Arak Abangan

September 12, 2008

Epilog Sebuah Episode Kecil

Filed under: Surat Untuk Rie — by arakabangan @ 6:48 am
Tags:

Hai, selamat pagi. Indah bukan hari ini? Syamsu masih bersinar gagah, walau kadang di selimuti mendung perubahan musim. Tapi bukan wajahmu kan, yang dilukiskan awan putih di langit itu? tentu bukan. Tidak mungkin rasanya mega mampu melukiskan parasmu. Terlalu indah, atau bahkan mungkin terlampau tidak jelas. Hilang ingatankah aku, Rie? kurang mengerti diriku. Tapi satu yang kupahami, aku tidak pernah lupa.
Ingatanku ini bukan sesuatu yang sudah arkaik. Tapi sudah terlampau banyak hal yang menumpuk dan tak terselesaikan di dalamnya. Sampai-sampai mulai usang, atau bahkan berkarat. Semua peristiwa terjajar tak teratur, bagaikan fragmen-fragmen dalam suatu telenovela murahan yang tak ber-epilog. Karena siapa semua ini terjadi? tentu saja diriku. Dan belakangan aku mahfum, bukan hal yang mudah untuk men-defragmentasi ulang ingatan ini.
Pernah kucoba untuk memangkas saja semua penggalan-penggalan ingatan itu. Kubuang jauh-jauh dari petak-petak memori. Tapi perlahan aku mulai merasa hampa. Dunia seperti suatu bilangan yang tak bernilai. Dan ternyata aku merindukan semuanya yang selalu membebani. Apakah diriku tidak pernah menyukai suatu kehampaan? Mungkin diriku terlalu takut? Bukankah kehidupan ini dimulai dan diakhiri dengan kehampaan? Apa bukan diriku sendiri yang menciptakan suatu kehampaan?
Dan bagaimana kebodohan-kebodohan macam itu bisa tumbuh? Tentunya karena kehampaan itu tadi, rie. Dan kurasa bukan diriku saja yang mencintai kehampaan. Semua manusia menggemarinya,rie. Manusia memuja kehampaan seperti mereka memuja keburukannya masing-masing. Semuanya takut untuk mencari kebenaran, karena terlalu berat untuk ditanggung resikonya. Kebenaran itu selalu menggoda, rie. Tapi tak jarang, kebenaran juga yang mengembalikan manusia pada kehampaan.
Itulah mengapa tidak ada seorang pun di dunia ini, yang berani menyatakan dirinya sebagai manusia super sang pembela kebenaran. Mengapa justru yang muncul hanyalah pembela kebetulan. Dan seandainyapun mereka membela kebenaran, mengapa mereka tidak memilih untuk membela yang tidak benar? Mengapa mereka tidak memilih suatu ketidakpastian untuk dibela? Mengapa mereka tidak mencoba mempertemukan pertanyaan dengan tanda tanya?
Seorang pemikir hebat pernah berkata, kita tidak berkeberatan terhadap suatu penilaian karena penilaian itu salah. Memang benar seperti itulah kenyataan di dunia ini. Seandainyapun salah tentunya akan banyak manusia yang kaya-raya dan berkecukupan hidupnya akan membunuh dirinya sendiri. Lagi-lagi kita terbentur pada kenyataan bahwa kita hidup dalam dunia fiksi yang logis.
Dunia ini adalah sebuah kisah yang sudah berumur jutaan tahun. Begitu panjang rentang yang di lalui seluruh penghuninya. Tapi tidak ada satupun yang mampu memahami seluruh kisah yang terguritkan oleh pena sejarah. Bagaimanapun indahnya prosa-prosa yang tercipta dari logika manusia itu. Karena setiap manusia-manusia muda akan selalu merasa bahwa dunia ini adalah hal baru baginya.
Entah aku menyadarinya atau tidak, sepotong-sepotong fundamen dari pikiran ini mulai tumbang. Beriring dengan tumbuhnya ion-ion dari fondasi haluan yang aktual. Tapi tidak seperti itu dengan sebuah afeksi. Karena hingga saat ini belum kutemukan sesuatu yang mampu membunuh afeksi, yang belakangan mulai terasa berkarat. Dewa-dewa pun, kurasa tidak memiliki kepiawaian untuk menyingkirkan suatu afeksi hanya dengan sekejapan mata saja.
Kurasa hati membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan suatu keadaan. Dan andai saja manusia tidak memiliki ego, tentunya akan menjadi mudah baginya untuk beradaptasi. Dan andai saja manusia tidak menghamba pada ego, tentu saja proses evolusi di dunia ini akan berjalan dengan singkat. Tapi tentu saja manusia tidak akan lengkap jika tidak memiliki ego bukan?
Tanpa itu semua, tentunya aku tidak akan pernah berani untuk mencoba mengakhiri sepenggal episode kecil ini. Sebelum terjebak dalam suatu labirin tanpa akhir. Hingga akhirnya diriku diperbudak oleh kehampaan yang diciptakan oleh diriku sendiri. Dan bukan seperti ini sebenarnya epilog yang kuimpikan, rie. Tapi rupanya ego juga yang menghalangi langkah itu kan, rie? Dan untuk fragmen berikutnya, rie, Semoga masih ada nukilan yang tersedia untuk membenahi jalan cerita ini.

