Arak Abangan

Februari 11, 2012

Aku Takut Lupa

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 8:33 pm
Tags:

Aku takut lupa,

Lupa bahwa bumi masih berputar sepengiringan tata surya.

Aku takut lupa,

Waktu masih berderap mengantar langkah sejuta manusia.

Aku takut lupa,

Malam masih menyimpan seribu hantu tak bernyawa.

Aku takut lupa,

Bahwa aku masih sering jadi seorang pelupa.

Aku takut lupa,

Lupa jika masih ada kamu yang aku cintai setengah mati.

Aku takut lupa,

Itu saja……

(OPRC, 2.54 pagi, 12-02-2012)

Iklan

Februari 10, 2012

Sebuah Metafora Tentang kamu

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 9:52 pm

 

Diantara lembaran-lembaran kertas yang putih mulus, yang tak berhias sekepingpun abjad. Di sela tumpukan metafora-metafora yang biasa menindih hari-hariku yang membosankan.Di tempat yang sama sekali belum pernah terpetakan oleh si pencatat waktuku sebelumnya. Disitu dirimu mengusik lamunanku.

Di ujung titik fokus lensa kamera yang mulai mengembun. Di kisi-kisi rana yang sedari kemarin mulai dihuni debu-debu nakal. Di ujung tombol pelepas rana yang hampir saja ku eksekusi. Dirimu mencuri fokus yang terkadang suka kabur itu.

Tapi tolong jangan kau tanyakan padaku alasan tentang maksudku kali ini. Karena sedikitpun aku tidak punya. Biar itu hanya sekadar cuilan-cuilan kata yang basi. Yang kutahu hanya dirimu meninggalkan jejak-jejak samar yang mengambang dalam mimpi ataupun setiap detak yang ditimbulkan oleh jantungku. Juga bisikan-bisikan kecil yang mengatakan dirimu sebanding dengan sakit yang akan kujalani.

Ah, seandainya saja kau tahu bagaimana jantungku saat itu berdebar. Lebih kencang dari dentuman bass drum Tommy Lee saat menggila di panggung bersama Motley Crue.

 

(Yogyakarta, 25 Maret 2010)

Maret 25, 2010

Sebuah metafor Tentang Kamu

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 12:20 pm
Tags: , ,

Diantara lembaran-lembaran kertas yang putih mulus, yang tak berhias sekepingpun abjad. Di sela tumpukan metafora-metafora  yang biasa menindih hari-hariku yang membosankan. Di tempat yang sama sekali belum pernah terpetakan oleh si pencatat waktuku sebelumnya. Disitu dirimu mengusik lamunanku.

Di ujung titik fokus lensa kamera yang mulai mengembun. Di kisi-kisi rana yang sedari kemarin mulai dihuni debu-debu nakal. Di ujung tombol pelepas rana yang hampir saja ku eksekusi. Dirimu mencuri fokus yang terkadang suka kabur itu.

Tapi tolong jangan kau tanyakan padaku alasan tentang maksudku kali ini. Karena sedikitpun aku tidak punya. Biar itu hanya sekadar cuilan-cuilan kata yang basi. Yang kutahu hanya dirimu meninggalkan jejak-jejak samar yang mengambang dalam mimpi ataupun setiap detak yang ditimbulkan oleh jantungku. Juga bisikan-bisikan kecil yang mengatakan dirimu sebanding dengan sakit yang akan kujalani.

Ah, seandainya saja kau tahu bagaimana jantungku saat itu berdebar. Lebih kencang dari dentuman bass drum Tommy Lee saat menggila di panggung bersama Motley Crue.

