengering”, ujarnya.

“Semoga tidak dengan hatimu”.

“Masih belum akan mengering hatiku. Selama masih akan tercipta peristiwa-peristiwa yang akan menjadi rahasia antara aku dan kamu”, dia memaksa berdiri kali ini, sambil tangannya berpegangan pada tiang listrik. Perlahan tertatih-tatih dia berjalan ke arahku. Lalu menaruh kening di pundak kiriku dan berbisik lirih.

“Satu pertanyaan terakhir sebelum kau beranjak dari sini”,

Aku terdiam…..

“Sudah sekotor inikah diriku di mata orang?”.

Aku masih saja diam. Hanya kuraih kedua lengannya, dan kutegakkan berdirinya. Kuseka lagi bercak-bercak air matanya yang basah sebelum aku berhenti membantunya berdiri.

“Kurasa kotoran itu ibaratnya debu. Hanya sepintas lalu. Datang dan pergi, berganti-ganti. Dan semua orang pasti akan dihinggapi oleh si debu”, jawabku.

Kujabat tangannya dan kami berambus, melanjutkan sisa malam. Telepon bimbitku bergetar tanpa nada. Ada pesan singkat yang masuk. Terbaca di layar itu “Terima Kasih”.

4 – 7 – 2009

Blog di WordPress.com.