I’ve been waiting, goin’ crazy
I can’t sleep when I know you’re not around
I’ve been saving what you’re cravin’
Look at my face I’m about to replace
Every hurt, every tear that you cry

Cause when you feel this strong and you can’t go on
There’s nothing wrong, just try to realize

You won’t ever have to say goodbye
You won’t ever have to say “I’ve wasted all my time”
If the dream you dream ain’t what it seems
Just look into my eyes
You won’t ever have to say goodbye

(Goodbye; Composed & Performed By Def Leppard)

Iklan

Juli 10, 2008

Surat Untuk Rie 4

Filed under: Surat Untuk Rie — by arakabangan @ 11:02 am

Takdir. Kau sering mensenandungkan kata-kata itu bukan, Rie? Apa menurutmu makna takdir itu? Apa pula artinya bagi dirimu? Apakah dirimu mengimani takdir itu, Rie? Dan pernahkah kamu ingkari takdir itu? Semakin usang diri kita menata serpihan-serpihan bahtera hidup. Hanya untuk apa? Apakah hanya sekedar untuk tunduk pada takdir? Sesuatu yang bahkan setiap orang memiliki takrif berbeda-beda tentangnya.

Hidup itu misterius kan, Rie? Manusia akan menangisi, menertawakan, menyenangi, membenci bahtera hidup mereka. Apa yang akan mereka lakukan terhadap itu? Apakah menyerah begitu saja, yang kalau diibaratkan hidup ini hanya seperti mengantri pada sebuah loket di stasiun dengan tujuan entah kemana. Apa mereka akan terus mengais-ais makna melalui hikayat-hikayat kehidupan yang sudah usang. Atau bahkan memilih untuk mengakhiri hidup lebih awal karena kecewa dengan ketidak sempurnaan bahtera hidupnya?

Apakah dirimu merasa diriku terlalu banyak tanya, Rie? Atau dirimu merasa lebih nyaman kuberi pertanyaan semacam ini, daripada kuajukan satu pertanyaan yang mungkin akan membuatmu semakin menjauh dariku? Ironis, karena aku akan selalu bertanya dan bertanya kepada dirimu. Jangan bosan dulu, Rie, sebelum kuhidangkan pertanyaan puncak itu. Terserah nantinya akan kau muntahkan, kau ludahi, kau caci. Tapi simpan dulu semua itu untuk nanti.

Untuk sementara biar kujaga dulu api yang sudah sekarat ini agar tak padam diterpa angin-angin jahanam. Dan kubenahi pondasi perapiannya yang sudah hampir rubuh. Jangan pernah bertanya kenapa aku tidak bosan-bosannya melakukan semua ini. Ini sudah bagian dari takdirku, Rie. Ya, aku percaya bahwa takdir manusia adalah untuk berproses. Dan akan kuruntuhkan semua aral yang melintangi perjalananku. Itu juga berarti ketidak beranianku untuk menyajikan pertanyaan puncak itu di hadapanmu. Sudikah dirimu berbagi hati denganku?


I got to know right now
It’s got to be this time
I wanna show you how
Gonna make you change your mind
There’s an empty chair at my table
There’s an empty look in your eyes
Ooh, that’s right

I just happen to be a man
And you happen to be a woman
And we happen to be together
Try to stop this thing comin’

( Stand up, kick love into motion, Performed By:Def Leppard)

Februari 15, 2008

Surat Untuk Rie 3

Filed under: Surat Untuk Rie — by arakabangan @ 5:30 pm

12 – 2 – 2008

Prolog

Garden party held today,

Invites call the debts to play.