I don’t know but I think I maybe Fallin’ for you
Dropping so quickly, Maybe I should Keep this to myself
Waiting ’til I Know you better

I am trying Not to tell you, But I want to
I’m scared of what you’ll say. So I’m hiding what I’m feeling
But I’m tired of Holding this inside my head

Colbie Caillat – Fallin For You

Mei 5, 2009

Seekor Merpati Putih Yang terbang Di Malam Hari

Filed under: Di Sela Pergantian Hari,Uncategorized — by arakabangan @ 1:34 pm

Malam mulai beranjak tua. Tik-tok-tik-tok,bunyi jam dinding itu. Terus berputar tak mengenal henti, seperti kereta tanpa tujuan pasti. Kedai masih setengah penuh, di ujung pintu masuk orang ramai bergerombol bermain kartu, tak lupa menenggak sebotol arak. Dari sepasang speaker di atas kasir sayup-sayup terdengar lantunan “Hysteria” dari Def Leppard. Sesekali suara tawa serak dari pemain-pemain kartu mengganggu irama lagu. Dia menyandarkan kepalanya yang terbungkus kupluk ke ujung atas sofa, sembari menghisap sebatang sigaret tanpa filternya dalam-dalam.

Sepatah-sepatah dia bercerita mengenai putaran kisah asmaranya. Tak lupa, secangkir kopi kental, pekat dan hangat dia teguk, menyempil diantara waktu saat dia bercerita. “Sudah seminggu ini aku sengaja tidak meminum kopi”, begitu katanya. Lagu berganti lagu, orang datang dan pergi, dan waktu tetap saja berjalan dengan asyiknya. Hingga saat tinggal kami berdua dan tiga orang penjaga kedai yang tersisa disitu. Tak terasa sudah sepiring nasi dan mie goreng, segelas es teh pahit, segelas kopi, dua gelas air putih dan empat bungkus kacang bawang kami lahap. Semua habis di sela-sela perbincangan dan gurauan-gurauan ringan namun bermakna malam ini.

Usai dari kedai itu, kami berdua melaju berboncengan diatas motor bebek tua dengan ban belakang yang agak kempis menahan berat badan. Yogyakarta di waktu pertiga malam itu teramat sepi, dan jalananpun lengang. Manusia-manusia malam merangkak ke dalam hangatnya selimut, perempuan-perempuan jalang mulai kembali ke peraduan, sedang si mucikari sedang sibuk menghitung pendapatan hari ini. Kecoak-kecoak, tikus-tikus got, semua berhamburan keluar menggantikan hiruk-pikuk kehidupan manusia. “Dunia mulai dipenuhi hingar-bingar jeritan manusia. Tapi sungguh indah sekali malam ini”, begitu kataku padanya. Dia terdiam di belakang, menahan kantuk.

Roda motor bebek tua itu masih terus berputar, tapi tidak terlalu kencang. Sungguh sayang jika malam ini hanya dilewatkan begitu saja, pikirku. Semua memori akan masa lalu, sekilas berkelebat satu-persatu. Bagaikan sebuah adegan film yang belum usai, mengambang dibuai oleh rapuhnya waktu. “Aku membayangkan, apa yang akan aku ucapkan saat aku berada di Madison Square Garden”, katanya saat kami tengah membelah kesunyian Malioboro.

Tidak usainya kita berdua malam itu menangisi masa lalu, bersama mencoba berdiri untuk hari ini, dan tak lupa sedikit berkhayal tentang masa depan. Dia, ya hanya dia malam ini yang menemaniku. Saat aku mencoba menata serpihan hati yang hancur berkeping dihantam kejamnya dewa-dewi malam. Dia yang keadaan hatinya tidak jauh berbeda dengan hatiku. Meskipun kami tidak pernah berbagi darah dalam sebuah pertarungan. Dia yang orang biasa panggil dengan sebutan Jampest, adalah seorang kompanyon, seorang kawan, juga seorang sahabat.

Seekor burung merpati putih tampak terbang diatas perempatan tugu. Gelapnya malam sudah hampir pudar disingkirkan sinar syamsu. Kami masih terus melaju, memacu motor bebek tua. Menembus nakalnya angin malam yang menusuk menembus tubuh. Terus dan terus berpacu ke arah sinar sang syamsu.

Don’t get too discouraged in this life,
It’s just a game, for now we play.
And soon or later things can work out right
This you must know, just wait and see
And after everything is said and done,
This can be another battle we have won.

