Arak Abangan

April 9, 2011

Mixtape 09/04/2011 – Longing For Summer

Filed under: Mixtape — by arakabangan @ 6:03 am
Tags: , ,

– Bisa jalan-jalan dengan nyaman sejauh uang & badan mengizinkan adl alasan knp saya suka #MusimPanas

– Juga saya tdk perlu bawa pakaian & celana dalam bnyk, bwt ganti ketika kehujanan saat perjalanan #MusimPanas

– Saya tdk perlu khawatir kehujanan saat tidur di sembarang tempat ktk lelah saat travelling di #MusimPanas , plg cuma  takut dirampok saja 😀

– Resiko kena penyakit kulit krn basah kuyup kehujanan ktk travelling bs diminimalisir di #MusimPanas , plg cuman panuan  gara2 jrg mandi 😀

– Angin yg bertiup di #MusimPanas terasa lebih segar dibanding ktk musim penghujan. Kering, segar & tdk lembab. Krn lembab adl biang jamur 😀

– Mau di puncak gunung atau di bibir pantai, semua akan terlihat sama indahnya ketika disinari oleh matahari #MusimPanas

– Kau bs menikmati indahnya sunrise di pinggir pantai & sunset di puncak gunung hanya ktk langit #MusimPanas secerah kristal.

– Saya sangat merindukan duduk di pinggir pantai ktk #MusimPanas smbl mendengarkan lagu2 dari The Beach Boys

– Atau menikmati hiruk pikuk & carut marut kota di #MusimPanas sambil mendendangkan Bryan Adams menyanyian “Summer Of 69”.

– Mengutip perkataan (Alm.) Kasino dr WARKOP, “Wah bnyk 36b berserakan di pantai nih”. Hal itu hny bs terjadi di  #MusimPanas 😀

– Mangkanya, #MusimPanas cepatlah datang. Saya udah rindu travelling atau sekadar gowes dari jogja ampe Magelang  lg niiiih…. 😦

 

1. Bryan Adams – Summer Of 69

2. Pearl Jam – Go

3. Motley Crue – Home Sweet Home

4. AC/DC – Girls Got Rhythm

5. The Rolling Stones – Time Waits For No One

6. Blind Melon – Tones Of Home

7. Salty Dog – Just Like A Woman

8. Poison – Ride The Wind

9. Led Zeppelin – Going To California

10. YES – It Will Be A Good Day (The River)

 

Iklan

April 5, 2011

Detak Jantung Kota (Mixtape 05/04/2011)

Filed under: Mixtape — by arakabangan @ 11:04 am
Tags: ,

Kota satu dan lainnya akan selalu disatukan oleh macetnya jalanan, hiruk pikuknya manusia, panasnya siang dan juga basahnya hujan. Tapi bagiku setiap kota memiliki detak jantungnya sendiri. Wajah antara satu urban dengan urban lainnya akan selalu berbeda guratannya. Selalu berbeda rasanya menghabiskan malam di kota yang belum kita kenal. Itulah mengapa aku selalu ingin terbangun di kota yang berbeda setiap paginya.

1. YES – City Of Love

2. The Rolling Stones – (Walkin` Thru The) Sleepy City

3. First Signal – This City

4. Regina Spektor – Summer In The City

5. Brian Wilson – Saturday Morning In The City

6. Vandenberg – Lost In The City

7. Arena – The City Of Lanterns

8. Starship – We Built This City

9. How We Live – In The City

10. The VU – Keys To The City

Sunday morning mixtape (3/4/2011)

Filed under: Mixtape — by arakabangan @ 11:03 am
Tags: ,

Tidak ada pagi seindah minggu. Sejenak ketika terbangun dari tidur yang lelap, merasa seakan hari ini adalah hari yang bebas tanggungan. Beban? semua orang mengira aku hanya seorang pemalas yang menghabiskan waktu berselancar di dunia maya. Tidak, itu hanya sedikit katarsis yang kumiliki. Seorang teman pernah berkata, “Jalani hidup santai sepertiku, karena semua bebanku sudah kubuang jauh-jauh”. Ah, tidak ada yang akan terbebas dari beban, kukira yang ada hanya manusia tidak berani menghadapinya. Bukankah beban adalah salah satu hal yang membuat kita jadi manusia?