Social climbers polish ladders,

Wayward sons once again have fathers.

Edgy eggs and queing cumbers,

Rudely wakened from their slumber,

Time has come again for slaughter,

On the lawns by still ‘cam’ waters….

(“Garden Party”, performed & Composed by MARILLION)

Pesta sudah dimulai, Rie. Manusia-manusia di kampus mulai kebingungan mencari tempatnya, mencoba meraba-raba statusnya, dan mengira-ngira setinggi apa prestisenya. Orang-orang yang dulunya liar, pun kini sudah memiliki panutan. Kalau kamu pernah melihat film berjudul Killing Fields, mungkin nanti akan seperti itu keadaannya. Bedanya, yang akan kita lihat hanya pembantaian antar teman ataupun kawan.

Semua memberi pembenaran pada apa yang dilakukannya. Semua saling mengendalikan, menunggangi demi makbulnya kepentingan mereka. Diamnya mereka selama ini, kesabaran mereka membangun jerat-jerat yang tak kasat mata. Saat status quo mulai goyah, taring-taring mulai menajam. Menunggu untuk menerkam dan memangsa manusia-manusia yang tak berdaya.

Menyedihkan, saat mereka tinggal selangkah dari menemukan jati diri. Akhirnya tumbang setelah terawai oleh hipokrisi. Yang lebih memasygulkan lagi, para hipokrit itu bepumpun menjadi satu wadah. Kau tahu Rie, apa lagu yang akan mereka nyanyikan? Mereka yang menganggap dirinya bahadur itu?

I am your battle priest, show me allegiance. I am your battle priest, pledge to me defiance. Suffer my pretty warrior, suffer my fallen child. The time has come to conquer and, i`ll provide your end…. We march!!!* (“Market Square Heroes”, preformed & composed by MARILLION)

I. Ribang

Sudah lama, sejak terakhir aku bertemu kamu. Aku yakin, sedikit banyak alterasi terjadi pada dirimu. Kita manusia adalah penganut renaisans sejati bukan? Tidak ada yang bisa menyangkal itu kurasa. Apakah manusia akan mengingkari proses? Akan sangat munafik jika tidak bisa menerimanya.

Apa kabarmu kali ini? Apakah dirimu masih setia menata serpihan-serpihan teka-teki duniamu? Apa kau sadar, Rie, serpihan yang kau coba untuk rapikan itu akan selalu membidas. Ke atas dan ke bawah. Tak akan pernah berhenti berfluktuasi mengiringi jalannya sang waktu.

Kau mafhum akan kehadiran sang waktu bukan? Takutlah padanya, karena dia tidak akan menunggu manusia yang masih gemar hidup di masa lalu. Masa di mana tidak ada waktu. Masa yang sunyi, tak bernyawa, hanya dipenuhi bahana kesedihan pun tawa-tawa gembira. Masa lalu, Rie, akan selalu berakhir menjadi histeria, seindah apapun wujudnya, sesyahdu apapun melodinya.

Lalu apa guna manusia merindu? Apakah dengan merindu manusia akan menjadi munafik? Tidak Rie, itu hanya wujud afeksi manusia pada seseorang yang dikasihinya, dicintainya. Manusia yang sedang dirundung keinginan untuk membagi cintanya. Dan kurasa itu cukup untuk menjelaskan pada kompanyonku mengapa pelupuk mataku menghitam. Terlalu sering terjaga sehingga jarang terlelap.

When we touch, I just lost my self control. A sad sensation I can`t hide. To love Is easy, it ain`t easy to walk away. I keep the faith & there`s a reason why. No need to worry, no need to turn away, cause it don`t matter.. anyway….. I miss you in a heartbeat, I miss you right away, because it ain`t love if it don`t feel that way…. (“I miss you in a heartbeat”, performed & composed by Def Leppard)

II. Loyalitas & Komitmen

Dari dinding-dinding kamarku kadang terdengar suara-suara penuh tanya. Suara lolongan anjing pun terasa seperti requiem, menyambut kedatangan peri-peri malam. Semua menemani keterjagaanku, memandangi cakrawala hitam penuh gemintang dengan kirananya yang berbinar mungil.

Tapi saat aku bertanya pada mereka, untuk apa aku terlahirkan ke dunia ini? Mereka terdiam, tanpa suara. Tidak pun desisan nyamuk yang rutin mengganggu tidur, yang kurasa sudah jarang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan aku tidak merasakan jemariku melepuh tersulut bara sigaret yang semakin memendek.