Battle We Have Won. Composed & Performed by Eric Johnson

Mei 1, 2009

Malam Pergantian Bulan

Filed under: Di Sela Pergantian Hari,Uncategorized — by arakabangan @ 4:23 am

Malam ini bulan sudah berganti nama. Tepat jam dua belas, saat dentang-dentang lonceng mulai bernada. Tak lupa sekawanan jengkerik ikut bernyanyi berisik, mengkerik-kerik saling menyahut satu dengan lainnya. Si tokek pun seakan tak ingin kalah, dua belas kali dia memanggil-manggil namanya. Sayup-sayup aku mendengar kegaduhan semesta dari atas sini, diantara genting-genting yang ditumbuhi lumut, disini pula aku merebahkan diri mengiringi pergantian bulan.

Hei, tidak biasanya malam secerah sekarang ini. Hanya sedikit awan abu-abu yang menggantung di cakrawala hitam itu. Dan gemintang berkelip lentik, tersipu malu, disapuh awan yang tipis. Tunggu dulu, masih ada gugus bintang utara yang bersinar gagah di atas sana itu. Masing-masing berjajar rapi membentuk suatu pola yang indah. Apakah dari gugus itu juga, dewa-dewi malam turun ke bumi? Membagikan imaji yang tersaji dalam mimpi setiap manusia.

Kemarilah sejenak kalian hai dewa-dewi malam. Genting-genting lapuk masih cukup kuat jika hanya untuk menampung tubuh tak nyata kalian. Berceritalah padaku, bagaimana imaji-imaji mimpi itu tercipta. Maaf, aku tidak bisa menjamu kalian dengan segelas, apalagi sebotol arak. Tapi jika berminat, masih tersisa beberapa tetes air mata untuk kalian jilati. Eh, bukankah itu sajian favorit kalian.

Mimpi, ya terkadang siluetnya sungguh indah, pun menghanyutkan. Tak sungkan untuk membawa harapan kita terbang ke awang-awang. Aih, sungguh kejamnya kalian, hai dewa-dewi malam. Hendak kalian bawa kemana seluruh perasaan ini. Dan jika saja kalian hendak membawanya terbang, kumohon jangan terlalu tinggi. Sakit rasanya jika tiba saatnya untuk terjatuh lalu hancur berkeping-keping. Dan tentunya akan sulit bagiku untuk memungut, mengumpulkan serpihan-serpihan hati ini.

Tunggu sejenak, biarkan aku bertanya sebelum kalian pergi. Apakah yang sedang menjadi mimpinya di malam pergantian bulan ini?

it´s all because I love you
i´ve got so much to prove
it´s all because I love you
no matter what you do
and if we´re not together
well I´ll always be your friend
Uh huh That´s right baby,
cause it´s all about the love
yes it´s all about the love…
that I have for you

Beacuse I Love You. Composed & Performed by : T.N.T

April 29, 2009

Hujan Sehari Kemarin

Filed under: Di Sela Pergantian Hari,Uncategorized — by arakabangan @ 8:51 am

Tidak seperti biasanya, mendung masih menggantung sedari kemarin sore. Pun pagi ini. awan-awan hitam itu masih menggantung diatas sana. Jalanan masih dibasahi sisa air hujan sehari yang lalu. Kerikil-kerikil kecil yang berserakan sepanjang jalan itu warnanya pun masih hitam. Bukan air embun pagi yang menghitamkan warna batu yang biasanya kelabu itu. Tapi masih juga air hujan sehari kemarin. Dan sepeda ini masih kukayuh melaju menelusuri jalanan penuh lubang dan lumpur.

Aku masih teringat kata-kata yang diucapkan dari lidah si orang-orang bijak, kejarlah cita-cita itu setinggi apapun, sejauh apapun dan sesulit apapun. Tidak ada artinya jika dirimu menjadi seorang lelaki jika tidak mampu menuntaskan tekad yang sudah tertanam di hati. Tidak berarti pula jika seorang lelaki hanya mampu menahan pahitnya sebotol arak, tetapi dia tidak berani mencicipi getirnya kenyataan. Dan gigi-gigi yang tanggal karena pertarungan, perkelahian, semua itu tidak berarti apa-apa. Kulit-kulit yang tergores benda-benda tajam, itu hanya luka sementara yang pada akhirnya akan kusesali juga. Semua itu ibarat sebuah khayalan akan keberanian semata.