Yah, setidaknya mixtape ini bisa membantu sedikit meringankan tanggungan. Karena aku akan menikmatinya dengan memejamkan mata dan merebahkan badan diatas selembar kasur tipis yang membebaskanku dari dinginnya lantai.

1. The Beach Boys – Help Me, Rhonda

2. Herman`s Hermit`s – i`m Into Something Good

3. The Beatles – Rock and Roll Music

4. Crosby & Nash – Carry Me

5. The Rolling Stones – Beast Of Burden

6. The Ronettes – Walking In The Rain

7. Perry Como – Catch A Falling Star

8. Ade Manuhutu – Nona Anna

9. Panbers – Berdarmawisata

10. Rod Stewart – Every Picture Tells A Story

November 16, 2010

“Aku Merasa Liar di hadapan Bocah-Bocah Kecil”

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 7:45 am
Tags: , ,

SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan mendadak ramai. Sejak diliburkan, kompleks sekolah ini menjadi barak pengungsian bagi penduduk sekitar Muntilan yang terkena dampak erupsi gunung Merapi. Ada lebih dari 1,500-an pengungsi, rata-rata dari daerah Sumber, yang eksodus sementara ke sekolah ini. Tak terkecuali bocah-bocah kecil, sekira 100-an anak di satu ruang kelas lantai dua, pada Rabu siang, 10 November 2010.

Bocah-bocah itu bernyanyi riang. Di tengah mereka tampak seorang perempuan, mengenakan kaos putih – ada coretan pensil warna bertuliskan public relation pada bagian punggung kaos – yang memberi komando. Sepasang matanya, tersembunyi di balik kacamata, memancarkan semangat. Cicilia Graita Purwa Amarta, atau akrab dipanggil Tata, perempuan kelahiran 28 Desember 1990 ini sudah lebih dari seminggu menjadi relawan. “Kebetulan aku alumni SMA Van Lith, jadi milih relawan di sini,” ujarnya.

Siang itu, dengan cuaca mendung dan hujan abu tipis, ada hiburan “Puppet Show” di posko SMA Van Lith. Ia dibawakan oleh sekumpulan pemuda kreatif yang biasa mangkal di daerah Sendowo, belakang Sekip Universitas Gadjah Mada. Bentuknya, sebuah pertunjukan drama boneka berwujud hewan yang cukup mengocok perut. Tata menjadi pembawa acara dadakan ini. Dia tampak berhasil membawa keceriaan pada bocah-bocah pengungsi. Sejak menempuh sekolah menengah pertama, Tata sudah aktif dalam kegiatan gereja yang berhubungan dengan pendampingan iman anak. “Dari situ aku jadi terbiasa berbaur dengan anak kecil. Selain itu, di depan bocah-bocah ini aku bisa menjadi liar mengekspresikan diriku.”

Terkadang, menurut Tata, menjadi relawan bukan hal mudah, “Terkadang capek dan jenuh menjadi relawan.” Di posko ini, ada sekira 50-an relawan. Ini jumlah yang masih terbilang kecil guna membawahi 1,500-an pengungsi. Namun Tata meyikapinya dengan bijak. ”Aku bisa jadi lebih peka terhadap keadaan. Selain itu bisa kumpul lagi dengan kawan-kawan waktu SMA dulu,” katanya.

Sekurangnya dua minggu sesudah letusan Merapi pada 26 Oktober lalu, saat erupsi besar kedua, semua kegiatan pendidikan di Yogyakarta diliburkan. Tata, sekarang mahasiswi Universitas Atmajaya jurusan komunikasi, juga ikut libur. Saat sebagian besar kawannya mengungsi ketakutan, atau memilih pulang kampung karena keluarga mereka juga cemas, Tata memilih untuk bantu pengungsi yang notabene kehilangan rumah dan mata pencaharian.

Di bekas sekolahnya ini, berjarak sekitar tujuhbelas kilometer dari puncak Merapi, dia masih bertahan layaknya relawan lain dari kalangan mahasiswa. Mereka saling berjibaku membantu kebutuhan pengungsi setiap hari. Tata berharap keadaan kembali normal dan pengungsi kembali pulang ke rumah.