Dalam kesunyian aku merasa takut. Dalam keheningan aku merindu. Buaian-buaian manja. Sandungan-sandungan penuh kasih sayang. Dari mereka yang berada di lingkar terdalam hidupku. Mereka yang pantas kuhargai dan kusanjung. Yang bahkan aku rela menyerahkan nyawaku, demi melihat senyum kebahagiaan tersungging di wajah mereka. Mereka yang dimana kuletakkan loyalitas dan komitmenku.

Dari Ayahku aku mendapatkan keteguhan hati dan sifat keras kepalaku. Hal itu yang membuatku mampu menentukan sikap. Pada Ibuku aku bisa berbesar hati menikmati hangat kasih sayangnya yang tak terbatas. Darinya aku diwarisi rasa cinta. Demi adik-adikku aku sanggup belajar untuk mencintai dan menjaga keseimbangan keluargaku. Karena keluarga Rie, asal-muasal kasih sayang itu. Dan semua didapat tanpa pamrih.

Kompanyonku Rie, tanpa mereka mungkin aku tidak akan pernah belajar menerima kenyataan. Kata-kata mereka, caci-maki mereka, itulah penjelmaan kasih sayang mereka padaku. Hanya mereka yang berhak menampar mukaku. Tamparan yang akan menjagaku sebelum tenggelam terlalu dalam menuju keterpurukan. Kompanyonkulah penjaga sejati bagi diriku. Begitu juga diriku bagi mereka.

Dan yang terakhir, juga paling berharga dalam hidupku, seseorang yang bersedia dengan ikhlas menyambut harapanku. Harapan untuk berbagi cinta denganku. Padanya aku akan memberikan separuh hatiku. Deminya aku akan mengakhiri pertanyaan-pertanyaanku. Karena aku yakin darinya aku menemukan jawaban-jawabanku. Sekadar dengan melihat ruku’-nya, sujudnya, aku merasa nyata. Kalaupun itu yang disebut cahaya, mungkin aku bisa mempercayainya. Dialah tujuan hidupku.

Kurasa sudah tidak perlu kujelaskan lebih lanjut lagi pada siapa aku berharap, yang akan kuberikan loyalitas dan komitmenku yang ketiga. Dengan bertingkah laku seperti ini padamu, kupikir sudah amat sangat jelas semua faal itu kutujukan padamu.

Ya, hanya untuk kamu Rie.

III. Epilog

Pereka cipta bahkan tidak bisa menjelaskan semua afeksi yang kutujukan padamu. Komposisi-komposisi berliku yang membawaku pada kesadaran saat ini. Rona-rona nurani yang semakin cemerlang. Semua terjadi bagai lantunan staccato irama-irama kehidupan. Menusuk tepat di sentral detak-detak nadi yang menghidupi manusia.

Mungkin akan lebih bijak jika kau tidak mencoba untuk mengerti alasanku bertindak seperti ini. Aku ini bebal pada kenyataan yang kini sudah terhampar jelas di hadapanku. Perlukah kita membangun ikrar dalam keadaan ini? Semua ada di tanganmu Rie. Karena aku tak (mungkin) bisa memadamkan api ini sendirian.

Desember 20, 2007

Surat untuk Rie

Filed under: Surat Untuk Rie — by arakabangan @ 8:57 pm

9 – 12 – 2007

Rie, Aku tadi siang melancong ke pantai pelelangan ikan, bersama kawan kawan. Ramai orang disana, berlalulalang, bersenda gurau dan bercengkerama. Pasar ikan penuh sesak orang tawar menawar mencari harga yang tepat. Sementara yang ditawar terbujur kaku, dengan mata melotot, dingin. Hanya bau amisnya yang tertinggal. Entah berapa kilo ikan yang kuhabiskan sore itu bersama para kompanyonku.

Eh, lucu juga kalau kupikir, pak nelayan bersusah – payah semalam suntuk begadang mencari ikan di laut lepas. Sementara angin selatan bertiup dengan kejinya menembusi tubuh tubuh rapuh dan legam itu. Kita hanya tinggal menikmati hasil tangkapan jala mereka sambil duduk dan bersenda gurau. Kalau saja aku bisa ikut merasakan ikhtiar mereka di laut, mungkin nikmatnya akan menjadi berlipat lipat tak terbayangkan. Seperti saat aku mengumpulkan keberanian untuk mengajakmu keluar hari sabtu kemarin. Hei, aku bisa bangun pagi hari itu…..