Oi, sungguh indahnya dirimu sore itu. Seandainya saja langit sore itu tidak digulung oleh mendung gulita. Tentunya cakrawala yang berwarna lazuardi akan merelakan dirinya kujadikan kanvas. Kulukiskan garis-garis siluet keindahan dirimu. Dan tak lupa kutuliskan semua alasan, mengapa diriku begitu inginnya berbagi hati dengan dirimu.

Tapi setidaknya, beri aku sedikit kesempatan untuk dapat menyelesaikan apa yang sudah kumulai ini. Jangan biarkan aku mengayuh langkah ini tanpa arti. Sebelum dirimu melangkah lebih jauh lagi. Sebelum kamu berlari menggapai apa yang sedang kau kejar saat ini. Juga sebelum kamu bahagia bersama dia. Aih, sungguh beruntungnya lelaki yang sedang kau cintai saat ini.

Saving my heart for you – You do what you want to do
There’s a place in my heart for you – This time I’m watching you
Till the blood in my veins run dry – I’ll be there to testify
There’s a place in my heart for you…

Saving My Heart, Composed by: Trevor Rabin, Performed by: YES.

Maret 14, 2009

Surat Untuk Mama

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 5:20 am

Aku duduk di pelataran boardes kereta kelas bisnis itu. Suara gemeretak roda-roda baja sepur tidak pernah berhenti bersahutan sebelum masinis mengurangi kecepatan laju si kuda besi penenggak solar ini. Sebatang sigaret dengan filter masih menyempil di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah. Langit masih cerah sore itu, merahnya lembayung masih belum membahana di cakrawala sebelah barat.

Mama, aku masih ingat percakapan kita berbulan-bulan lalu. Kau meminta aku untuk pulang ke rumah. Katamu Kau sudah rindu dengan semua anak-anakmu. Maaf ma, aku baru bisa memenuhi permintaan mu sekarang ini. Kau tahu Ma, seperti kata orang, seorang lelaki sudah sepantasnya didewasakan di tengah liarnya kehidupan. Konon itulah yang membuat seorang Lelaki menjadi bijaksana.

Sejauh kaki ini melangkah, Ma, setiap jejak yang dibuatnya, setiap waktu yang hilang di injak kaki ini, setiap masa pula diriku melangkah semakin jauh darimu. Semua ibarat remedi untuk kerinduanku pada hangat pangkuan dan pelukanmu. Kau tahu Ma, detak jantung ini berdebar semakin kencang setiap saat diriku melangkah jauh meninggalkan ribaanmu.

Selama ini terlampau banyak perbedaan pandangan antara kita Ma. Tapi entah mengapa kau selalu berusaha untuk mengerti jalan pikiranku yang sudah terlampau rumit, bahkan untuk kupahami sendiri. Aku bisa saja salah Ma, tapi juga kadang aku bisa benar. Semua itu sangat nisbi untuk dapat kita mengerti. Dan tetap saja aku selalu menjadi penyebab dirimu menitikkan air mata. Tapi Ma, kau juga terkadang membuatku menangis. Berada jauh dari hangatnya hatimu Ma, ternyata sungguh sakit rasanya. Dan ini sudah terlampau lama.

Waktu terus berubah, dan waktu sungguh aneh Ma. Terus berputar, sementara manusia kelelahan mengikuti laju langkahnya. Setiap saat aku menjadi dewasa. Sudah ratusan bahkan ribuan kali pula kulihat wajahmu Mama. Semua menjadi semakin nyata di mataku.

Tanpa terasa langit di ujung barat mulai berubah menjadi merah jingga. Suara Adzan Maghrib mulai bersahutan dari setiap langgar di sepanjang jalur kereta ini. Kubayangkan dirimu saat ini sedang membasuh diri dengan air wudhu lalu sibuk membuka lipatan-lipatan rukuh putih berorak kembang-kembang kesayanganmu. Apa yang sedang kau doakan kali ini Ma?