“Harapanku sih, pengungsi bisa pulih secara psikologis,” tuturnya. (Ridhani Agustama)

November 15, 2010

Fragmen #2

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 4:26 pm
Tags: ,

Aku masih tetap saja suka menyusuri aspal yang dingin dibalut udara keringnya sore. Saat langit tampak lapang, selapang dinding-dinding tua yang berjajar hampir di sepanjang jalanan kota Yogyakarta. Saat kendaraan bermotor berlalu lalang dan membuat debu beterbangan, berlagak seolah jalan adalah hutan dimana yang cepat dia yang menang.

Langit yang cerah itu masih tetap menjadi kanvasku. Terkadang aku masih suka melukiskan wajahmu di langit senja yang menguning. Menata awan sehingga dia membentuk siluet rambutmu yang panjang sebahu. Menggeser matahari sehingga pipimu nampak seakan merah jambu.

Biar kemarin-kemarin dia sering kubiarkan kosong atau setidaknya mendung mencurinya dariku. Dan kali ini aku lebih mawas diri. Rona langit yang sekuning hamparan gandum, tak akan membuatku terperosok lagi ke dalam selokan.

Ah, aku hampir saja terlupa sudah seberapa jauh roda sepeda menggelinding menyusuri aspal yang dingin, sedingin dedaunan kering yang terkapar lemas. Andai saja aku tak tersipu malu ditatap bayanganmu. Tanpa setau waktu aku tiba-tiba berhenti, duduk kelelahan di pinggir sungai diatas sebuah batu yang dengan congkaknya menahan laju air yang mengalir.

Me, and you.

God only knows it’s noz what we would choose to do.

(Us & Them, Composed by: Roger Waters & Richard Wright, Performed by: Pink Floyd)

Maret 25, 2010

Sebuah metafor Tentang Kamu

Filed under: Uncategorized — by arakabangan @ 12:20 pm
Tags: , ,

Diantara lembaran-lembaran kertas yang putih mulus, yang tak berhias sekepingpun abjad. Di sela tumpukan metafora-metafora  yang biasa menindih hari-hariku yang membosankan. Di tempat yang sama sekali belum pernah terpetakan oleh si pencatat waktuku sebelumnya. Disitu dirimu mengusik lamunanku.

Di ujung titik fokus lensa kamera yang mulai mengembun. Di kisi-kisi rana yang sedari kemarin mulai dihuni debu-debu nakal. Di ujung tombol pelepas rana yang hampir saja ku eksekusi. Dirimu mencuri fokus yang terkadang suka kabur itu.

Tapi tolong jangan kau tanyakan padaku alasan tentang maksudku kali ini. Karena sedikitpun aku tidak punya. Biar itu hanya sekadar cuilan-cuilan kata yang basi. Yang kutahu hanya dirimu meninggalkan jejak-jejak samar yang mengambang dalam mimpi ataupun setiap detak yang ditimbulkan oleh jantungku. Juga bisikan-bisikan kecil yang mengatakan dirimu sebanding dengan sakit yang akan kujalani.

Ah, seandainya saja kau tahu bagaimana jantungku saat itu berdebar. Lebih kencang dari dentuman bass drum Tommy Lee saat menggila di panggung bersama Motley Crue.

I don’t know but I think I maybe Fallin’ for you
Dropping so quickly, Maybe I should Keep this to myself
Waiting ’til I Know you better

I am trying Not to tell you, But I want to
I’m scared of what you’ll say. So I’m hiding what I’m feeling
But I’m tired of Holding this inside my head

Colbie Caillat – Fallin For You

14 Maret

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 11:55 am

Sore itu langit menguning. Dari ujung cakrawala timur sampai ke barat, menguning semua-muanya. Jajaran lansekap sawah pun ikut jadi kuning warnanya. Tidak seperti kemarin-kemarin, saat halilintar menggelegar menjajah angkasa yang gelap. Sekarang semua jadi sunyi ditelan heningnya langit. Hanya suara segerombolan tumbuhan padi yang berdesir ditiup angin sepoi-sepoi.

Sungguh, ini adalah keadaan yang membuatku jadi tenang. Tidak hanya sekadar tenang, terkadang sampai membawa pikiran melayang. Ibaratnya ekstasi yang menstimulasi semua bulu kuduk hingga merinding. Membuka semua pori-pori dan membiarkan angin sore yang hangat itu merasuk ke dalam aliran syaraf.