Setelah perutku ini kenyang penuh ikan aku mengimbit ke pinggir pantai. Aku rebahkan diriku di buritan sampan nelayan yang asak bau amis ikan dan keringat. Tahu tidak Rie, matahari sedang tersipu malu di balik awan tebal yang menggulung di langit. Siang itu hanya tersisa angin laut yang dingin, walau tidak sedingin di waktu malam. Mataku terpejam, sementara imajiku mendendangkan lagu “Babe” dari STYX yang kau putar sore itu di kamarku. Seolah – olah lirik lagu itu mengangankan ada dirimu disini. Egoiskah kalau seandainya aku berharap dirimu seperti itu juga?…

Kau masih ingat si Angga, Rie?. Dia sedang berlarian bertelanjang kaki kesana kemari. Dia melompati sampan sampan nelayan yang berjajar tidak begitu rapi dengan lincahnya. Kakinya meninggalkan jejak jejak mungil di pasir pantai yang penuh tebaran sampah dengan berbagai macam warna – warninya. Kuamati terus dirinya. Senyumnya tidak pernah berhenti mengembang seperti langkah kecil kakinya yang seperti melaju tanpa akhir. Dia bebas, Rie.

Aku beranjak dari sampan itu, lalu berdiri diatas pasir yang lembut dan rapuh ditimpa tubuhku. Aku ratakan pasir yang bergelombang tak teratur di bawah kakiku, hingga berbentuk persegi empat. Setelah kurasa cukup, aku mengambil setangkai ranting kering dan kuruncingkan ujungnya. Di ujung sebelah atas pasir yang aku ratakan tadi, aku mengukir namamu. Sedang di ujung sebelah bawahnya kuukir namaku sendiri. Di antara ukiran ukiran tadi kubuat sebuah gambar. Tidak begitu simetris memang, gambar itu. Tapi kurasa cukup jelas bagi siapa saja yang melihatnya, bahwa gambar itu berbentuk hati. Tak terasa sesimpul senyum mengembang dari bibirku.

Aku merasa seperti seorang anak kecil yang baru mengalami afeksi untuk pertama kalinya. Aku sendiri bingung, apa aku ini masih kanak kanak di dalam hatiku? Tapi kukira, bukankah kita semua anak atau budak dari kehidupan? Kita semua budak Rie, tapi budak yang merdeka. Budak yang bebas untuk menentukan hidup seperti apa yang akan kita hambakan. Jangan sampai kita menjadi munafik yang hanya bisa menjiplak, layaknya seonggok tubuh tak berjiwa.

Langit sudah beranjak gelap, lembayung perlahan lahan mulai surut di ufuk barat. Sang mega meneteskan air setitik demi setitik. Kami berlalu dari pesisir menuju lereng merapi. Holden merah tua itu melaju tersendat sendat didera hujan.

Air hujan merembes sedikit sedikit masuk ke dalam mobil. Aku mulai lukiskan lagi apa yang tadi kuukir di pasir pantai, tapi kali ini di batinku. Karena aku yakin, entah air hujan atau ombak pasang pasti telah mengikis habis ukiran yang kubuat tadi. Sambil kucoba pelan pelan membunuh hasrat untuk meminta imbalan, kalaupun bisa.
Di luar hujan masih saja deras. Orang – orang menepi, berlindung di bawah atap di pinggir jalan. Dari radio sayup sayup mengalun lagu dari YES, kusulut sebatang sigaret lalu kuhisap dan kuhembus asapnya pelan. Datar. Kering…….. (9.0.1.2.5)

If ever I needed someone,
You were there when I needed you.
You save me from falling,
Save me from falling.
I`m so in love with you…..
(Final Eyes, written by: Trevor Rabin, Tony Kaye, Jon Anderson & Chris Squire. Performed by:YES)

*Inspired by Pramoedya Ananta Toer Novel

PS: #Tulisan ini cocok dinikmati sambil mendengarkan beberapa rekomendasi lagu dibawah ini :
1.    YES – Final Eyes
2.    Marillion – No One Can
3.    Van Halen – Love Walks In
4.    STYX – Babe
5.    Slaughter – You Are The One
6.    Skid Row – I Remember You
7.    Journey – It`s Just The Rain
8.    Bad English – When I See You Smile
9.    Soendari Soekotjo – Nandang Wuyung
10.    Chrisye  – Seperti yang Kau Minta

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.