Kereta masih melaju perlahan. Aku pulang Ma.

Hard To Find The Words

Mama sometimes I feel inside
There’s nothing I can say
Nothing I can do
Could ever match the love you gave
You taught me how to live
Told me walk before you run
And you were always there to pick me up
Everytime I’d have a fall

And mama I know there’s been times
When I didn’t always understrand
By and by we do some growing up
And it makes just a little more sense
But sometimes it’s hard to find the words
But I’ll do the best that I can
Thank you for the love mama
It’s what made this boy a man

I know the road’s been long
And I know you’ve seen some rain
Making the best of what we had
I never heard you complain
When I look in the mirror today
Wondering could I be as strong
Could I give as much to someone else
As you gave to your son

Composed & Performed by: Cinderella

Februari 14, 2009

Catatan kecil untuk Dee

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 11:15 am

Guratan-guratan karat menghiasi hampir seluruh permukaan mesin-mesin di pabrik gula itu. Sudut-sudut tembok kusamnya mulai di tumbuhi rumput benggala, tak luput pula pagar yang hampir roboh dirambatinya. Semua tampak rapuh dimakan umur yang semakin hari semakin menipis. Hanya sebuah cerobong yang menjulang diterpa cahaya lembayung senja tampak kokoh, seakan menolak mengikuti waktu.

Kau ingat Dee, setiap saat diriku dulu beranjangsana ke kediamanmu, bersenda gurau bertukar senyuman. Berdua duduk di teras menanti datangnya malam, menyambut bintang gemintang tanpa mencoba untuk menghitung jumlahnya. Sejauh mata kita memandang, hanya cerobong tua itu yang menghalangi pandangan. Dan baru kali ini aku kesampaian memandang dan menjamah dindingya yang retak dan lusuh.

Seandainya aku mampu, akan kuabadikan semua di waktu itu. Kurangkum menjadi sebuah reminisensi, tentang satu episode kecil dalam hidupku yang dapat terselesaikan. Walaupun hingga sekarang aku tidak mengerti apakah itu sebuah akhir yang menyenangkan? Apakah menyedihkan? Atau bahkan malah terlalu biasa untuk dapat menghantui ingatanku dan ingatanmu.

Lembayung mulai meredup dan hampir berubah menjadi kelam. Kurasa sudah saatnya aku beranjak dari tempat yang semakin hari semakin menua ini.

We’ve been apart a long time, it feels like years
the memories bring tears
good times, I think of all the good times
to keep my sanity ’til I get home
I know it’s not how we planned it, it’s crazy world out there
just hold on to the words we share
I’ll only be lonely for you
I’ll only be lonely for you
remember as life goes by, what we have will never die
I’ll always be waiting there for you
how long, it doesn’t matter how long
cause time can never take you from my soul – no

(Only Be Lonely: Composed by : Jeff Waters, Performed by: Annihilator)

Mei 28, 2007

Sepatu Converse Warna Putih

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 10:24 am

Rumah kawanku yang besar layaknya rumah kost itu berada di ujung gang yang gelap dan sepi. Di depannya ada lapangan yang sudah ditumbuhi ilalang setinggi lutut. Penerangan jalan tidak sampai ke depan rumahnya, keadaan itu membuatnya tampak gelap dan seram. Di ujung gang itu ada jalan menurun yang berujung pada tetumbuhan bambu yang lebat, dan kalau malam hari terlihat seperti hutan. Tak jarang kawan – kawanku sering ketakutan bila berkunjung ke rumahnya. Keluarga kawanku ini punya usaha katering, sehingga kalau kami berkumpul di rumahnya sering ada jajanan sisa katering disuguhkan pada kami. Tapi malam itu sesampainya aku disana ada pengecualian. Tidak ada suguhan jajanan, hanya dua gelas es sirup rasa jeruk untuk dua kawanku yang sudah tiba duluan, sedangkan untuk diriku hanya segelas air dingin. Aku maklum, mungkin karena memang malam ini bukan kumpul rutin membahas masalah radio kampus kami. Kami menunggu kawan – kawan sebelum berangkat berkunjung ke radio kampus lain. Setelah mereka tiba kami segera berangkat.