Dan kurasa keadaan itu pula yang membawaku kembali pada sepuluh tahun silam. Di sekitaran tanggal dan bulan yang sama. Kira-kira tiga atau empat hari sebelum tanggal empat belas Maret. Selalu dalam keadaan panik. Kebingungan kesana-kemari, bertanya pada siapa saja. “Apa yang sebaiknya kuberikan pada dia di hari ulang tahunnya ini?”

Yap, besok adalah hari jadimu. Hari yang selalu berulang sekali setiap tahunnya. Hanya sekadar menandakan perputaran umur, yang semakin hari semakin banyak jumlahnya.

Sebenarnya aku ingin membunuh semua kenangan (yang kurasa)memalukan tentang tanggal 14 Maret itu. Atau setidaknya kubuang jauh-jauh, biar dia mencair seperti perasaan yang kadangkala berubah seenak udelnya sendiri.

Reflections in my mind, thoughts I can’t define
My heart is racing and the night goes on
I can almost hear a laugh, coming from your photograph
Funny how a look can share a thousand meanings
Well-intended lies, contemplating alibies
Is it really you, or is it me I’m blaming
A distant memory flashes over me
Even though you’re gone, I feel you deep inside

Dance beneath the light with that look in your eyes

I can’t stop loving you, time passes quickly and chances are few
I won’t stop till I’m through loving you, girl

Toto – Stop Loving You

Juli 20, 2009

Di tepi trotoar, di tengah malam….

Filed under: Selingan — by arakabangan @ 10:10 pm

Semalam aku bertemu dengannya. Entah sudah berapa purnama, sejak aku terakhir bertukar sapa dengannya. Dia masih tetap seperti itu. Belum berubah. Mungkin hanya selembar baju “baby doll” yang disambung dengan celana jeans berwarna biru muda itu yang baru kali ini kulihat. Alkohol yang ditenggak sama seperti terakhir aku bertemu, Absolut Vodka. Minuman keras favoritnya. Yang dari awal menggemari arak hingga sekarang pensiun menenggaknya, belum pernah sekalipun aku mencicipi. Mahal!

Di selasar swalayan mini itu dia duduk di lantai. Masih tergelak bersama karibnya sebelum mendatangi aku. Genggaman jabatan tangannya masih juga ringan, seringan bulu angsa yang tanggal sehelai. Tangannya yang putih ditumbuhi bulu-bulu hitam. Bibirnya yang tak bergincu itu belum berubah warnanya, merah jambu. Hanya sedikit menghitam, terlalu banyak menghisap sigaret. Bulu mata yang terjajar rapi, memayungi tatapannya yang sayu dan mulai memerah. Berdirinya sedikit sempoyongan, kakinya yang jenjang tidak jejak menghujam lantai selasar. Tubuhnya yang mungil itu seakan ingin terbang ditiup si angin malam.

Ada ruang kosong di tepi trotoar, di depan angkringan itu, agak jauh dari kebisingan. Kami duduk disana. Sementara dia langsung menyandarkan punggungnya di tiang listrik. Di tangannya sebotol vodka mahal yang tersisa seperempat penuh. Di teguknya sedikit-sedikit, hingga menyisakan tetesan-tetesan tak berarti. Dia lalu menyulut sebatang sigaret. Tak berapa lama terbatuk-batuk. Batuk yang ringan dan halus.

“Masih saja seperti ini, selalu aku yang memecah kebisuan”, dia berkata dengan nada sedikit kesal. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

Di jalan raya ini, sesekali pengendara motor melaju kencang menembus angin malam. Pengonthel sepeda berjalan perlahan, pedalnya berdecit tiap habis satu putaran. Lama, sebelum akhirnya dia menghilang di telan gelap malam.

“Kau masih ingat, rahasia-rahasia kecil yang selalu aku bisikkan perlahan di telingamu?”, dia berkata pelan. Aku menjawab, “Masih. Ada beberapa yang aku ingat”. Terdiam sejenak,“Lainnya, kurasa aku perlu membuka lembaran-lembaran ingatan lagi”.