Ruangan yang tidak begitu besar itu memiliki dua pendingin yang posisinya berlawanan arah. Keduanya dinyalakan, tak heran jika jaket yang aku pakai tidak bisa menahan dingin. Dua buah meja ditaruh di pojokan, dan di atasnya dipenuhi oleh tumpukan – tumpukan barang. Tampaknya memang sengaja disingkirkan untuk tempat acara malam itu. Aku sengaja duduk di pinggir, agar bisa menyandarkan punggung yang berat ini ke dinding. Sementara kawan – kawan yang lain langsung menyatukan diri dalam lingkaran forum. Tak lama setelah kami mengistirahatkan pantat acara dimulai.

Malam ini dia terlihat sama saat melangkahkan kakinya melewati hadapanku, seperti minggu kemarin saat aku pertama bertemu dia. Celana yang sudah sobek di dengkulnya itu mungkin celana kesayangannya. Sering aku lihat dia menggunakan celana itu. Tubuhnya juga masih dihiasi dengan kaos warna putih, entah sama persis atau hanya mirip dengan yang dia pakai minggu kemarin, ataupun yang sering aku lihat dia pakai di foto – fotonya. Entah hanya perasaanku atau aku yang sedang mabuk, aku lihat dia malam ini sungguh indah. Duduk di sudut jauh sebelah kananku bersama kawan – kawannya, tak sadar sedang aku perhatikan.

Acara mulai terasa tidak kondusif, seperti debat antar pemuka agama paling kolot di muka bumi ini. Dua orang pertama mulai meninggalkan forum, meninggalkan masalah yang belum terselesaikan. Aku mulai merasa gerah, pengung dan kedinginan. Ingin keluar menghisap sebatang sigaret murahan tanpa filter, tapi satu – satunya pintu di ruangan ini seperti satu kilometer jauhnya. Aku kasihan juga dengan si ketua panitia, yang kawanku se kampus itu. Dia sedang dicecar oleh forum mengenai kebijakannya. Kuurungkan niatku keluar. Sementara di sudut sebelah barat ruangan ini, aku juga melihat dia mulai bosan dengan acara.

Jam sepuluh lebih lima belas menit malam acara bubar. Aku melangkah ke pintu keluar dan memakai sandalku. Aku lihat dia tepat berada di depanku sedang berjongkok menali sepatu converse warna putihnya. Ingin aku berbicara tapi kuurungkan niatku, terlalu ramai. Lagipula aku terlalu pengecut untuk punya keberanian berbicara dengannya. Kuputuskan menunggu kawan – kawan di samping taman, menyandarkan tubuh di pilar yang berwarna putih. Aku berlalu dari hadapannya begitu saja lalu menyulut puntung rokok sisa perjalanan tadi.

She`s A Rainbow

(Jagger/Richards)

She comes in colors ev’rywhere;
She combs her hair
She’s like a rainbow
Coming, colors in the air
Oh, everywhere
She comes in colors

She comes in colors ev’rywhere;
She combs her hair
She’s like a rainbow
Coming, colors in the air
Oh, everywhere
She comes in colors

Have you seen her dressed in blue?
See the sky in front of you
And her face is lik a sail
Speck of white so fair and pale
Have you seen a lady fairer?

She comes in colors ev’rywhere;
She combs her hair
She’s like a rainbow
Coming, colors in the air
Oh, everywhere
She comes in colors

Have you seen her all in gold?
Like a queen in days of old
She shoots her colors all around
Like a sunset going down
Have you seen a lady fairer?

She comes in colors ev’rywhere;
She combs her hair
She’s like a rainbow
Coming, colors in the air

Februari 27, 2007

Bapak

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 5:35 pm

Bapak adalah tipe seorang pekerja keras. Penuh ambisi. Mungkin itu sudah keturunan dari keluarganya di Banjarmasin sana. Konon dulu, katanya bapakku yang merupakan anak pertama, sering diajak oleh ayahnya yang seorang polisi untuk berburu macan. Biasanya mereka suka masuk kampung dan meninggalkan habitat aslinya untuk mencari makan. Pernah juga diajak memburu seorang residivis yang melarikan diri ke hutan belakang kampung Bapak. Pertama kali itu pula Bapakku merasakan memegang bedil karbin warisan sekutu. Entah bagaimana kelanjutannya aku tidak tahu, dia tidak pernah melanjutkan ceritanya. Dan yang jelas dia adalah seorang islam yang puritan. Sampai sekarangpun dia masih rajin ke masjid kampung kami yang berada di tengah kota. Kota yang terkenal dengan pabrik rokoknya. Pabrik yang menghidupi sebagian besar pekerja di kota ini. Saat sore jam pulang kerja, jalan-jalan di kota ini selalu dipenuhi oleh ibu-ibu yang menaiki sepeda jengki merk phoenix yang rata – rata berwarna biru tua. Bisa dipastikan mereka adalah pekerja di pabrik rokok tersebut. Tapi pertama kali aku merasakan nikmatnya rokok justru bukan produk dari pabrik tersebut. Terlalu mahal untuk anak kelas tiga SD yang sedang ingin mencicipi rokok untuk pertama kalinya.