“Baguslah kalau begitu. Masih ada ruang untuk kujejali dengan rahasia”, dihisap dalam-dalam sigaretnya. Lalu dilempar dan diinjak di aspal. Lalu menyulut sebatang yang masih baru. Dia selalu seperti ini saat bercengkerama. Membicarakan sesuatu yang akan selalu menjadi rahasia-rahasia. Yang pada akhirnya akan tuntas ditelan waktu.

“Sudah berapa lama kau berganti merk sigaret?”, aku bertanya. Kuambil sebatang sigaret yang masih terjepit oleh bibirnya. Lalu aku menghisapnya dalam-dalam. Tercium aroma alkohol. Rasanya dingin, seperti balsam. Sedikit pahit tercampur vodka yang menempel. Direbutnya kembali seigaret itu dari jemariku.

Sambil bersandar dia memandangku lama. Aku melihat tatapannya dari sudut mataku yang sebelah kanan. Dihembuskannya asap rokok ke arahku. Dia tertawa, lalu terdiam kembali.

“Apa menurutmu aku pantas untuk jatuh cinta?”, dia bertanya.

“Menurutmu sendiri macam mana?”, aku menimpali sekenanya.

“Entah, aku hanya merasa diriku tidak berhak untuk mencintai”

“Apa MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk itu?”, dia hanya terdiam. Tatapannya masih tertuju padaku. Kali ini aku balas memandangnya. Kulihat butiran-butiran air kecil menetes satu-persatu dari pelupuk mata.

“Tolong hapus air mataku ini, tanganku kotor”, dia memohon.

Air matanya masih saja meleleh. Beberapa sudah jatuh ke aspal, membentuk bercak-bercak hitam. Aku menyeka jejak-jejak air yang masih basah dan membekas dari mata hingga ke batas dagunya. Matanya terpejam, nafasnya yang dingin menyapu telapak tanganku.

“Sebuah pemikiran yang bodoh”, kataku.

Dia menangis tersedu kali ini. Orang-orang di angkringan melihat kami. Aku jadi agak rikuh juga, salah-salah bisa dikira yang tidak-tidak.

“Apa nasibku memang sesial ini?”, katanya lirih dan terbata-bata.

“Nasib bukan milik siapa-siapa, nasib hanya milikmu sendiri”.

“Sombong sekali dirimu berkata seperti itu”, nadanya sedikit meninggi.

“Tidak! aku hanya mencoba menjadi seorang realis”.

“Apa menurutmu diriku selama ini mencoba berlari dari kenyataan?”

Aku tidak menjawab, hanya membakar sebatang rokok menthol miliknya. Tatapannya semakin berkaca-kaca. Sejurus kemudian dia mencoba berdiri untuk kemudian terjatuh lagi.

“Duduklah dulu. Malam masih panjang. Burung-burung malam belum lagi pulang ke sarangnya”, aku menenangkannya. Dia terdiam kali ini, lama. Kusodorkan rokokku yang baru separuh terbakar itu padanya. Dia menggeleng.

“Tidak, tenggorokanku sudah mengering”, ujarnya.

“Semoga tidak dengan hatimu”.

“Masih belum akan mengering hatiku. Selama masih akan tercipta peristiwa-peristiwa yang akan menjadi rahasia antara aku dan kamu”, dia memaksa berdiri kali ini, sambil tangannya berpegangan pada tiang listrik. Perlahan tertatih-tatih dia berjalan ke arahku. Lalu menaruh kening di pundak kiriku dan berbisik lirih.

“Satu pertanyaan terakhir sebelum kau beranjak dari sini”,

Aku terdiam…..

“Sudah sekotor inikah diriku di mata orang?”.

Aku masih saja diam. Hanya kuraih kedua lengannya, dan kutegakkan berdirinya. Kuseka lagi bercak-bercak air matanya yang basah sebelum aku berhenti membantunya berdiri.

“Kurasa kotoran itu ibaratnya debu. Hanya sepintas lalu. Datang dan pergi, berganti-ganti. Dan semua orang pasti akan dihinggapi oleh si debu”, jawabku.

Kujabat tangannya dan kami berambus, melanjutkan sisa malam. Telepon bimbitku bergetar tanpa nada. Ada pesan singkat yang masuk. Terbaca di layar itu “Terima Kasih”.