Sore itu aku lihat Bapak & Ibu sedang berbicara di depan toko. Aku menghampiri mereka dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Ibu. Dari pembicaraan mereka aku tahu bahwa besok Bapak akan pergi ke Surabaya untuk kulakan. Memang biasanya saat akan menjelang bulan puasa toko kami banyak diserbu pelanggan yang ingin membeli peralatan muslim baru untuk dipakai saat lebaran nanti. Pernah sekali aku diajak oleh Bapak kulakan di Surabaya. Dan untuk pertama kalinya aku melihat sebuah pasar yang sangat besar dan penuh sesak. Orang – orang yang berlalu – lalang, kuli – kuli yang sedang mengangkut beban sebesar lemari, pedagang – pedagang yang berebut pelanggan, dan juga para koki sedang memasak masakan di warung – warung yang terletak di pinggiran sebelah luar pasar itu. Selesai kulakan Bapak biasanya membeli oleh – oleh lumpia basah khas pasar tersebut. Tapi karena itu adalah pertama kalinya aku ikut Bapak kulakan, dia mengajakku ke sebuah toko yang penuh berisi mainan dan menyuruhku untuk memilih salah satu. Aku memilih salah satu mainan berupa miniatur G.I Joe yang bisa digerakkan seluruh bagian tubuhnya. Entah berapa uang yang dikeluarkan Bapak untuk membeli mainan itu, yang jelas aku senang sekali. Selesai membeli mainan kami menuju ke depan pasar ke tempat mangkal angguna. Begitu banyak angguna yang mangkal di tempat itu, sampai jalan dibuat macet karena tidak teraturnya penataan parkir di tempat itu. Setelah mendapat harga yang cocok kami bergegas ke terminal. Selama perjalanan aku melihat berbagai macam gedung tinggi yang menghiasi pusat kota tersebut. Di perempatan angguna berhenti karena lampu merah, dan setelah lampu hijau kami masih belum bisa beranjak dari tempat itu karena jalanan penuh dengan kendaraan. Entah darimana datangnya, tiba – tiba ada sebuah mobil sedan warna hitam mengkilap berhenti di sebelah kiri angguna kami. Aku melihat ke dalam mobil tersebut, disana ada seorang pengemudi bertampang sangar. Di kursi belakang duduk seorang gadis berparas ayu yang kira – kira sebaya denganku sedang memeluk tas ransel yang berwarna biru muda. Aku terus memandanginya sampai akhirnya angguna mulai berjalan dan dia melaju dengan mobilnya lalu hilang ditelan kerumunan kendaraan. Tatapannya yang tadi diarahkan sekejap padaku sampai saat ini tak pernah aku lupa. Sampai di terminal setelah bapak membayar ongkos angguna, kami segera mencari tempat duduk kosong yang cukup untuk menampung kami berdua dan barang belanjaan Bapak. Karena kota kami tidak dilewati jalur utama yang membelah pulau jawa bagian timur, kami terpaksa menunggu. Bis yang langsung menuju kesana tidak banyak jumlahnya. Sambil menunggu bapak berkata dia ingin membelikanku benda yang sering dibicarakan oleh teman – temanku di sekolah. Benda yang kata mereka bisa membuat kamar menjadi sejuk atau bahkan sampai kedinginan. Teman – teman menyebutnya AC, begitu juga bapak. Setelah itu bapak menyuruh aku tinggal dan menunggu barang – barang hasil kulakan sementara dia pergi mencari AC tadi. Aku duduk di bangku kayu berwarna coklat kusam yang besinya sudah berkarat sambil memegangi barang belanjaan. Melihat orang – orang yang berlalu – lalang didepanku, segerombolan orang berwajah sangar dengan tangan yang dihiasi gambar dan tulisan yang tidak jelas. Aku cemas. Tapi agak lega juga setelah lima menit kemudian aku melihat bapak datang dari kejauhan sambil membawa tas kresek warna hitam. Aku senang. Bapak langsung duduk di sebelah kananku dan menyerahkan tas kresek berwarna hitam berisi bungkusan koran. Aku membukanya setelah meminta ijin pada Bapak. Setelah terbuka aku melihat benda berbentuk oval terbuat dari anyaman bambu dengan lukisan bunga terpampang di tengah – tengahnya dan di bawahnya ada pegangan dari kayu. Aku bertanya pada bapak, apakah benar ini mirip kipas hadiah dari pernikahan yang dia hadiri bersama ibu. Dia tersenyum, dan hanya berkata “mungkin hari ini bapak baru bisa membelikan ini, tapi kalau ada rejeki akan bapak belikan yang aslinya”. Dia mengusap rambutku lalu memelukku, hangat. Bis yang kami nanti akhirnya menampakkan wujudnya yang kumuh itu. Kami bergegas menaikinya, dan langsung menuju ke bagian sebelah belakang bis itu. Aku takut duduk di bagian depan bis yang gemar melaju kencang seperti alap – alap itu. Saat bis melewati daerah mojokerto Bapak sempat membeli onde – onde ceplus untuk Ibu di rumah. Ibu sangat menyukai makanan berbentuk bulat kecil seperti bola dengan wijen tertempel di sekelilingnya itu. Selebihnya selama perjalanan aku banyak tidur di pangkuan Bapak. Kadang sedikit terkejut karena bis suka mengerem secara mendadak. Tapi aku tetap merasa aman karena berada di pelukan bapak membuat aku nyaman.

Sesampainya bis di terminal aku dan Bapak menuju ke tempat penitipan sepeda. Di sana sepeda gunung warna hitam yang sudah agak berdebu karena seharian ditinggal tak terawat menanti dengan setia. Bapak duduk diatas sadel sambil mengayuh sepeda, sedangkan aku duduk di atas setang-nya. Barang belanjaan kami taruh di antara aku dan Bapak. Aku dan Bapak sangat menyayangi sepeda itu, karena satu – satunya alat transportasi yang kami punyai saat itu hanyalah sepeda warna hitam itu. Sepanjang perjalanan, di atas setang sepeda aku menceritakan pengalaman selama di Surabaya tadi kepada Bapak sampai akhirnya kami tiba di depan rumah. Malam itu Bapak langsung mendata barang belanjaan tadi dibantu oleh Ibu, biasanya sampai subuh datang. Aku di kamar langsung tertidur pulas karena terlalu capek untuk menemani mereka. Aku tak sabar untuk menceritakan pada kawan – kawan di sekolah tentang pengalamanku hari ini, dan juga tak sabar untuk memamerkan mainan baruku pada mereka. Dan bayangan gadis dalam mobil hitam tadi tetap tak bisa hilang, meskipun kesadaranku sudah hilang ditelan mimpi.

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.