4 – 7 – 2009

Mei 29, 2009

Di Sela Pergantian (Hari Bagian III)

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 4:21 am

(Bagian III : Awal Sebuah Permulaan…)

Jarang sekali aku memulai tulisan dengan perana disore hari. Tapi, hei, kali in memang tidak seperti biasanya. Seperti tubuh yang mulai digerogoti insom akut. Belum lagi nikotin yang merasuk lewat asap menthol, seperti salvo meriam Si Jagur.

Belakangan ini, secangkir kopi pahit mulai berkawan karib dengan cacing-cacing dalam perut. Tak heran jika mereka juga mulai hobi begadang. Menemani mata yang sukar terpejam. Seringnya sampai muadzin masjid sebelah rumah mengumandangkan adzan Subuh. Sudahlah, aku sedang tidak berniat bercerita keabsurdan. Kali ini akan kututurkan sebuah dongeng yang bukan fiksi. Sebuah ihwal yang pada akhirnya membuat cacing-cacing perut protes. Tidak jarang mereka berdemonstrasi, menentang kebijakan makan sehari sekali. Yang buntutnya mulai jadi kebiasaan.

Mari kita mulai…..

Orang-orang ramai menapaki tangga. Satu persatu, dua berdua, tiga bertiga, mereka muncul dari belokan yang menyambung anak tangga. Dari yang perlente macam eksekutif muda, sampai yang mirip gelandangan pinggir jalan. Semua komplit. Beragam barang pula yang mereka tenteng di tangan. Dari rokok sebatang yang tinggal separuh, hingga yang membawa buku notes kecil. Malah membuatnya terlihat mirip Doraemon simpan pinjam (dalam bahasa jawa, jamak disebut bank thithil).

Ah, dari bawah sudah kudengar sayup-sayup suara canda tawa . Dan tidak salah lagi, memang itu adalah suaramu. Tidak ada di dunia ini yang bernada seperti itu. Satu-satunya yang memiliki suara beroktaf tinggi di lantai tiga gedung ini. Sesuatu yang semoga bisa kamu banggakan. Selain sebagai yang tercantik di kelas bukan? Aih, sungguh sayang saat dirimu melewatiku. Diriku terlalu takut untuk dapat menyambutmu dengan tatapan mata. Dan ya ampun, betapa tololnya aku melewatkan momen indah itu.

Ada tiga alasan mengapa diriku bersemangat mengikuti kelas Selasa sore ini. Pertama tentunya mudah untuk dipahami, dan tak perlu kuperinci. Karena kamu! Satu-satunya kesempatan dimana diriku bisa berada dekat dengan dirimu lebih dari hitungan menit. Ya, di dalam kelas itu.

Sebelum bicara tentang alasan kedua, ada baiknya kita sedikit bernostalgia. Tentunya kita tahu tentang petasan. Dari berbagai jenisnya, yang unik adalah petasan cina. Yang kalau disulut tali apinya, benda itu meletup tak henti-hentinya. Mirip berondongan mitraliur AK-47. Dan bukan kebetulan, jika petasan ini bentuknya pun mirip pelor senapan serbu kebanggaan si Beruang Merah.

Tidak beda jauh petasan cina itu dengan dosen yang mengajar sore ini. Sedikit dipancing, maka dia akan berbicara tak keruan panjangnya. Tapi dibalik itu, aku bisa menyerap banyak-banyak ilmu dari berondongan kata-katanya yang kadang bikin kewalahan. Walau tak jarang aku harus membuka Tesaurus, mencari banyak arti kata yang tak kupahami. Yah, itulah alasan kedua.

Yang terakhir, juga alasan utama mengapa hari ini sangat distingtif. Sudah tak ada gunanya aku berlama-lama menyimpan kata itu. Tidak perlu seorang pakar semiotika untuk dapat membaca kesempatanku yang teramat tipis. Hei, setidaknya aku sampai juga di titik nadir ini bukan? Titik dimana selama ini aku selalu bergidik, meskipun sekadar membayangkannya.

Maaf, di kelas aku sedikit curi-curi pandang padamu. Karena hanya itulah caraku menumpuk keberanian. Oi, aku tidak mengada-ada. Memang seperti ini kenyataannya. Selalu berkeringat dingin saat berhadap-hadapan denganmu. Tidak jauh beda, saat akhirnya kesempatan itu datang. Ketika aku berdua-duaan denganmu.

Semua kejenakaan yang timbul dari segala kecanggunganku. Membuatku sedikit lega. Setidaknya, benak ini perlahan-lahan memperoleh kesadarannya kembali. Dan perlahan-lahan keringat dingin tersapu angin yang berhembus kencang di tepian pagar beton. Tempat dirimu bersandar, dan saat aku berusaha sekuat tenaga menatapmu. Dan perlahan, terbata-bata, kata itu akhirnya terucap.

Terima kasih, El. Setidaknya kau sedikit mengerti seberapa berartinya dirimu bagiku. Aku bersyukur, awal dari sebuah permulaan ini, kutapaki saat jalanku bertumbukan dengan jalan hidupmu. Saat aku mulai menjauhi masa seperempat abad.

Terima Kasih…..

Mei 12, 2009

Di Sela Pergantian Hari (Bagian II)

Filed under: Di Sela Pergantian Hari — by arakabangan @ 2:28 pm

(Bagian II : Putaran Waktu)

Sudah dua hari dan dua malam berlalu sejak aku bertemu denganmu. Masih tetap saja sama. Bumi masih terus berputar, walau sedikit merasa lelah. Hujan masih terus mendera permukaan tanah. Angin bertiup kesana-kemari semaunya. Begitu pula manusia di sekitarku. Seorang-seorang mereka datang, lalu pergi sekehendak hati. Beda halnya dengan perasaan rindu ini. Sial! dia tak pernah mau pergi.

Coba ceritakan padaku, El, seperti apa kota mungil tempat asalmu itu? Seperti apa senja disana. Adakah lembayung menghiasi cakrawala senja seperti di pantai waktu dulu itu? Saat pertama kalinya wajahmu selalu menghantui benak kalut ini. Apakah pinus-pinus yang menjulang tinggi itu masih berjajaran di sepanjang tebing di pinggiran kota? Seperti yang aku lihat saat terakhir melintas, membelah kota Magelang.

Apa yang kau lakukan disana? Di sela-sela perputaran waktu. Saat jam berganti jam dan menit berlalu disambung menit berikutnya. Diantara pergantian detik yang ditandai oleh jarum jam panjang itu.

Dan saat kau terlelap di malam hari. Saat cahaya si rembulan menghiasi genting-genting diatas kamar tidurmu. Saat jengkerik-jengkerik malam melantunkan lagu tidur. Saat kunang-kunang menyinari dinding-dinding kamar. Saat ramai jalanan yang tiba-tiba berubah menjadi senyap. Apa dirimu masih merasakan putaran waktu yang semakin menua ini?

Baru sadar, sudah seminggu belakangan ini aku terjangkit insomnia akut. Kadang kala membuatku lupa, berapa bungkus sigaret menthol ini habis kuhisap. Berkilo- kilometer jalanan Yogya yang kutempuh menghabiskan malam.

Dari pagi yang cerah, ke pagi berikutnya. Dari temaram malam, ke malam berikutnya. Entah sampai berapa putaran waktu yang terlewati. Akan kutemukan keberanian itu. Sebelum kau semakin menjauh dari diriku. Sebelum nanti aku akan menyesali ketakutanku.

Secepatnya…..

I guess you’ve heard, I guess you know
In time I’d have told you, but I guess I’m too slow.
It’s overly romantic but I know that it’s real
I hope you don’t you mind if I say what I feel.
It’s like I’m in somebody else’s dream,
This could not be happening to me.

[Chorus:]
But you were there, and you were
everything I’d never seen.
You woke me up from this long and endless sleep.
I was alone.
I opened my eyes and you were there.

Don’t be alarmed, no don’t be concerned.
I don’t want to change things
leave them just as they were.
I mean nothing’s really different
It’s me who feel strange.
I’m always lost for words when
someone mentions your name.
I know that I’ll get over this for sure
I’m not the type who dreams there could be more.

Can I take your smile home with me,
or the magic in your hair?

The rain has stopped, the storm has passed
Look at all the colors now the sun’s here at last.
I suppose that you’ll be leaving but I want you to know
Part of you stays with me even after you go.
Like an actor playing someone else’s scene
This could not be happening to me.

You Were There. Composed & Performed by : Southern Sons

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.